Rabu, 18 September 2013

Blok Migas Masela dan Mahakam di Indonesia, Serupa Tapi Tak Sama


Blok Masela dan Blok Mahakam di Indonesia memiliki persamaan, meski tak 100% serupa. Persamaannya, kedua blok ini sangat diharapkan pemerintah untuk menunjang perekonomian negara di masa mendatang. Memang dari segi produksi, kedua blok tersebut memang sangat amat menjanjikan dan sejalan dengan keinginan pemerintah untuk meningkatkan produksi gas karena Indonesia sudah tak lagi kaya minyak.

Inpex memiliki saham di Blok Mahakam dan Masela tersebut. Jika di Masela, Inpex menjadi operator, maka di Mahakam perusahaan asal Jepang tersebut hanya sebagai non-operating company dengan memegang saham sebesar 50%. Kedua blok ini sangat mengharapkan kepastian dari pemerintah mengenai perpanjangan kontraknya. Jika Blok Mahakam baru akan selesai kontraknya pada tahun 2017, kontrak Masela baru akan habis pada tahun 2028. Meski demikian para investor tersebut membutuhkan kepastian dari pemerintah mengenai nasib perpanjangannya karena terkait dengan perencanaan investasi jangka panjang.

Dalam mengelola Masela, Inpex berminta dengan perusahaan asal Belanda, Shell. Kedua perusahaan tersebut dengan mengembangkan lapangan gas Abadi yang berada di Masela sebagai “green-field project” dengan menggunakan teknologi LNG terapung. Teknologi ini baru pertama kali diterapkan di Indonesia. Jadi tidak heran jika Inpex benar-benar serius dalam menggarapnya.

President & Chief Executive Officer (CEO) Inpex Toshiaki Kitamura dalam pertemuannya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin (18 September 2013), menyatakan keyakinannya bahwa Proyek Abadi LNG akan berperan secara signifikan terhadap kemakmuran jangka panjang bagi Indonesia.

Proyek Abadi menargetkan produksi awal LNG sebanyak 2,5 juta ton per tahun dengan jangka waktu proyek selama 30 tahun. Kapasitasnya bisa bertambah jika memang cadangan gas yang ada di blok tersebut telah berhasil disertifikasi. Untuk itu Inpex juga sedang mengerjakan tahap pengembangan lebih lanjut dari Lapangan Abadi dengan tujuan untuk mengembangkan potensi besar gas Abadi secara penuh di masa depan. 

Blok Masela akan memulai produksi pertamanya sekitar pada tahun 2018-2019. Masalahnya, proyek tersebut menjadi sangat tidak ekonomis jika hanya dilakukan dalam jangka waktu 19-20 tahun. Untuk itu Inpex mengajukan perpanjangan kontrak selama 20 tahun hingga tahun 2048 agar proyek Masela menjadi ekonomis.

merdeka.com
Hal serupa juga terjadi pada Blok Mahakam. Total E&P Indonesie sebagai operator blok teresebut meminta kepastian pemerintah untuk perpanjangan kontraknya karena terkait dengan investasi yang akan ditanamkannya. Total dan Inpex telah komit untuk menginvestasikan dana sebesar $7,3 miliar untuk mempertahankan level produksi Mahakam di level 1,2 miliar kubik per hari dari 1,7-1,8 miliar kaki kubik per hari pada saat ini.  Namun untuk  mencapai angka 1,2 miliar kaki kubik per hari tersebut terntunya Total harus melakukan eksplorasi sejak saat ini. Jika tidak,  maka produksi gas Mahakam akan jeblok ke angka 500,000-800,000 kaki kubik per hari.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengaku pemerintah masih terus mengevaluasi usulan perpanjangan Masela dan Mahakam karena ingin memastikan Indonesia akan mendapatkan manfaat yang lebih banyak dari blok tersebut (Kompas, 19 September 2013).

Mengingat tahun depan adalah tahun politik, sudah selayaknya pemerintah memberikan keputusan terkait dua blok tersebut selambat-lambatnya pada tahun 2013. Selain memberikan kepastian pada investor secepatnya, konsentrasi pemerintah pun belum terlalu buyar akibat harus menghadapi Pemilu. Selain itu, PR yang dilakukan pemerintah masih sangat banyak, misalnya saja amandemen UU Migas 2001. Jangan sampai hal-hal non-teknis tersebut pada akhirnya hanya akan merugikan negara ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar