Lambatnya keputusan perpanjangan kontrak Mahakam pasca kontrak habis tahun 2017, oleh pemerintah ditengarai akan menghambat pengelolaan blok tersebut. Hingga kini Total belum merencanakan pengerjaan proyek-proyek baru selain proyek Peciko 7B yang berproduksi pada semester kedua 2014 dan South Mahakam Phase-3 dengan produksi semester kedua tahun 2015 mendatang.
Yang ditakutkan, jika soal perpanjangan kontrak Mahakam semakin dipersulit dan pemerintah saat ini yang akan habis masanya di tahun 2014 tidak memberikan keputusan, maka sudah pasti pemerintah baru lah yang baru akan memberikan keputusan. Jika baru diputuskan pada semester pertama tahun 2015, makan proyek baru dapat dimulai tahun 2018 karena satu proyek akan memakan waktu tiga hingga lima tahun untuk persiapan.
Masalahnya, jika hal itu terjadi bagaimanakah nasib kontrak-kontrak LNG kita? Mahakam sebagai blok gas terbesar menyuplai 2/3 kebutuhan Bontang LNG plant. Bontang sendiri memiliki komitmen ekspor yang tidak main-main, yaitu ke Jepang dan Korea Selatan. Kontrak dengan konsorsium Jepang yang dikenal dengan sebutan western buyer itu baru akan habis tahun 2025.
Jadi kalau produksi Mahakam terganggu, sudah pasti komitmen ekspor kita juga akan terganggu. Dan jika sudah terganggu, ujung-ujungnya rakyat Indonesia lah yang akan rugi.
Jadi jangan anggap urusan Mahakam ini sebagai urusan Total, tapi juga urusan saya, urusan anda atau gampang urusan kita karena ini bukan Mahakamnya Total, tapi Mahakam kita.
#Chandra Winata: blogger yang juga suka pemerhati masalah-masalah sosial dan ekonomi
Fb: chandrawinata83
Twitter: chandrawinata83

Tidak ada komentar:
Posting Komentar