Industri minyak dan gas tentunya tidak pernah lepas dari
urusan teknologi. Soalnya migas tidak jauh-jauh dari masalah produksi dan
peningkatan cadangan. Kedua hal tersebut tentunya identik dengan teknologi.
Tanpa teknologi yang memadai, tidak akan mungkin minyak dan gas bumi bisa
dikuras dengan baik. Apalagi dengan karakteristik blok migas nasional yang
sudah tergolong tua.
Tentunya istilah EOR atau Enhance Oil Recovery sudah
tidak asing lagi di telinga kita. Itu adalah salah teknologi yang digunakan untuk
memaksimalkan laju pengurasan. Banyaknya ladang-ladang tua menyebabkan sejumlah
KKKS menerapkan teknologi tersebut. Tapi tentu saja, teknologi tersebut
membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Sebut saja teknologi water injection atau surfactant di Sumatra, tentunya sejauh ini hanya Chevron yang baru bisa menerapkannya. Atau bisa juga blok Mahakam yang terletak di lepas pantai Kalimantan Timur yang saat ini dikelola Total. Bisa jadi kedua wilayah kerja tersebut adalah contoh kecil yang bisa mewakili betapa Indonesia masih membutuhkan investasi asing. Bisa jadi jika perusahaan nasional yang melakukannya malah akan membawa dampak penurunan produksi pada blok-blok tertentu yang memiliki karakteristik sulit.
Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini bahkan secara terang-terangan menilai kerjasama dengan negara asing tetap diperlukan karena ada kekurangan di dalam teknologi dan tenaga ahli untuk mengembangkan sektor migas. Apalagi minimnya produksi penunjang sektor hulu migas di dalam negeri, membuat pemerintah juga mengharapkan perusahaan asing mau menggandeng perusahaan lokal untuk memproduksi alat serupa. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan produksi migas untuk dalam negeri tanpa memakai bantuan asing.
Jadi ada baiknya kita tidak terlalu menilai sesuatu yang berbau asing itu buruk. Toh ada sisi lain yang masih kita butuhkan, seperti misalnya teknologi, kemampuan SDM dan juga investasi.
Twitter @chandrawinata83
Facebook chandrawinata83

Tidak ada komentar:
Posting Komentar