Presiden terpilih Joko Widodo, yang akrab
dipanggil dengan Jokowi, memastikan akan menaikkan harga bahan bakar minyak
(BBM) bersubsidi pada tahun ini, setidak-tidaknya pada bulan Oktober setelah ia
dilantik secara resmi menjadi RI-1. Langkah awal yang berani yang
ditunggu-tunggu publik sekaligus meruntuhkan dugaan pencitraan yang kerap kali
dituduhkan ke calon presiden ke-tujuh itu.
Jokowi menilai kenaikan
harga BBM adalah hal pertama yang harus dipecahkan pemerintahannya untuk
mengakhiri defisit ganda, defisit neraca pembayaran dan defisit perdagangan.
Kalau dua defisit tersebut bisa dipecahkan, Jokowi yakin bahwa Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan menjadi sehat. Dan jika makan trust
terhadap pemerintahan baru akan terbangun sehingga arus investasi masuk.
Jokowi berjanji bahwa rakyat akan mendapatkan
keuntungan dari pengalihan anggaran subsidi BBM ke pengembangan infrastruktur,
pertanian, usaha kecil, untuk solar nelayan. Untuk itu diperlukan sistem benar
dan dipastikan tepat sasaran agar penyaluran subsidi bisa
dipertanggungjawabkan.
Soal subsidi ini memang selalu menjadi urusan
pelik. Pasalnya tak hanya pejabat, bahkan rakyat biasa pun sebenarnya paham
bahwa harga BBM tidak bisa tidak harus segera dinaikkan. Sistem yang ada saat
ini dinilai tidak efektif dan salah sasaran. Bayangkan, bagaimana mungkin
seseorang yang sanggup membeli mobil tapi masih menikmati subsidi dari
pemerintah. Sedangkan rakyat di Papua yang notabene rawan miskin malah tidak
menikmatinya. Dimana rasa keadilan itu?
Meski demikian, menaikkan harga BBM adalah bola
panas yang terus dihindari pemerintah. Misalnya pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono secara tegas telah menolak untuk menaikkan harga BBM dengan alasan tidak
mau menambah beban masyarakat yang sudah cukup berat. Terlebih harga BBM sudah
dinaikkan pada 2013 lalu, ditambah dengan adanya kenaikan tarif dasar listrik
(TDL) pada tahun ini.
Padahal, dalam APBN 2014 pemerintah dan DPR
telah sepakat untuk memangkas volume quota BBM bersubsidi dari 48 juta
kiloliter menjadi 46 juta kl dengan asumsi harga BBM akan dinaikkan Rp 1.000
per liter pada Agustus ini. Tak heran jika pemerintah mendatang merasa pusing
tujuh keliling untuk memecahkan masalah agar subsidi BBM Indonesia tidak
melebihi budget yang telah ditentukan.
Tanpa ada kenaikan harga, masyarakat akan
terus boros mengonsumsi BBM bersubsidi dan kuota 46 juta kilo liter bisa
terlampaui. Jika terus mengeluarkan anggaran subsidi BBM ratusan triliun rupiah
per tahun, negara bisa bangkrut. Maka tidak ada lagi sisa untuk membangun
infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.
Memang diakuii, pemerintahan SBY telah
berulang kali melakukan kenaikan harga BBM. Bahkan tahun 2005 sempat menaikan
sampai 140 persen. Tahun 2013 lalu juga sudah menaikan kembali harga BBM
sekitar 33 persen. Namun bukan berarti kebijakan itu tidak bisa diambil lagi
mengingat saat ini kondisinya sudah sangat mendesak. Kebijakan kenaikan harga
BBM memang tidak popolis namun hanya itu satu-satunya yang bisa ditempuh untuk
mengurangi defisit anggaran.
Kebijakan pemberian subsidi BBM Indonesia
terus menuai kritik karena dianggap tidak mencapai sasaran. Bagaimana tidak,
kalangan menengah yang dianggap mampu –setidaknya mampu membeli mobil segenap
dengan segala konsekuensinya- tetap diberi kucuran subsidi oleh pemerintah.
Bank Dunia (World Bank) berulangkali telah
mengeritik kebijakan pemerintah tersebut. World Bank menilai tingginya subsidi
BBM dan listrik dapat menekan keuangan negara dan dapat menekan pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Pemerintah seharusnya mengalokasikan alokasi subsidi BBM
untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendesak, seperti subsidi untuk investasi
dalam bidang infrastruktur, perbaikan iklim investasi, dan perbaikan pelayanan
masyarakat.
Jika Jokowi berani menaikkan harga BBM, maka
sudah sepatutnya ia mendapatkan apresiasi. Pasalnya hal tersebut akan
meruntuhkan dugaan pencitraan terhadap Jokowi. Resiko menaikkan harga BBM sudah
jelas sangat berat, yaitu menurunnya simpati publik karena masyarakat Indonesia
sangat gerah dengan keputusan kenaikan harga BBM. Turunnya Presiden Soeharto
setelah 32 tahun merajai Indonesia sedikit banyak juga dipicu oleh kebijakan
kenaikan harga BBM.
Rakyat Indonesia banyak menaruh harapan
terhadap Jokowi. Bukan hanya soal menaikkan harga BBM, tapi juga menyelesaikan
banyak pekerjaan rumah pemerintahan SBY. Sebut saja soal perpanjangan kontrak
migas. Saat ini banyak blok-blok migas yang menanti kepastian pemerintah,
misalnya Blok Mahakam dan Blok Masela. Padahal kedua blok tersebut akan sangat
memberikan kontribusi yang signifikan pada APBN.
SBY memang terkenal dengan prinsip
kehati-hatian yang amat sangat. Bahkan saking hati-hatinya, terlalu banyak
kebijakan yang mengambang yang tidak membuahkan hasil. Padahal keputusan dari
pemerintah telah dinanti-nantikah khalayak. DI tangan Jokowi, gebrakan-gebrakan
yang tak populer itu lah yang dinanti-nanti. Sebagai mantan pengusaha, Jokowi
pasti mengerti langkah-langkah apa yang harus diambil untuk meningkatkan
investasi. Dan tak muluk jika kita mengharapkan Indonesia baru di masa lima
tahun mendatang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar