![]() |
| merdeka.com |
Hubungan
Indonesia dan Singapura yang harmonis selama puluhan tahun, belakangan memanas.
Hal tersebut terkait dengan keputusan pemerintah untuk menamakan Kapal Republik
Indonesia (KRI) baru yang berasal dari Inggris dengan nama Usman Harun.
Pemerintah
Singapura segera mengambil sikap tegas dengan membatalkan undangan untuk Wakil
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin sebagai delegasi utama untuk menyaksikan
acara pameran aviasi Singapore Airshow pada pekan lalu. Padahal sesuai rencana Selain itu, usai acara
tersebut akan ada pertemuan dialog bilateral dengan pejabat Kementrian Pertahanan
Singapura. Selain itu Pemerintah Singapura juga melarang KRI Usman Harun untuk
memasuki wilayah territorial negeri Singa tersebut.
Mengapa
sikap Singapura demikian? Tak lain karena sosok Usman dan Harun sendiri. Keduanya
tertangkap pihak Singapura setelah melakukan pengeboman di Hotel MacDonald,
Orchad Road pada 10 maret 1965 saat mengemban tugas negara dalam misi
infiltrasi. Aksi pengeboman tersebut menewaskan tiga orang sipil. Hingga tak
heran, pihak Singapura memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati pada keduanya
pada 17 Oktober 1968.
Harun
Said dan Usman Haji Mohamed Ali atau yang dikenal dengan sebutan Usman Harun
adalah dua anggota Korps Komando Operasi –yang kini disebut sebagai Korps
Marinir-. Keduanya diangkat menjadi pahlawan nasional. Sebaliknya, Singapura
malah menyematkan sebutan teroris pada mereka.
Setelah
aksi pengeboman itu, hubungan diplomatik Singapura dan Indonesia memanas. Sebagian
besar warga Indonesia di Singapura pun dipulangkan, sementara di dalam negeri
mahasiswa tengah bersiap menduduki kantor perwakilan Singapura di Indonesia.
Namun ketegangan tersebut berakhir setelah Perdana
Menteri Singapura Lee Kuan Yew berkunjung ke Indonesia.
Dalam kunjungan
tersebut, Lee Kuan Yew melakukan ziarah ke makam Usman dan Harun di Taman Makam
Pahlawan Kalibata.
Lalu bagaimanakah dampaknya terhadap perekonomian
Indonesia jika ketegangan terus berlanjut? Tentu saja dampaknya pada supply
Bahan Bakar Minyak (BBM) dan minyak mentah Indonesia. Sektor energi Indonesia
akan terguncang hebat.
Hal ini pulalah yang ditanyakan secara retoris oleh
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo. "Apa
yang terjadi kalau Singapura stop ekspor BBM ke Indonesia, apa yang terjadi
kalau Malaysia juga stop ekspor BBM ke Indonesia? Lima hari kita bisa
meninggal," ungkap Susilo, seperti yang dikutip detikcom.
Ucapan Susilo memang tanpa dasar. Saat ini Indonesia
tercatat mengimpor 900.000 barel per hari minyak mentah dan BBM dari total
kebutuhan 1,4 juta barel per hari. Sebagian besar diimpor dari Singapura.
Singapura adalah negara kecil yang dikenal sebagai
pusat keuangan dan perdagangan dunia, khususnya Asia Pacific. Tak hanya itu bisnis minyak dan gas pun
banyak digerakkan dan bahkan berpusat di negara tersebut, meski secara notabene
Singapura tidak memiliki sumber daya alam apapun, pada khususnya sumber daya
minyak.
Pertamina sendiri memiliki anak perusahaan bernama
Petral –Pertamina Trading Limited- yang berkedudukan di Singapura. Petral lah
yang mengatur kebutuhan BBM dan minyak mentah Indonesia. Itu lah yang
menyebabkan keberadaan dan kontribusi Singapura terhadap perekonomian nasional
tidak bisa dianggap remeh.
Sepanjang 2013 lalu, Indonesia mengimpor BBM dengan
total US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton.
Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah US$ 15,145 miliar atau
sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura
mencapai 29,6 juta ton.
Selain itu, menurut data Badan Pusat Statistik pada
tahun 2013, Singapura juga tercatat sebagai salah satu negara tujuan ekspor gas
Indonesia dengan nilai US$ 4,7 miliar dengan volume 5,5 juta ton. Negara
eksporter gas terbesar tetap dipegang Jepang dengan total volume sebesar 7,3
juta ton atau US$ 6,5 miliar. Posisi berikutnya diikuti oleh Korea Selatan
dengan volume 6,1 juta ton atau US$ 4,2 miliar.
Tak hanya dalam urusan minyak, ternyata Indonesia
juga membutuhkan investor asal negara tersebut untuk berbagai bidang.
Setidaknya tercatat ada lima sektor yang menjadi tujuan investor asal
Singapura, yaitu transportasi dan telekomunikasi sebesar US$ 1,1 miliar,
agrobisnis sebesar US$ 659,1 juta, pertambangan sebesar US$ 605 juta, industri
makanan US$ 440,2 juta dan industri kimia dan farmasi US$ 237,6 juta.
Mengingat dampaknya yang sedemikian signifikan,
alangkah baiknya pemerintah Indonesia melakukan dialog dengan pemerintah
Singapura untuk menyelesaikan ketegangan tersebut. Bagaimanapun, Singapura juga
membutuhkan kehadiran Indonesia karea turut menyumbangkan devisa negaranya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar