![]() |
| tempo.co |
Mundurnya Gita Wirjawan dari posisi Menteri
Perdagangan pada kabinet Indonesia Bersatu Jilid II efektif per 1 Februari 2014
cukup mengagetkan. Alasan Gita mundur memang seperti naif, karena
semata-mata ingin fokus dalam kompetisi Konvensi Calon Presiden (Capres) Partai
Demokrat.
Gita mengakui pengunduran dirinya ini didasari oleh
dilema etis yang sudah lama terjadi, antara kesadaran tentang besarnya konflik
kepentingan jika dirinya terlibat penuh dalam proses politik selama konvensi,
sementara pada saat yang sama tetap menjalankan tugas dan kepercayaan yang
diberikan kepadanya sebagai Menteri Perdagangan.
Gita diangkat sebagai Menteri Perdagangan pada
Oktober 2011. Dia menggantikan Menteri Perdagangan sebelumnya, Marie Elka
Pangestu. Sementara hasil survei Pol-Tracking Institute sebenarnya hanya
menempatkan elektabilitas Gita pada ranking 8 dari 11 kandidat yakni 0,8
persen, namun Gita optimistis menang.
Yang menjadi masalah, mundurnya menteri lulusan Harvard
University itu dinilai beberapa kalangan tidak tepat karena dilakukan justru
saat Indonesia sedang mengalami kekisruhan terkait masalah beras impor di
pasaran.
Tak hanya dari kalangan eksternal Partai Demokrat
yang mengkritik keputusan tersebut, bahkan dari kalangan partai internal pun
suara-suara sumbang ikut terdengar. Seperti misalnya bakal
calon presiden Anies Baswedan yang juga mengkritik keputusan Gita Wirjawan yang
mengundurkan diri sebagai Menteri Perdagangan untuk kepentingan Konvensi Partai
Demokrat. Menurut Anies, kepentingan negara harus menjadi prioritas seorang
pemimpin ketimbang mengejar posisi.
Tentunya pandangan Anies tidak berlebihan. Pasalnya
keberadaan Gita dalam kondisi Indonesia saat ini memang sangat dibutuhkan, meskipun
pada kenyataannya posisi Gita untuk sementara dijalankan oleh Wakil
Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi.
Misalnya saja peneliti Senior Indonesia for Global
Justice (IGJ) Salamudin Daeng yang menyatakan Gita dinilai tidak memiliki
prestasi gemilang saat menjadi menteri, terutama terkait dengan naskah
Rancangan Undang-Undang (RUU) Perdagangan. Indonesia kini tengah dihantam
berbagai perjanjian buruk terkait perdagangan bebas. Dia menuding Gita sebagai
salah satu aktor utama di balik keterpurukan ekonomi Indonesia. Alasannya, Gita
telah menandatangani dua perjanjian merugikan yaitu WTO dan APEC.
Sementara Politikus Golkar, Bambang Soesatyo
mengatakan keputusan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mundur dari jabatannya
dianggap sebagai blunder dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Apalagi kata dia, Gita memutuskan mundur ketika impor beras premium dari
Vietnam belum diselesaikan.
Senada dengan Salamudin Daeng, pakar ekonomi
politik asal UGM Revrisond Baswir menilai carut marut tata niaga justru menguat
di eranya. Hal itulah yang menyebabkan mandegnya sektor pertanian atau
agrobisnis di Indonesa.
Sementara klaim sukses Gita di forum internasional
seperti WTO dan APEC juga dinilai tidak memberikan dampak positif bagi kemajuan
perdagangan nasional.
Karir Gita di dunia perpolitikan memang moncer. Mungkin
ini tak lepas dari pendidikannya yang dihabiskan di luar negeri. Gita menempuh
pendidikan S1 di University of Texas Amerika Serikat dan menyelesaikan kuliah
S2 pertamanya di Baylor University, pada 1989. Lulus kuliah, Gita mulai bekerja
di Citibank. Tapi tak puas dalam mereguk ilmu, Gita kembali ke bangku kuliah,
memburu gelar master di jurusan Administrasi Publik di Harvard University hingga
pada 2000. Setelahnya, ia bekerja di
Goldman Sachs Singapura, hingga 2004.
Tahun berikutnya dia pindah ke ST Telekomunikasi
sampai 2006 juga di Singapura, Gita kemudian bekerja di JP morgan Indonesia
sebagai direktur utama hingga 2008. Usai mundur dari JP Morgan, Gita Wirjawan
mendirikan Ancora Capital, sebuah perusahaan yang berfokus pada investasi di
sektor energi dan sumber daya alam Ancora berhasil mengambil alih sebagian
saham beberapa perusahaan besar seperti PT Bumi Resources Tbk. Selain itu, ia
juga merupakan salah satu komisaris PT Pertamina (Persero).
Setelah itu, Gita juga sempat menempati posisi
sebagai Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM). Lalu pada 18
Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Gita
Wirjawan diangkat sebagai Menteri Perdagangan menggantikan Mari Elka Pangestu.
Dan selanjutnya Gita terpilih sebagai salah satu bakal calon presiden dari
Partai Demokrat.
Melihat curriculum vitaenya, tentulah tidak ada
orang yang tidak terkagum-kagum dengan sosok Gita. Tapi tentunya segudang ilmu
tidak menjamin seseorang memiliki kemampuan managerial. Terlihat dari banyaknya
pandangan miring di atas yang mengkritisi keberhasilan Gita ketika menjadi
menteri. Jika kemampuannya sebagai menteri diragukan, bagaimana dengan jabatan
presiden, orang nomer satu di negeri ini? Orang yang harus berani mengambil
keputusan, meski itu tidak popular.
Dan lagi, masih banyak pekerjaan rumah pemerintah
yang harus dibenahi. Misalnya saja di sektor energi. Penurunan produksi yang
semakin menggila, sementara di satu sisi energy masih menjadi kontributor utama
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, bisa menjadi blunder bagi
pemerintah. Diperlukan gebrakan khusus untuk mencapai target pendapatan negara.
Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan
memperbaiki iklim investasi migas yang dinilai jauh dari kondusif saat ini.
Pemerintah dinilai tidak pro investor, sering kali tidak menghormati kontrak
dan lama dalam memberikan keputusan. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya
kontrak-kontrak blok migas yang hingga kini masih menunggu kepastian dari
pemerintah, misalnya Blok Mahakam yang akan habis tahun 2017.
Nah, apakah Gita sanggup memberikan keputusan
cepat? Apakah Gita memiliki kemampuan untuk menjawab keinginan para investor?
Kita lihat saja bagaimana hasil Konvensi Partai Demokrat nanti…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar