Senin, 16 Juni 2014

Benarkah Investor Asing Siap Tinggalkan Indonesia Jika Prabowo Menang

Mayoritas investor asing berpotensi untuk hengkang dari Indonesia jika calon presiden Prabowo Subianto terpilih jadi presiden. Aksi capital outflow yang akan mereka lakukan didasarkan kekawatiran Prabowo tidak mampu membentuk pemerintahan yang profesional.
 Demikian menurut survei yang dilakukan oleh Deutsche Bank yang dirilis baru-baru ini.
Menurut survey tersebut, sebanyak 56 persen dari 70 responden yang disurvei oleh PT Deutsche Bank Verdhana Indonesia pada bulan Mei-Juni mengatakan akan melakukan penjualan aset bila Prabowo menang, sementara 13 persen dari responden mengatakan akan melakukan pembelian aset.

Sebaliknya jika yang menang adalah Joko Widodo (Jokowi), 74 persen dari responden mengatakan akan melakukan pembelian aset (saham maupun obligasi) di pasar keuangan Indonesia, dan hanya 6 persen yang mengatakan akan melakukan penjualan.


Survei oleh Deutsche Bank ini menunjukan 87 persen suara mengatakan bahwa hasil pemilu akan berpengaruh terhadap keputusan investasi mereka dan hanya 13 persen suara yang menyatakan hasil pemilu tidak berpengaruh atas keputusan investasi.
Disebutkan pula dalam survey tersebut bahwa 50 persen investor mengaku percaya pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla bakal menang. Potensi untuk pasangan capres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebesar 41 persen. Sementara itu, sebanyak 9 persen pemilih belum menentukan pilihan atau undecided voters. Terdapatnya koalisi Jokowi-Jusuf Kalla di hati para responden tersebut karena pendekatan koalisi pasangan capres dan cawapres nomer dua tersebut dinilai non-transaksional, dibanding pendekatan Prabowo-Hatta Rajasa yang kompromistis pragmatis. Dengan demikian piliha  antara kedua capres itu adalah antara perubahan atau status quo.
Jokowi dengan tegas menyatakan tidak ada transaksi koalisi dalam pembentukan kabinetnya bila dia menang, sedangkan Prabowo memperlihatkan adanya janji-janji politik kepada koalisinya. Hal ini yang menjadi kekhawatiran utama bagi investor, bahwa kabinet yang terbentuk tidak bisa menjalankan roda pemerintahan secara profesional
Pro dan kontra mewarnai hasil survey tersebut. Sejumlah pengamat menilai hasil survei yang dilakukan PT Deutsche Bank Verdhana Indonesia tidak serta merta menggambarkan kondisi pasar modal secara keseluruhan. Pasalnya yang disurvei hanya 70 investor yang bermitra dengan Deutsche Bank di pasar keuangan. Dengan demikian hasilnya tidak bisa dianggap mewakili suara investor di pasar sebenarnya. Tak hanya itu, bahkan investor asing juga dinilai mencari keuntungan di tengah situasi politik menjelang peralihan kekuasaan. Skenario terburuknya, kalaupun investor asing melepas sahamnya, investor lain –meskipun itu investor lokal- akan siap menampungnya. Jadi Indonesia tidak perlu takut dengan adanya hasil survey tersebut.
Lepas dari itu, sosok Prabowo memang tidak lepas dari isu nasionalisasi. Selama ini mantan jenderal bintang satu itu memang santer menyuarakan pro industri nasional. Entah bagaimana, ada ketakutan pro industri nasional tersebut diartikan dengan nasionalisasi ala Hugo Chavez, dimana seluruh asset asing akan disita negara, seluruh kontrak-kontrak akan diamandemen. Itulah yang dikhawatirkan para investor asing. Padahal ada triliunan investasi asing yang ditanamkan di Indonesia. Tak hanya perusahaan asing kelas menengah, namun juga perusahaan asing ternama seperti Total, Chevron, ExxonMobil, dll.
Dan lagi, baru-baru ini Hasyim Djohadikusumo yang notabene adalah adik kandung Prabowo menyatakan akan memberikan perpanjangan kontrak Mahakam kepada Pertamina jika Prabowo terpilih menjadi presiden. Pernyataan tersebut dinilai sebagai bagian dari nasionalisasi yang akan dilakukan Prabowo.
Lalu bagaimana tanggapan Prabowo sendiri? Dalam debat capres edisi kedua yang ditayangkan di TV nasional, Prabowo membantah adanya stigma bahwa dirinya anti asing. Bahkan ia mengakui investasi asing adalah hal positif. Namun pemerintah juga harus mempedulikan masyarakat bawah sehingga pemerintah juga harus turun tangan dengan tidak membiarkan masyarakat bawah langsung bersaing dengan yang kuat. Investor asing boleh saja masuk ke Indonesia tetapi juga harus mementingkan kepentingan ekonomi Indonesia
"Ini membedakan dengan neolib. Kami dukung investasi asing tetapi tidak boleh mematikan rakyat. Datang ke Indonesia bawa uang. Jangan datang pakai uang Indonesia," ujar Prabowo dalam debat Capres, Minggu (15/6/2014) malam.
Meski demikian Prabowo berjanji akan merenegosiasi ulang kontrak-kontrak dengan kontraktor asing.kkontrak-kontrak pertambangan dengan investor asing akan ditinjau kembali demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya bagi negara.


Lepas dari siapapun presiden terpilih nanti, Indonesia tetap membutuhkan investasi asing. Terlalu banyak proyek-proyek, terutama infrastruktur dan proyek migas yang membutuhkan dana besar dan sulit dipenuhi oleh investor lokal. Inilah yang menjadikan investor asing tetap berfungsi sebagai mitra. Kita harus bisa membedakan antara nasionalisme dan nasionalisasi. Keduanya memiliki arti yang jauh berbeda. Nasionalisme adanya di hati, bukan dengan cara melakukan nasionalisasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar