Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya secara
resmi telah menunjuk Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung sebagai
Pelaksana Tugas Menteri ESDM menggantikan Jero Wacik yang menjadi tersangka
kasus korupsi. Pria yang akrab dipanggil dengan CT tersebut akan menjalankan
tugasnya tersebut sampai berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu II pada 20
Oktober 2014. Akankah terjun langsungnya CT ke industri ESDM akan mempercepat
persetujuan beberapa proyek migas yang tertunda?
Penunjukan Chairul tersebut ditetapkan melalui
Keppres No 77/P Tahun 2014 pada tanggal 9 September 2014. Penunjukkan itu
dilakukan setelah pada pekan lalu Jero Wacik secara resmi mengajukan surat
pengunduran diri sebagai Menteri ESDM kepada SBY. Sejak menyelenggarakan
konferensi pers pada hari KPK menetapkan dirinya sebagai tersangka kasus
pemerasan, batang hidung Wacik memang sudah tak tampak lagi di lingkungan ESDM.
Ingin bekerja cepat, pada hari ini pula CT
langsung mengadakan rapat pimpinan di lingkungan Kementerian ESDM. Dalam rapat
tersebut selain wamen dan pejabat eselon satu Kementerian ESDM, juga dihadiri
Kepala SKK Migas dan Kepala BPH Migas. CT berjanji untuk mengembalikan harkat
dan martabak serta semangat Kementrian ESDM setelah berubi-tubi dilanda
masalah.
CT juga menegaskan walaupun hanya berfungsi
sebagai Ad Interim, kewenangannya tidak ada bedanya dengan Menteri ESDM.
CT bisa mengambil tindakan dan keputusan apa pun terkait dengan kebijakan dan
penyelesaian yang ada dalam tubuh Kementerian ESDM. Adanya CT di kementrian
teknis tersebut menaruh setitik harap bahwa sejumlah masalah di sektor migas
akan segera diselesaikan. Pasalnya selama ini, Kementrian ESDM harus
berkonsultasi terlebih dahulu kepada Kementrian Koordinator Perekonomian dan
Kementrian Keuangan, sehingga membutuhkan proses yang panjang. Nah jika MESDM
dijabat oleh orang yang sama dengan Menko, sudah barang tentu proses
persetujuan akan menjadi lebih singkat.
Gebrakan CT ketika didapuk menjadi Menko
Perekonomian oleh SBY pada awal tahun ini memang pantas mendapatkan aplaus.
Dalam tempo singkat CT membuat list masalah-masalah yang harus segera
diselesaikan. Meski memang belum semuanya tuntas, tapi setidaknya ada keinginan
untuk menuntaskan masalah.
Saat ini terdapat sejumlah proyek migas yang
membutuhkan persetujuan dari pemerintah. Dan kebanyakan adalah masalah
perpanjangan kontrak blok migas. Misalnya Blok Mahakam yang dioperasikan Total
EP Indonesie dan Inpex yang akan habis pada 2017. Pihak operator sendiri telah
mengajukan proposal perpanjangan sejak 2008 namun hingga kini belum ada
keputusan. Selain itu, masih ada sejumlah blok-blok lain yang akan habis masa
kontraknya. Sepanjang 2015-2021 akan ada 28 blok migas yang habis masa
kontraknya. Dan artinya itu membutuhkan kerja cepat pemerintah untuk memberikan
persetujuan.
Diperkirakan pemerintah saat ini memang takut
untuk memberikan keputusan strategis. Tapi bukan berarti seorang CT tidak bisa
memberikan masukan kepada pemerintahan Joko Widodo melalui tim transisinya. Dan
juga tidak mungkin jika melalui konsultasi tersebut akhirnya diputuskan bahwa
pemerintah saat ini dan pemerintah akan datang sepakat untuk memperpanjang
kontrak-kontrak blok migas saat ini. Tujuannya tentunya untuk kemaslahatan
bersama. Ujung-ujungnya negara juga yang akan diuntungkan karena produksi
blok-blok tersebut setidaknya bisa dipertahankan jika pemerintah segera
memberikan keputusan.
Sebagai pengusaha tentunya CT sangat paham
bahwa dalam mengambil keputusan masalah perpanjangan, pemerintah harus melihatnya
dalam jangka panjang. Misalnya bagaimana Indonesia masih membutuhkan investor
dalam industri migas yang terkenal padat modal, karya dan teknologi.
Dengan demikian, harapan kita pada CT di sisa
usia kabinet ini sangat besar. Pasalnya jika tidak dilakukan saat ini, mau
kapan lagi? Setiap detik keputusan itu sangat bermanfaat bagi kepastian
investasi sang penanam modal dan tentunya saja, bagi produksi migas nasional di
masa mendatang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar