Kamis, 12 Maret 2015

Implikasi Ditunjuknya Pertamina Jadi Operator Di Blok Mahakam

Meski belum secara definitif Pertamina ditunjuk sebagai operator Mahakam, namun hampir pasti hal itu akan menjadi kenyataan. Pemerintah telah berulangkali mengatakan bahwa mereka menyakini kemampuan perusahaan plat merah dalam memegang kendali di blok gas terbesar di Indonesia tersebut. Lalu bagaimana implikasinya penunjukan tersebut terhadap penerimaan negara?

Beruntunglah Indonesia memiliki Blok Mahakam menyusul ditemukannya cadangan gas dalam jumlah besar pada tahun 1972 setelah lima tahun masa eksplorasi. Gabungan cadangan terbukti dan cadangan potensial atau dikenal dengan istilah 2P awal yang ditemukan saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik. Dari penemuan itu maka blok tersebut mulai diproduksikan dari lapangan Bekapai pada tahun 1974.

Produksi dan pengurasan secara besar-besaran cadangan tersebut di masa lalu membuat Indonesia menjadi eksportir LNG terbesar di dunia pada tahun 1980-2000. Kini, setelah pengurasan selama 40 tahun, maka sisa cadangan 2P minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TCF. Pada akhir maka kontrak tahun 2017 diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 juta barel dan cadangan 2P gas sebanyak 3,8 TCF pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF.

Meski jumlah cadangan tidak lagi sebesar dahulu namun keberadaan blok ini masih sangat membantu penerimaan negara. Setidaknya pendapatan negara melalui sektor migas akan melonjak. Jadi tak heran jika masalah perpanjangan blok Mahakam sangat erat kaitannya dengan upaya untuk menjamin dan memaksimalkan penerimaan negara.

Kini sudah barang tentu Pertamina yang ditunjuk sebagai operator akan membawa beban berat di pundak. Ia harus dapat mempertahankan level produksi blok tersebut agar penerimaan negara tidak terkoreksi. Pertamina sendiri merasa yakin dapat mengelola Mahakam baik secara financial, kemampuan sumberdaya manusia dan teknologi. Meski secara tidak langsung Pertamina mengakui bahwa ia akan menggandeng Total di Mahakam.


Dewan Perwakilan Rakyat sendiri menilai Pertamina memiliki kapasitas dalam mengelola Blok Mahakam. Namun Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika menilai bahwa potensi untuk menjaga kestabilan produksi pasca 2017 akan sulit jika dilakukan sendiri.

"Ya kalau mampu sih, mampu. Tetapi apakah kinerja akan seperti Total? Nah itu lain soal," ujar Kardaya di Jakarta.

Memang Pertamina telah memiliki pengalaman dalam melakukan pengelolaan blok ONWJ, WMO dan Sanga-Sanga. Namun tentunya ketiga blok ini tidak dapat disandingkan dengan Mahakam yang umurnya sudah jauh lebih tua dengan karakteristik yang jauh lebih sulit.


Nah ini pula lah yang menelatarbelakangi pemerintah yang meminta Pertamina untuk menggandeng Total di Mahakam. Keikutsertaan Total di Mahakam tidak bisa dihindari dan menjadi suatu keharusan jika ingin penerimaan negara dari sektor migas tidak anjlok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar