Dalam
hitungan hari, jika tidak ada aral melintang, pemerintah akan segera membuat keputusan
terkait pengelolaan Mahakam. Targetnya segala sesuatunya bisa selesai pada
media Februari ini, setelah pemerintah mendapatkan proposal dari Pertamina.
Lalu bagaimanakah solusi terbaik yang sebaiknya diambil pemerintah?
Masalah
Mahakam ini memang tergolong unik. Mengapa? Jelas unik, pasalnya proposal
perpanjangan blok yang diajukan perusahaan asal Perancis, Total, sejak tahun
2008 tampaknya tidak digubris sama sekali. Padahal Total telah secara gamblang
menjelaskan seluruh rencananya terkait pengelolaan Blok Mahakam pasca kontrak
bagi hasil (production sharing contract) usai pada tahun 2017. Bahkan Total
secara jelas pula telah berkomitmen untuk menggelontorkan investasi sebesar US$
7,3 miliar untuk mengelola Mahakam jika pemerintah memperpanjang kontrak
PSCnya.
Namun
apa daya, pemerintah akhirnya memutuskan Pertamina yang berhak untuk mengelola
Mahakam. Dan Pertamina diminta untuk memberikan proposal mengenai pengelolaan
Mahakam pada bulan ini. Pertamina sendiri berharap seluruh
proses internal Pertamina dan persetujuan seluruh komisaris segera selesai agar
dapat segera mengajukan ke pemerintah.
Proposal pengelolaan Blok Mahakam yang dibuat
oleh perseroan sendiri berisi aspek kesiapan teknis, ekonomis dan organisasi
pengelola blok migas yang berada di Kalimantan Timur itu. Pertamina sendiri
siap bermitra dengan pihak mana saja, termasuk Total E&P Indonesie.
Pertamina sendiri telah menganggarkan dana sebesar
US$ 1 miliar per tahun dalam mengelola Mahakam. Untuk mendapatkan dana
tersebut, Pertamina menjajaki pinjaman dari sejumlah perbankan. Memang tak
dapat dipungkiri, akan sangat sulit bagi perusahaan nasional untuk mendapatkan
dana sebesar itu. Total sendiri menghabiskan dana sekitar US$ 2,5 miliar per
tahunnya untuk mengelola Mahakam. Dengan dana tersebut, maka produksi Mahakam
bisa dipertahankan di sekitar level 1,7 miliar kaki kubik per hari. Nah tentu
saja, dengan laju penurunan alamiah yang semakin naik, maka dana investasi yang
diperlukan dalam pengelolaan Mahakam seharusnya tidak mungkin kurang dari angka
US$ 2 miliar.
Disinilah perlunya Pertamina menggandeng Total.
Selain dibutuhkan untuk menggelontorkan dana yang dibutuhkan untuk
kesinambungan produksi Mahakam, pengalaman dan teknologi yang dimiliki Total
juga sangat diperlukan.
Bagaimana dengan kemungkinan keterlibatan
Pemerintah Daerah Kalimantan Timur? Memang bukan mustahil. Namun pemerintah
harus memastikan bahwa pemda benar-benar memiliki uang untuk mengelola Mahakam
yang benar-benar keluar dari koceknya sendiri, bukan dari pihak swasta lainnya.
Toh ini sudah sejalan dengan statement Plt Dirjen
Migas Kementerian
ESDM I.G.N. Wiratmadja yang mengatakan, pemerintah menginginkan pemda tidak melibatkan
pihak swasta untuk mengelola saham di Blok Mahakam agar benar-benar daerah yang
dapat.
Kini, keputusan pengelolaan Blok Mahakam ada di
tangan pemerintah. Tentunya kita berharap pemerintah akan bersikap obyektif
atas keputusannya. Pasalnya apapun keputusan itu, dampaknya akan sangat terasa
hingga setidaknya 20 tahun mendatang. Jika Mahakam tidak ditangani dengan baik,
maka jangan pernah berharap lagi bahwa blok itu masih akan menjadi blok gas
dengan produksi terbesar di Indonesia. Konsekuensinya, pemerintah harus siap
dengan penurunan pendapatan di APBN dari sektor gas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar