Selasa, 03 Februari 2015

Bahaya, Total dan BP Mulai Tinggalkan Blok Eksplorasi di Indonesia

Sejumlah blok eksplorasi migas di Indonesia mulai ditinggalkan investor. Setidaknya Total dan BP berencana akan mengembalikan blok-blok eksplorasi yang tengah digarapnya. Jika ini berlarut-larut tentu saja akan membahayakan posisi produksi Indonesia di masa mendatang.

Tingginya harga minyak membuat sejumlah perusahaan menghitung ulang biaya investasinya. Termasuk diantaranya memangkas pengeluaran yang dinilai tidak ekonomis dan tentu saja proyek yang dianggap hanya akan memakan investasi besar, seperti eksplorasi. Inilah yang menyebabkan dua perusahaan migas raksasa BP dan Total mengembalikan tiga blok migas kepada pemerintah (relinquish) dengan alasan tidak ekonomis.

Total baru-baru ini me-reliquish Blok South West Bird's Head di Papua. Sementara BP melakukan hal serupa pada blok West Aru I dan II di Laut Arafura di Papua. Ketiga blok tersebut terletak di laut dalam yang tentu saja membutuhkan banyak biaya. Tentu ini merupakan alarm buat pemerintah.

Lepas adanya dugaan bahwa itu terjadi karena tekanan harga minyak, namun pemerintah harus mulai mawas diri. Bisa dibayangkan, jika dua perusahaan migas raksasa sekelas BP dan Total saja bisa melakukan hal tersebut, bagaimana dengan perusahaan kelas menengah dan kecil lainnya? Dan jika ini terus terjadi maka masa depan migas Indonesia akan berada dalam kegelapan.

Tanpa kegiatan eksplorasi, maka Indonesia akan menjadi negara net oil importer yang permanen. Pasalnya produksi migas yang saat ini hanya berada di kisaran 800.000an barrel per hari tidak mencukupi konsumsi domestik yang mencapai setidaknya 1,3 juta barrel per hari. Jadi mau tidak mau untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah melalui Pertamina melakukan impor.

Masalahnya dari tahun ke tahun, laju penurunan minyak (declining rate) Indonesia mencapai sekitar 15%. Artinya produksi minyak nasional akan mengalami penurunan alamiah setiap tahunnya. Untuk menjaga gap konsumsi dan produksi semakin besar, mau tidak mau kegiatan eksplorasi harus ditingkatkan. Kalau tidak, mau tidak mau angka impor akan semakin membesar.

Nah masalahnya kalau perusahaan kelas kakap  saja menghentikan eksplorasi, maka bukan tidak bukan mungkin akan ada blok-blok eksplorasi lain yang akan segera direlinquish ke pemerintah dalam waktu dekat.

Memang diakui bahwa penurunan harga minyak yang tajam di bawah angka US$60/barrel sangat meresahkan para investor. Pasalnya angka tersebut membuat investasi di industri migas tidak menarik lagi. Apa yang terjadi di minyak ini sedikit banyak mempengaruhi harga gas yang juga ikut terpuruk.

Benang merah yang bisa kita ambil dari peristiwa ini adalah bahwa industri migas adalah industri yang penuh resiko. Jangan pernah berpikir bahwa ini adalah bisnis yang selalu menguntungkan. Segala resiko, baik ketika gagal menemukan hidrokarbon di kegiatan eksplorasi, maupun penurunan harga minyak dan gas, adalah resiko dari para kontraktor.

Ini pula yang akan dihadapi oleh sejumlah perusahaan yang menyatakan minatnya di Blok Mahakam. Jangan pernah berpikir mengelola Mahakam hanya akan mengeruk untung melulu. Ada saatnya untung menjadi buntung karena harga gas yang turun drastis.


Nah, sudah siapkan mereka menanggung kerugian jika harga gas dan LNG jeblok? Jangan sampai karena ketidakmampuan finansial mereka yang memadai hanya akan mengganggu kesinambungan produksi Mahakam di masa mendatang. Jadi, pikirkan baik-baik seluruh konsekuensi negatifnya sebelum heboh-heboh ingin menguasai Blok Mahakam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar