Kamis, 13 Februari 2014

Mengurai Ketegangan Politik Indonesia-Singapura dan Dampaknya pada Perekonomian Nasional

merdeka.com
Hubungan Indonesia dan Singapura yang harmonis selama puluhan tahun, belakangan memanas. Hal tersebut terkait dengan keputusan pemerintah untuk menamakan Kapal Republik Indonesia (KRI) baru yang berasal dari Inggris dengan nama Usman Harun.

Pemerintah Singapura segera mengambil sikap tegas dengan membatalkan undangan untuk Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin sebagai delegasi utama untuk menyaksikan acara pameran aviasi Singapore Airshow pada pekan lalu.  Padahal sesuai rencana Selain itu, usai acara tersebut akan ada pertemuan dialog bilateral dengan pejabat Kementrian Pertahanan Singapura. Selain itu Pemerintah Singapura juga melarang KRI Usman Harun untuk memasuki wilayah territorial negeri Singa tersebut.

Mengapa sikap Singapura demikian? Tak lain karena sosok Usman dan Harun sendiri. Keduanya tertangkap pihak Singapura setelah melakukan pengeboman di Hotel MacDonald, Orchad Road pada 10 maret 1965 saat mengemban tugas negara dalam misi infiltrasi. Aksi pengeboman tersebut menewaskan tiga orang sipil. Hingga tak heran, pihak Singapura memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati pada keduanya pada 17 Oktober 1968. 

Harun Said dan Usman Haji Mohamed Ali atau yang dikenal dengan sebutan Usman Harun adalah dua anggota Korps Komando Operasi –yang kini disebut sebagai Korps Marinir-. Keduanya diangkat menjadi pahlawan nasional. Sebaliknya, Singapura malah menyematkan sebutan teroris pada mereka.

Setelah aksi pengeboman itu, hubungan diplomatik Singapura dan Indonesia memanas. Sebagian besar warga Indonesia di Singapura pun dipulangkan, sementara di dalam negeri mahasiswa tengah bersiap menduduki kantor perwakilan Singapura di Indonesia.
Namun ketegangan tersebut berakhir setelah Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew berkunjung ke Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, Lee Kuan Yew melakukan ziarah ke makam Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Lalu bagaimanakah dampaknya terhadap perekonomian Indonesia jika ketegangan terus berlanjut? Tentu saja dampaknya pada supply Bahan Bakar Minyak (BBM) dan minyak mentah Indonesia. Sektor energi Indonesia akan terguncang hebat.

Hal ini pulalah yang ditanyakan secara retoris oleh Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo. "Apa yang terjadi kalau Singapura stop ekspor BBM ke Indonesia, apa yang terjadi kalau Malaysia juga stop ekspor BBM ke Indonesia? Lima hari kita bisa meninggal," ungkap Susilo, seperti yang dikutip detikcom.

Ucapan Susilo memang tanpa dasar. Saat ini Indonesia tercatat mengimpor 900.000 barel per hari minyak mentah dan BBM dari total kebutuhan 1,4 juta barel per hari. Sebagian besar diimpor dari Singapura.

Singapura adalah negara kecil yang dikenal sebagai pusat keuangan dan perdagangan dunia, khususnya Asia Pacific.  Tak hanya itu bisnis minyak dan gas pun banyak digerakkan dan bahkan berpusat di negara tersebut, meski secara notabene Singapura tidak memiliki sumber daya alam apapun, pada khususnya sumber daya minyak.

Pertamina sendiri memiliki anak perusahaan bernama Petral –Pertamina Trading Limited- yang berkedudukan di Singapura. Petral lah yang mengatur kebutuhan BBM dan minyak mentah Indonesia. Itu lah yang menyebabkan keberadaan dan kontribusi Singapura terhadap perekonomian nasional tidak bisa dianggap remeh.

Sepanjang 2013 lalu, Indonesia mengimpor BBM dengan total US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah US$ 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton.

Selain itu, menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2013, Singapura juga tercatat sebagai salah satu negara tujuan ekspor gas Indonesia dengan nilai US$ 4,7 miliar dengan volume 5,5 juta ton. Negara eksporter gas terbesar tetap dipegang Jepang dengan total volume sebesar 7,3 juta ton atau US$ 6,5 miliar. Posisi berikutnya diikuti oleh Korea Selatan dengan volume 6,1 juta ton atau US$ 4,2 miliar.

Tak hanya dalam urusan minyak, ternyata Indonesia juga membutuhkan investor asal negara tersebut untuk berbagai bidang. Setidaknya tercatat ada lima sektor yang menjadi tujuan investor asal Singapura, yaitu transportasi dan telekomunikasi sebesar US$ 1,1 miliar, agrobisnis sebesar US$ 659,1 juta, pertambangan sebesar US$ 605 juta, industri makanan US$ 440,2 juta dan industri kimia dan farmasi US$ 237,6 juta.


Mengingat dampaknya yang sedemikian signifikan, alangkah baiknya pemerintah Indonesia melakukan dialog dengan pemerintah Singapura untuk menyelesaikan ketegangan tersebut. Bagaimanapun, Singapura juga membutuhkan kehadiran Indonesia karea turut menyumbangkan devisa negaranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar