Sejumlah
blok eksplorasi migas di Indonesia mulai ditinggalkan investor. Setidaknya
Total dan BP berencana akan mengembalikan blok-blok eksplorasi yang tengah
digarapnya. Jika ini berlarut-larut tentu saja akan membahayakan posisi
produksi Indonesia di masa mendatang.
Tingginya
harga minyak membuat sejumlah perusahaan menghitung ulang biaya investasinya.
Termasuk diantaranya memangkas pengeluaran yang dinilai tidak ekonomis dan
tentu saja proyek yang dianggap hanya akan memakan investasi besar, seperti
eksplorasi. Inilah yang menyebabkan dua perusahaan migas raksasa BP dan Total
mengembalikan tiga blok migas kepada pemerintah (relinquish) dengan alasan
tidak ekonomis.
Total
baru-baru ini me-reliquish Blok South West Bird's Head di
Papua. Sementara BP melakukan hal serupa pada blok West Aru I dan II di Laut
Arafura di Papua. Ketiga blok tersebut terletak di laut dalam yang tentu saja
membutuhkan banyak biaya. Tentu ini merupakan alarm buat pemerintah.
Lepas adanya dugaan bahwa itu terjadi karena
tekanan harga minyak, namun pemerintah harus mulai mawas diri. Bisa
dibayangkan, jika dua perusahaan migas raksasa sekelas BP dan Total saja bisa
melakukan hal tersebut, bagaimana dengan perusahaan kelas menengah dan kecil
lainnya? Dan jika ini terus terjadi maka masa depan migas Indonesia akan berada
dalam kegelapan.
Tanpa kegiatan eksplorasi, maka Indonesia akan
menjadi negara net oil importer yang
permanen. Pasalnya produksi migas yang saat ini hanya berada di kisaran
800.000an barrel per hari tidak mencukupi konsumsi domestik yang mencapai
setidaknya 1,3 juta barrel per hari. Jadi mau tidak mau untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri, pemerintah melalui Pertamina melakukan impor.
Masalahnya dari tahun ke tahun, laju penurunan
minyak (declining rate) Indonesia
mencapai sekitar 15%. Artinya produksi minyak nasional akan mengalami penurunan
alamiah setiap tahunnya. Untuk menjaga gap konsumsi dan produksi semakin besar,
mau tidak mau kegiatan eksplorasi harus ditingkatkan. Kalau tidak, mau tidak
mau angka impor akan semakin membesar.
Nah masalahnya kalau perusahaan kelas kakap saja menghentikan eksplorasi, maka bukan
tidak bukan mungkin akan ada blok-blok eksplorasi lain yang akan segera
direlinquish ke pemerintah dalam waktu dekat.
Memang diakui bahwa penurunan harga minyak yang
tajam di bawah angka US$60/barrel sangat meresahkan para investor. Pasalnya
angka tersebut membuat investasi di industri migas tidak menarik lagi. Apa yang
terjadi di minyak ini sedikit banyak mempengaruhi harga gas yang juga ikut
terpuruk.
Benang merah yang bisa kita ambil dari peristiwa
ini adalah bahwa industri migas adalah industri yang penuh resiko. Jangan
pernah berpikir bahwa ini adalah bisnis yang selalu menguntungkan. Segala
resiko, baik ketika gagal menemukan hidrokarbon di kegiatan eksplorasi, maupun
penurunan harga minyak dan gas, adalah resiko dari para kontraktor.
Ini pula yang akan dihadapi oleh sejumlah
perusahaan yang menyatakan minatnya di Blok Mahakam. Jangan pernah berpikir
mengelola Mahakam hanya akan mengeruk untung melulu. Ada saatnya untung menjadi
buntung karena harga gas yang turun drastis.
Nah, sudah siapkan mereka menanggung kerugian
jika harga gas dan LNG jeblok? Jangan sampai karena ketidakmampuan finansial
mereka yang memadai hanya akan mengganggu kesinambungan produksi Mahakam di
masa mendatang. Jadi, pikirkan baik-baik seluruh konsekuensi negatifnya sebelum heboh-heboh ingin menguasai
Blok Mahakam!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar