Mayoritas investor asing berpotensi untuk hengkang
dari Indonesia jika calon presiden Prabowo Subianto terpilih jadi presiden.
Aksi capital outflow yang akan mereka lakukan didasarkan kekawatiran Prabowo
tidak mampu membentuk pemerintahan yang profesional.
Demikian menurut survei
yang dilakukan oleh Deutsche Bank yang dirilis baru-baru ini.
Menurut survey tersebut, sebanyak 56 persen dari 70
responden yang disurvei oleh PT Deutsche Bank Verdhana Indonesia pada bulan
Mei-Juni mengatakan akan melakukan penjualan aset bila Prabowo menang,
sementara 13 persen dari responden mengatakan akan melakukan pembelian
aset.
Sebaliknya jika yang menang adalah Joko Widodo (Jokowi), 74 persen dari
responden mengatakan akan melakukan pembelian aset (saham maupun obligasi) di
pasar keuangan Indonesia, dan hanya 6 persen yang mengatakan akan melakukan
penjualan.
Survei oleh Deutsche Bank ini menunjukan 87 persen
suara mengatakan bahwa hasil pemilu akan berpengaruh terhadap keputusan
investasi mereka dan hanya 13 persen suara yang menyatakan hasil pemilu tidak
berpengaruh atas keputusan investasi.
Disebutkan pula dalam survey tersebut bahwa 50
persen investor mengaku percaya pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf
Kalla bakal menang. Potensi untuk pasangan capres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa
sebesar 41 persen. Sementara itu, sebanyak 9 persen pemilih belum menentukan
pilihan atau undecided voters. Terdapatnya koalisi Jokowi-Jusuf Kalla di hati
para responden tersebut karena pendekatan koalisi pasangan capres dan cawapres
nomer dua tersebut dinilai non-transaksional, dibanding pendekatan
Prabowo-Hatta Rajasa yang kompromistis pragmatis. Dengan demikian piliha antara kedua capres itu adalah antara
perubahan atau status quo.
Jokowi dengan tegas menyatakan tidak ada transaksi
koalisi dalam pembentukan kabinetnya bila dia menang, sedangkan Prabowo
memperlihatkan adanya janji-janji politik kepada koalisinya. Hal ini yang
menjadi kekhawatiran utama bagi investor, bahwa kabinet yang terbentuk tidak bisa
menjalankan roda pemerintahan secara profesional
Pro dan kontra mewarnai hasil survey tersebut.
Sejumlah pengamat menilai hasil survei yang dilakukan PT Deutsche Bank Verdhana
Indonesia tidak serta merta menggambarkan kondisi pasar modal secara keseluruhan.
Pasalnya yang disurvei hanya 70 investor yang bermitra dengan Deutsche Bank di
pasar keuangan. Dengan demikian hasilnya tidak bisa dianggap mewakili suara
investor di pasar sebenarnya. Tak hanya itu, bahkan investor asing juga dinilai
mencari keuntungan di tengah situasi politik menjelang peralihan kekuasaan. Skenario
terburuknya, kalaupun investor asing melepas sahamnya, investor lain –meskipun
itu investor lokal- akan siap menampungnya. Jadi Indonesia tidak perlu takut
dengan adanya hasil survey tersebut.
Lepas dari itu, sosok Prabowo memang tidak lepas
dari isu nasionalisasi. Selama ini mantan jenderal bintang satu itu memang
santer menyuarakan pro industri nasional. Entah bagaimana, ada ketakutan pro
industri nasional tersebut diartikan dengan nasionalisasi ala Hugo Chavez,
dimana seluruh asset asing akan disita negara, seluruh kontrak-kontrak akan
diamandemen. Itulah yang dikhawatirkan para investor asing. Padahal ada
triliunan investasi asing yang ditanamkan di Indonesia. Tak hanya perusahaan
asing kelas menengah, namun juga perusahaan asing ternama seperti Total,
Chevron, ExxonMobil, dll.
Dan lagi, baru-baru ini Hasyim Djohadikusumo yang
notabene adalah adik kandung Prabowo menyatakan akan memberikan perpanjangan
kontrak Mahakam kepada Pertamina jika Prabowo terpilih menjadi presiden.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai bagian dari nasionalisasi yang akan
dilakukan Prabowo.
Lalu bagaimana tanggapan Prabowo sendiri? Dalam
debat capres edisi kedua yang ditayangkan di TV nasional, Prabowo membantah adanya
stigma bahwa dirinya anti asing. Bahkan ia mengakui investasi
asing adalah hal positif. Namun pemerintah juga harus mempedulikan masyarakat
bawah sehingga pemerintah juga harus turun tangan dengan tidak membiarkan
masyarakat bawah langsung bersaing dengan yang kuat. Investor asing boleh saja
masuk ke Indonesia tetapi juga harus mementingkan kepentingan ekonomi Indonesia
"Ini membedakan dengan neolib. Kami dukung
investasi asing tetapi tidak boleh mematikan rakyat. Datang ke Indonesia bawa
uang. Jangan datang pakai uang Indonesia," ujar Prabowo dalam debat
Capres, Minggu (15/6/2014) malam.
Meski demikian Prabowo
berjanji akan merenegosiasi ulang kontrak-kontrak dengan
kontraktor asing.kkontrak-kontrak pertambangan dengan investor asing akan
ditinjau kembali demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya bagi negara.
Lepas dari siapapun presiden terpilih nanti,
Indonesia tetap membutuhkan investasi asing. Terlalu banyak proyek-proyek,
terutama infrastruktur dan proyek migas yang membutuhkan dana besar dan sulit
dipenuhi oleh investor lokal. Inilah yang menjadikan investor asing tetap
berfungsi sebagai mitra. Kita harus bisa membedakan antara nasionalisme dan
nasionalisasi. Keduanya memiliki arti yang jauh berbeda. Nasionalisme adanya di
hati, bukan dengan cara melakukan nasionalisasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar