Kondisi perekonomian global akhirnya memberikan dampak yang
signifikan terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut ditandai dengan semakin
turunnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar yang mencapai angka Rp 11.000.
Indeks Harga Saham Gabungan pun terus melorot. Tak mau krisis 1998 terulang,
pemerintah segera mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang terdiri dari empat
paket utama yang diharapkan dapat menjaga stabilitas perekonomian
nasional.
Maklum saja, krisis ekonomi 1998 merupakan pukulan berat bagi
bangsa ini. Saat itu Rupiah anjlok, demikian pula IHSG. Masyarakat mengakui khawatiran,
guncangan serupa akan terulang kembali tahun ini.
Dalam konferensi persnya pada hari Jumat, Menteri Koordinator
Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan bahwa empat tindakan tersebut yaitu
mendorong ekspor dan memberikan tambahan pengurangan pajak untuk ekspor padat
karya yang memiliki ekspor minimal 30 persen dari total produksi. Pemerintah
juga akan mengurangi impor minyak dan gas dengan mendorong penggunaan
biodiesel. Penggunaan biodiesel diyakini dapat mengurangi impor solar secara signifikan. Kemudian, menetapkan pajak impor barang mewah dari
sekarang 75 persen menjadi 125 - 150 persen, dan memperbaiki ekspor mineral
dengan memberikan relaksasi kuota.
Pemerintah juga akan mempercepat revisi peraturan daftar negatif
investasi (DNI), mempercepat investasi di sektor berorientasi ekspor dengan
memberikan insentif, serta percepatan renegosiasi. Selain itu juga akan menyederhanakan perizinan
dengan mengefektifkan fungsi pelayanan satu pintu dan menyederhanakan
jenis-jenis perizinan yang menyangkut kegiatan investasi. Hatta mencontohkan,
saat ini sudah dirumuskan penyederhanaan perizinan di bidang investasi hulu
migas dari 69 jenis perizinan menjadi 8 jenis perizinan.
Mendengar adanya 69 macam perijinan, hati saya membayangkan
betapa rumitnya menjadi investor di negeri ini. Bagaimana tidak, untuk
menginvestasikan uang di Indonesia saja, investor harus melewati sekian puluh
pintu untuk perizinan. Itu baru perizinan, belum kendala-kendala lain yang
harus dihadapi. Kalau di sektor migas misalnya, investor masih harus berhadapan
dengan masalah-masalah di daerah.
Nah,
dengan sulitnya kondisi perekonomian saat ini, tentunya pemerintah sangat
membutuhkan kucuran dollar yang signifikan. Ingatan saya kembali kepada kasus
Blok Mahakam, dimana Total dan Inpex berencana untuk menambah investasinya
sebesar $ 7.3 miliar di blok tersebut. Tentunya tawaran investasi tersebut
jangan sampai disia-siakan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar