Di tengah ketidakpastian nasib perpanjangan Blok
Mahakam, perusahaan asal Perancis Total E&P Indonesie tetap melakukan
pengembangan-pengembangan untuk menjaga level produksi. Tanpa pengembangan
tersebut, sudah dapat dipastikan produksi blok tersebut akan terjun bebas.
Proyek Sisi Nubi Fase 2B yang menelan investasi
sebesar US$ 739 juta adalah salah satu contoh pengembangannya. Proyek yang bagian
dari proyek MP3EI yang telah dicanangkan sejak beberapa waktu lalu akhirnya
secara resmi diresmikan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15
September 2014.
Sebelumnya pada 2012, Total E&P Indonesia
membangun tiga platform yakni Stupa, West Stupa dan East Mandu yang kesemuanya
berada di proyek South Mahakam fase 1 & 2, dan pad pertengahan 2013
menambah 6 platform baru di blok Mahakam. Tak dapat disangkal,
proyek-proyek ini merupakan wujud komitmen Total dan partnernya Inpex untuk
terus berinvestasi di blok migas tersebut.
Proyek Sisi-Nubi Fase 2 adalah bagian dari pengembangan
Lapangan Sisi-Nubi di Blok Mahakam yang terletak di lepas pantai Kutai
Kartanegara, Kalimantan Timur. Proyek pengembangan Sisi-Nubi Fase 2B bertujuan
untuk memadang dua wellhead platform baru. Platform itu yakni WPS2 di
Lapangan Sisi dan WPN3 di Lapangan Nubi, termasuk jaringan pipa interkoneksi
yang akan terhubung dengan dua platform yang sudah ada di masing-masing
lapangan
Dalam pengembangan proyek Sisi-Nubi Fase 2,
Total akan menambah 35 sumur dan menelan biaya US$1.033 miliar, dimana US$ 739
juta dialokasikan untuk Fase 2B. Suatu angka fantastis meski di tengah
ketidakjelasan nasibnya dalam pengelolaan blok tersebut.
Pada 24 Agustus 2013, mulai operasi dengan
pemasangan jacket di salah satu platform yang baru yakni WPS2. Pekerjaan
offshore ini berlangsung selama beberapa bulan dengan melibatkan lebih dari
1.200 orang dan 42 kapal berbagai jenis.Seluruh rancang bangun dan pabrikasi
proyek ini dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan nasional yakni PT Gunanusa
Fabricator dan PT Rajawali Swiber Cakrawala dimana kontrak EPSCI-nya disetujui
pada 27 Januari 2012. Pelibatan perusahaan-perusahaan dan produk nasional
maupun tenaga ahli Indonesia dalam proyek ini, merupakan bentuk komitmen Total
E&P Indonesie guna meningkatkan kapasitas Indonesia di industri hulu migas.
Memang untuk menjaga kestabilan produksi migas
di sebuah blok tua semacam Blok Mahakam bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan dana
yang tidak sedikit. Makanya tidak heran jika setiap tahun Total dan Inpex
membelanjakan sekitar US$ 2,5 miliar per tahun untuk mengelola blok tersebut.
Keduanya juga berjanji untuk menginjeksikan investasi sebesat US$ 7,3 miliar
hingga 2017 jika pemerintah memperpanjang kontrak Blok Mahakam.
Keseriusan Total memang sudah tampak jelas.
Namun pemerintah tak juga memberikan kepastian mengenai masalah perpanjangan.
Padahal Pertamina sebagai BUMN juga berminat untuk mengelolanya. Dan duet
Pertamina dan Total dalam mengelola Mahakam pasca 2017 bisa jadi merupakan
solusi terbaik. Itu adalah win-win solution yang membawa kebaikan bagi negara
ini.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah sangat
lamban dalam mengambil keputusan strategis dalam industri migas. Dalam kasus
Mahakam, Total dan Inpex telah mengajukan proposal
perpanjangan sejak 2008, namun hingga kini belum ada keputusan. Sementara
pemerintah harus berkejaran dengan waktu agar produksi di Mahakam tidak menurun
drastis akibat ketidakjelasan ini.
Apalagi Mahakam adalah pemasok gas terbesar,
yaitu sebesar 80 persen bagi kilang LNG Bontang di Kalimantan Timur. Kilang itu
sendiri sebagian besar diperuntukan ekspor ke negara-negara Asia, seperti
Jepang, Taiwan dan Korea Selatan. Jika saja produksi Mahakam turun, maka sudah
pasti penerimaan negara juga akan anjlok.
Kini saatnya pemerintah serius menggarap
kebijakan migas dan memberikan kepastian bagi investor. Bagaimanapun juga
Indonesia masih membutuhkan investor asing mengingat industri migas adalah
industri yang padat karya, padat modal dan padat teknologi. Apalagi cadangan
migas yang tersisa saat ini hanya tinggal di wilayah laut dalam yang lebih
membutuhkan investasi besar.
Tanpa mempercepat persetujuan perpanjangan
blok dan juga menggiatkan kegiatan eksplorasi, maka produksi migas nasional akan
terus dalam kondisi SOS. Artinya Indonesia harus siap menjadi negara pengimpor
migas sejati. Nah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar