Situasi
politik di Indonesia akhir-akhir ini sangat tidak kondusif. Para elite politik
sibuk sendiri dengan berbagai kepentingannya. Padahal di sisi lain Indonesia
sedang membutuhkan dana segar karena perkiraan kebutuhan investasi yang
mencapai Rp 5.452 triliun pada kurun 2015-2019 di sektor
infrastruktur. Ironis sekali bukan?
Kabinet Kerja baru seumur jagung, baru saja berumur
empat bulan. Namun sangat aneh jika PDIP yang notabene adalah pengusung Joko
Widodo sebagai presiden malah mengingkan adanya reshuffle kabinet terhadap
'Trio Singa' yaitu Luhut Panjaitan, Rini Soemarno, dan Andi Widjajanto.
Dorongan reshuffle terhadap 'Trio Singa' bermula
dengan isu adanya orang Istana yang menjadi penghubung komunikasi antara Jokowi
dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Meskipun ada hal lain yang
disembunyikan yakni tentang asal muasal ketiga orang itu jadi menteri yang
konon tanpa restu Megawati.
Hubungan Istana dengan PDIP memang tengah tak harmonis.
Sejumlah manuver Presiden Jokowi dan pembantunya disebut membuat gerah Teuku
Umar. Puncaknya adalah ketika Istana memutuskan untuk menunda pelantikan
Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Kepolisian RI.
Tak sedikit orang yang garuk-garuk kepala melihat
konstelasi perpolitikan ini. Bagaimana mungkin mereka sibuk sendiri, bergulat
dengan kepentingan mereka sendiri sementara begitu banyak masalah yang dihadapi
negeri ini.
Tak dapat dipungkiri, ada deretan masalah yang
harus dituntaskan Jokowi. Banyak harapan yang bertumpu pada Jokowi untuk dapat
menyelesaikannya mengingat Susilo Bambang Yudhoyono dinilai terlalu ragu-ragu
untuk mengambil keputusan. Gebrakan Jokowi memang sudah
dinanti-nanti banyak masyarakat.
Di industri migas sendiri, ada sejumlah masalah
yang harus segera dituntaskan untuk meningkatkan iklim investasi. Misalnya
masalah cost recovery yang dipatok di APBN yang dianggap mengganggu investor
dalam menjalankan kegiatan migas. Ada juga soal perpanjangan
kontrak migas. Saat ini banyak blok-blok migas yang menanti kepastian pemerintah,
misalnya Blok Mahakam, Blok Masela, dan blok-blok lainnya. Padahal kedua blok
tersebut akan sangat memberikan kontribusi yang signifikan pada APBN.
Saat ini kita membutuhkan sosok presiden yang
benar-benar bisa memberikan kemakmuran bagi rakyat Indonesia dengan cara yang
rasional. Dan cara nasionalisasi asset migas bukanlah cara yang rasional karena
ujung-ujungnya Indonesia juga yang akan dirugikan. Sosok presiden idaman adalah
ia yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan iklim investasi dan
dapat mengundang banyak investor untuk berinvestasi di Indonesia.
Tujuan utamanya adalah bagaimana kegiatan eksplorasi di negara ini
dapat ditingkatkan. Tanpa eksplorasi maka Indonesia akan menjadi negara
pengimpor minyak permanen. Ini lah yang harus diwaspadai.
Inilah yang harus disadari oleh para elite
politik di negeri ini. Kepentingan masyarakat adalah prioritas, sementara
kepentingan partai adalah nomer kesekian. Dan Jokowi sendiri juga harus ingat pada
Manuel L. Quezon, Presiden ke-2 Philipina, "Pengabdianku pada partai berakhir saat
pengabdianku pada negara dimulai."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar