Senin, 15 September 2014

Sisi Nubi, Lambang Keseriusan Total Garap Mahakam di Tengah Ketidakpastian Kontrak

Di tengah ketidakpastian nasib perpanjangan Blok Mahakam, perusahaan asal Perancis Total E&P Indonesie tetap melakukan pengembangan-pengembangan untuk menjaga level produksi. Tanpa pengembangan tersebut, sudah dapat dipastikan produksi blok tersebut akan terjun bebas.

Proyek Sisi Nubi Fase 2B yang menelan investasi sebesar US$ 739 juta adalah salah satu contoh pengembangannya. Proyek yang bagian dari proyek MP3EI yang telah dicanangkan sejak beberapa waktu lalu akhirnya secara resmi diresmikan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 September 2014.

Sebelumnya pada 2012, Total E&P Indonesia membangun tiga platform yakni Stupa, West Stupa dan East Mandu yang kesemuanya berada di proyek South Mahakam fase 1 & 2, dan pad pertengahan 2013 menambah 6 platform baru di blok Mahakam. Tak dapat disangkal, proyek-proyek ini merupakan wujud komitmen Total dan partnernya Inpex untuk terus berinvestasi di  blok migas tersebut.

Proyek Sisi-Nubi Fase 2 adalah bagian dari pengembangan Lapangan Sisi-Nubi di Blok Mahakam yang terletak di lepas pantai Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Proyek pengembangan Sisi-Nubi Fase 2B bertujuan untuk memadang dua wellhead platform baru. Platform itu yakni WPS2 di Lapangan Sisi dan WPN3 di Lapangan Nubi, termasuk jaringan pipa interkoneksi yang akan terhubung dengan dua platform yang sudah ada di masing-masing lapangan
Dalam pengembangan proyek Sisi-Nubi Fase 2, Total akan menambah 35 sumur dan menelan biaya US$1.033 miliar, dimana US$ 739 juta dialokasikan untuk Fase 2B. Suatu angka fantastis meski di tengah ketidakjelasan nasibnya dalam pengelolaan blok tersebut.
Pada 24 Agustus 2013, mulai operasi dengan pemasangan jacket di salah satu platform yang baru yakni WPS2. Pekerjaan offshore ini berlangsung selama beberapa bulan dengan melibatkan lebih dari 1.200 orang dan 42 kapal berbagai jenis.Seluruh rancang bangun dan pabrikasi proyek ini dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan nasional yakni PT Gunanusa Fabricator dan PT Rajawali Swiber Cakrawala dimana kontrak EPSCI-nya disetujui pada 27 Januari 2012. Pelibatan perusahaan-perusahaan dan produk nasional maupun tenaga ahli Indonesia dalam proyek ini, merupakan bentuk komitmen Total E&P Indonesie guna meningkatkan kapasitas Indonesia di industri hulu migas.
Memang untuk menjaga kestabilan produksi migas di sebuah blok tua semacam Blok Mahakam bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Makanya tidak heran jika setiap tahun Total dan Inpex membelanjakan sekitar US$ 2,5 miliar per tahun untuk mengelola blok tersebut. Keduanya juga berjanji untuk menginjeksikan investasi sebesat US$ 7,3 miliar hingga 2017 jika pemerintah memperpanjang kontrak Blok Mahakam.
Keseriusan Total memang sudah tampak jelas. Namun pemerintah tak juga memberikan kepastian mengenai masalah perpanjangan. Padahal Pertamina sebagai BUMN juga berminat untuk mengelolanya. Dan duet Pertamina dan Total dalam mengelola Mahakam pasca 2017 bisa jadi merupakan solusi terbaik. Itu adalah win-win solution yang membawa kebaikan bagi negara ini. 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah sangat lamban dalam mengambil keputusan strategis dalam industri migas. Dalam kasus Mahakam, Total dan Inpex telah mengajukan proposal perpanjangan sejak 2008, namun hingga kini belum ada keputusan. Sementara pemerintah harus berkejaran dengan waktu agar produksi di Mahakam tidak menurun drastis akibat ketidakjelasan ini. 
Apalagi Mahakam adalah pemasok gas terbesar, yaitu sebesar 80 persen bagi kilang LNG Bontang di Kalimantan Timur. Kilang itu sendiri sebagian besar diperuntukan ekspor ke negara-negara Asia, seperti Jepang, Taiwan dan Korea Selatan. Jika saja produksi Mahakam turun, maka sudah pasti penerimaan negara juga akan anjlok.
Kini saatnya pemerintah serius menggarap kebijakan migas dan memberikan kepastian bagi investor. Bagaimanapun juga Indonesia masih membutuhkan investor asing mengingat industri migas adalah industri yang padat karya, padat modal dan padat teknologi. Apalagi cadangan migas yang tersisa saat ini hanya tinggal di wilayah laut dalam yang lebih membutuhkan investasi besar.


Tanpa mempercepat persetujuan perpanjangan blok dan juga menggiatkan kegiatan eksplorasi, maka produksi migas nasional akan terus dalam kondisi SOS. Artinya Indonesia harus siap menjadi negara pengimpor migas sejati. Nah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar