Total E&P Indonesie akan menginvestasikan dana untuk Blok Mahakam
sebesar Rp24 triliun pada tahun ini. Suatu langkah yang fantastis di tengah
ketidakpastian akan nasib Total setelah kontrak berakhir tahun 2017. Angka
tersebut sangat besar di tengah banyaknya perusahaan yang membatalkan
investasinya di tengah krisis harga minyak yang terus melemah.
Rencana investasi tersebut dirumuskan
melalui Work Program & Budget (WP&B) yang ditetapkan pemerintah melalui
SKK Migas.
Pada tahun ini, Total berencana untuk mengembangkan sumur yang
mencapai 120 buah dengan dana sebesar USD1,25 miliar atau Rp12,5 triliun. Untuk
well intervention, perusahaan asal Prancis ini mengalokasikan Rp300 miliar.
Sementara
untuk proyek, terutama pengembangan anjungan, dana yang disiapkan sebesar Rp250
miliar. Ada juga untuk operasi produksi dan administrasi umum sebesar Rp600
miliar.
Langkah rencana investasi Total ini
layak mendapatkan pujian lantaran hingga saat ini Pertamina masih mengkaji
siapa partner yang layak dalam mengelola Mahakam. Bahkan dalam proposal perpanjangannya,
Total mengajukan opsi untuk menginjeksikan dana sebesar $73 miliar jika memang
kontrak Mahakam diperpanjang.
Masyarakat Indonesia dan juga
tentunya Total dan Inpex telah menanti kepastian status pengelolaan Mahakam
sejak tahun 2008. Namun nyatanya pemerintahan di bawah Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono -di dua kali masa kepemimpinannya- gagal mengambil keputusan krusial
tersebut. Padahal keputusan cepat tersebut sangat penting karena menyangkut
masa depan produksi terkait dengan rencana investasi dan pengelolaan blok dalam
jangka panjang.
Dan kini pemerintah memberikan
blok tersebut kepada Pertamina. Meski tampaknya Pertamina sudah memberikan
kesan akan turut menggandeng Total pasca 2017. Keputusan Pertamina adalah
benar. Bagaimana tidak, hingga kini Mahakam adalah blok yang menghasilkan gas
terbesar di Indonesia. Salah urus hanya akan menyebabkan produksinya jeblok.
Padahal blok Mahakam juga memenuhi kebutuhan domestik, dari LNG terapung milik
Pertamina hingga industri di Kalimantan Timur.
Selain untuk memenuhi kebutuhan
domestik, Mahakam juga memasok gas untuk PT Badak NGL yang mengelola kilang
Bontang. Mahakam memasok sekitar dua per tiga dari total kebutuhan PT Badak.
Selanjutnya gas yang telah diolah menjadi LNG tersebut akan dikirimkan ke
sejumlah negara yang terikat kontrak dengan Indonesia, seperti Jepang, Taiwan
dan Korea Selatan.
Akankah perpindahan
operatorship akan mengganggu keberlangsungan kontribusi Mahakam selama ini?
Tentu saja potensi ke arah itu sangat terbuka lebar. Bagaimanapun juga
perpindahan operatorship membutuhkan masa transisi, yang durasinya bisa
mencapai 5-10 tahun. Tampaknya akan sulit rasanya perpindahan operatorship
tanpa masa transisi akan dapat berjalan smooth dan tidak berpengaruh terhadap produksi.
Makanya joint operation bisa jadi merupakan solusi ideal yang dapat diambil
untuk mengatasi dilema masalah Blok Mahakam.
Kini keputusan tersebut ada di
tangan Pertamina dan pemerintah. Harapan rakyat tentu saja, keputusan yang diambil
tidak hanya berlandaskan ego sektoral, melainkan keberlangsungkan kontribusi
Mahakam terhadap keuangan negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar