![]() |
| Tribunnews.com |
Tim Reformasi Tata Kelola Migas merekomendasikan
pemerintah untuk mengalihkan peran anak perusahaan Pertamina Petral di
Singapura dalam pengadaan minyak ke Integrated Supply Chain. Dengan demikian
segala upaya pengadaan minyak sepenuhnya harus dilakukan Pertamina dari
Indonesia. Peran Petral dikembalikan hanya sebagai market intelligence dalam
pemenuhan kebutuhan minyak Pertamina.
Petral memang sering kali dikaitkan dengan
keberadaan mafia migas. Mafia migas adalah Petral dan Petral adalah mafia
migas. Begitulah stigma Petral yang sering berseliweran di kalangan masyarakat.
Petral secara persepsi publik dan politik memang sudah bermasalah, sudah jelek
Maka tak heran, jika sering muncul wacana untuk membubarkan Petral.
Kabar pengalihan fungsi tugas Petral
sebenarnya adalah jalan tengah yang diambil oleh Tim Reformasi terkait adanya
dugaan sebagai sarang mafia migas di tubuh Petral. Keputusan rekomendasi tim
ini memang tidak sekeras rekomendasi Tim Transisi Jokowi-JK yang pernah
mengatakan Petral akan dibekukan dan pemerintah akan melakukan audit
investigatif terhadapnya. Selama proses pembekuan, masalah pembelian minyak
mentah dan BBM dilakukan oleh Pertamina dan dijalankan di Indonesia.
Bahkan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah
melontarkan wacana pembubaran Petral yang bermarkas di Singapura ini. Alasan
pembubaran Petral ini agar Pertamina sebagai korporasi dapat menjalankan
kinerjanya secara baik di sektor hulu. Dahlan Iskan menjelaskan, selama ini
banyak yang menilai bahwa Petral merupakan ajang korupsi para pejabat dan
petinggi Pertamina. Petral dijadikan ajang mendapatkan komisi dari ekspor impor
minyak bagi orang-orang tertentu. Karena berdomisili di Singapura, menjadi
sulit dikontrol.
Meski demikian publik memberikan apresiasi
terhadap rekomendasi Tim Reformasi tersebut. Selain memberikan rekomendasi
untuk mengalihfungsikan tugas Petral ke unit bisnis Pertamina, yaitu ISC, tim
juga merekomendasikan agar penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM oleh
ISC harus dilakukan melalui proses tender terbuka dengan mengundang semua
vendor terdaftar yang kredibel dan tidak terbatas pada National Oil Company.
Selama ini memang Pertamina mensyaratkan
bahwa pembelian minyak mentah harus dilakukan melalui NOC. Namun kenyataannya,
kata Ketua Tim Reformasi Faisal Basri, tidak semua NOC yang memenangi tender
selalu memasok minyak produksinya sendiri, bahkan kerap memperoleh minyak dari
pihak lain. Dengan demikian kebijakan tersebut perlu direvisi karena tidak
membawa manfaat bagi Pertamina.
Selain itu, tim juga merekomendasikan
pemerintah untuk mengganti segera manajemen Petral dan ISC dari tingkat
pimpinan tertinggi hingga manager. Dan juga pemerintah perlu melakukan audit
forensik agar segala sesuatu yang terjadi di Petral menjadi terang benderang.
Audit forensik dilakukan oleh institusi audit yang kompeten di Indonesia dan
memiliki jangkauan kerja ke Singapura serta negara terkait lainnya. Hasil audit
forensik bisa dijadikan sebagai pintu masuk membongkar potensi pidana,
khususnya membongkar praktik mafia migas.
Apapun hasilnya nanti, publik berharap agar
pemerintah menerima dan menjalan rekomendasi tersebut. Setidaknya potensi
adanya mafia migas sudah diusahakan untuk dibasmi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar