Selasa, 10 September 2013

Dapatkah Pertamina Kelola Blok Migas Mahakam di Indonesia Tanpa Total?




Dapatkah Pertamina mengelola Blok migas Mahakam di Kalimantan tanpa Total? Banyak hal yang harus dibahas untuk menjawab pertanyaan ini. Pasalnya ini menyangkut urusan ekonomi dan politik.




Meski demikian, baru-baru ini pemerintah diminta DPR RI menyerahkan pengelolaan Blok Mahakam pasca 2017 kepada Pertamina. Pasalnya Pertamina dinilai sudah mumpuni untuk dapat mengelolanya sendiri. Menurut Wakil Ketua Komisi VII DPR Zainuddin Amali dari Fraksi Partai Golkar seperti yang dikutip Waspada, Senin (9/9/2013), sesuai dengan UUD 1945 Pasal 33, hak pengelolaan Blok Mahakam mesti diserahkan ke Pertamina karena negara akan memperoleh keuntungan besar kalau dikelola oleh Pertamina. Total sudah  menikmati keuntungan hingga triliunan rupiah saat mengelola Blok Mahakam selama 50 tahun hingga 2017.

Benarkan Total sudah untung besar? Dengan pola bagi hasil yang diterapkan pemerintah, yaitu normalnya 70:30 untuk pola bagi gas, memang Total mendapatkan bagian dari produksi di blok tersebut. Namun Total menggelentorkan investasi yang tidak sedikit, yaitu sekitar $2.5-3 miliar per tahun. Sementara revenuenya mencapai $11.23 miliar pada tahun 2012 dan diperkirakan turun menjadi $8.92 miliar (Rp 85 triliun_ pada tahun 2013 (detikcom, 3 April 2013), namun angka tersebut masih harus dipotong biaya dan pajak, seperti cost recovery. Lalu berapa sih yang akan didapat pemerintah dari revenue tersebut? Ternyata cukup fantastis dan sangat membantu APBN, yaitu Rp 63 trillion pada 2012 dan Rp 45 triliun pada 2013. Sementara Total dan Inpex yang memegang saham masing-masing 50% di Blok Mahakam hanya mendapatkan masing-masing Rp 7.5 triliun.

Lalu kenapa sih revenue dan juga profit yang didapatkan pemerintah pada tahun ini diperkirakan turun dibandingkan tahun kemarin? Tak lain dan tak bukan, penyebabnya adalah penurunan produksi gas di blok tersebut. Maklum saja, Mahakam telah berproduksi puluhan tahun sehingga penurunan alami pasti terjadi. Jika Total dan Inpex tidak menambah investasinya di blok ini, sudah pasti produksi akan terjun bebas. Maka tak heran jika Total berkomitmen untuk menyuntikkan dana sebesar $7,3 miliar pasca 2017, tentunya jika pemerintah memperpanjang kontraknya.

Tanpa adanya investasi tersebut produksi Blok Mahakam akan semakin jeblok ke angka 500-800 juta kaki kubik di tahun 2017 dari angka produksi saat ini di level 1.8 miliar kaki kubik. Namun jika investasi tersebut disuntikkan Total, maka laju penurunan produksi bisa ditahan di level 1.1-1.2 miliar kaki kubik.

Kompleksitas blok tersebut tak perlu diragukan lagi. Dibutuhkan pengalaman, teknologi dan juga SDM yang dapat menahan laju penurunan produksi. Jika tidak, maka produksi Mahakam akan terjun bebas. Akibatnya penerimaan negara juga akan jungkir balik.

Pertanyaannya, sanggupkah Pertamina menanganinya sendiri, seperti yang diminta sejumlah kalangan? Mungkin saja Pertamina mampu, namun tentunya tidak serta merta dapat mempertahankan laju produksi Mahakam seperti level saat ini, setidaknya butuh waktu untuk beradaptasi. Namun jika Pertamina tidak segera dapat beradaptasi, sudah dipastikan Mahakam akan menjadi lapangan yang se-sexy sekarang. Sementara kalau secara finansial, sekali lagi, mungkin saja mampu melalui pendanaan pihak ketiga. Yang menjadi masalah, saat ini Pertamina juga sedang gencar melakukan ekspansi kegiatan hulunya ke luar negeri, seperti Irak yang diperkirakan dapat memproduksi 2 juta barrel/hari. Sudah pasti ini membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Apakah alangkah tidak lebih baik jika Pertamina memprioritaskan investasinya untuk usaha ekspansi ke luar negeri mengingat produksinya yang lebih menjanjikan, ketimbang focus ke Mahakam yang produksinya semakin turun?

Tapi jika menafikan Pertamina sama sekali rasanya juga tidak mungkin karena ini akan menjadikan bola panas di negeri ini. Jadi rasanya penerapan masa transisi seperti yang diajukan Total merupakan solusi terbaik dari pro dan kontra kasus ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar