Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
telah memutuskan pengelola Blok Mahakam diberikan kepada Pertamina. Namun
pemerintah memberikan isyarat bahwa Pertamina bisa menggandeng operator
sebelumnya, yakni Total E&P Indonesie, untuk memastikan bahwa produksi gas
tidak akan terganggu.
Pemerintah memang sangat menyadari bahwa mengelola
Mahakam tidak lah sama dengan mengelola blok lain. Pasalnya blok tersebut
adalah blok tua yang jika salah sedikit saja pengelolaannya maka produksinya
akan jeblok. Padahal sebagai penghasil gas terbesar di Indonesia, Total
memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi pendapatan terhadap negara
ini. Nah pemerintah menghindari perubahan operator pada blok tersebut akan
mempengaruhi laju produksi yang berujung pada pendapatan negara.
Setelah menetapkan Pertamina sebagai operator
Mahakam,
untuk tahap selanjutnya, Kementerian ESDM akan
mengundang Pertamina dan Total E&P Indonesie untuk membahas mengenai porsi
saham. Selain itu, pemerintah juga mengharapkan adanya masa transisi yang dilakukan
secara cepat agar rencana eksplorasi tidak akan terhambat. Artinya, Pertamina
bisa segera masuk ke Blok Mahakam sebelum tahun 2017, agar transisinya bisa
berjalan baik.
Pemerintah memang menginginkan agar setidaknya
Pertamina menjadi pemilik saham mayoritas, meski bagaimanapun Total harus
diikutsertakan. Lalu bagaimana kesiapan Pertamina? Memang di atas kertas
Pertamina merasa mampu untuk mengelola Mahakam, meski harus diakui tampaknya
perusahaan plat merah itu kemungkinan bisa kesandung masalah dana karena
keterbatasan kemampuan. Pertamina, menurut ESDM, bersedia menginvestasikan dana
sebesar US$ 25,2 miliar selama 20 tahun di Mahakam. Jika dibagi 20 tahun, maka
hanya ada dana sekitar US$ 1,26 miliar yang diinjeksikan untuk Mahakam.
Angka itu memang besar mengingat Pertamina masih
harus mengejar target lainnya, yaitu menjadi the world's energy champion di tahun
2025. Dimana untuk mencapai target tersebut maka Pertamina harus melakukan
ekspansi besar-besaran di luar negeri karena sulit jika hanya mengandalkan
produksi dan cadangan migas dari dalam negeri yang telah menipis. Artinya untuk
ekspansi ini dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Jadi tentunya tidak bijak jika
Pertamina hanya mengalokasikan dana yang dimilikinya untuk Mahakam saja.
Padahal masih banyak blok-blok migas lain yang juga lebih potensial dan layak
dikembangkan selain Mahakam.
Nah, kembali ke soal investasi. Dengan kemampuan
investasi sebesar US$ 1,26 miliar per tahun di Mahakam, tidak bisa tidak
Pertamina harus menggandeng Total. Pasalnya saat ini Total dan Inpex telah
menggelontorkan dana sebesar US$ 2,4-2,5 miliar per tahun untuk mengelola Mahakam.
Tentunya dengan prosentase laju penurunan produksi yang semakin meningkat dari
tahun ke tahun, maka idealnya Pertamina harus bekerjasama dengan Total
mengingat diperlukannya bantuan teknologi, finansial dan tentu saja sumber daya
manusia untuk memastikan bahwa produksi Mahakam tidak akan mengalami perubahan.
Lalu bagaimana dengan porsinya? Memang keinginan
pemerintah Pertamina menjadi pemegang saham mayoritas, namun rasanya bukan dosa
jika Pertamina menyerahkan sebagian besar saham Mahakam ke Total karena alasan
keuangan di atas. Atau bisa saja, saham mayoritas diberikan ke Total selama
masa transisi lima tahun pertama kemudian jika segala sesuatunya telah berjalan
lancar maka kendali operasi diberikan ke Pertamina.
Apapun hasilnya nanti, kita hanya bisa menunggu.
Pemerintah berharap hasil kajian ini paling lambat bisa diberikan pada bulan
mendatang agar kejelasan masalah Mahakam bisa semakin cepat selesai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar