Selasa, 10 Maret 2015

Pemerintah Tunjuk Pertamina Garap Mahakam, Total Diharapkan Juga Ikutan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memutuskan pengelola Blok Mahakam diberikan kepada Pertamina. Namun pemerintah memberikan isyarat bahwa Pertamina bisa menggandeng operator sebelumnya, yakni Total E&P Indonesie, untuk memastikan bahwa produksi gas tidak akan terganggu.

Pemerintah memang sangat menyadari bahwa mengelola Mahakam tidak lah sama dengan mengelola blok lain. Pasalnya blok tersebut adalah blok tua yang jika salah sedikit saja pengelolaannya maka produksinya akan jeblok. Padahal sebagai penghasil gas terbesar di Indonesia, Total memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi pendapatan terhadap negara ini. Nah pemerintah menghindari perubahan operator pada blok tersebut akan mempengaruhi laju produksi yang berujung pada pendapatan negara.

Setelah menetapkan Pertamina sebagai operator Mahakam,
untuk tahap selanjutnya, Kementerian ESDM akan mengundang Pertamina dan Total E&P Indonesie untuk membahas mengenai porsi saham. Selain itu, pemerintah juga mengharapkan adanya masa transisi yang dilakukan secara cepat agar rencana eksplorasi tidak akan terhambat. Artinya, Pertamina bisa segera masuk ke Blok Mahakam sebelum tahun 2017, agar transisinya bisa berjalan baik.

Pemerintah memang menginginkan agar setidaknya Pertamina menjadi pemilik saham mayoritas, meski bagaimanapun Total harus diikutsertakan. Lalu bagaimana kesiapan Pertamina? Memang di atas kertas Pertamina merasa mampu untuk mengelola Mahakam, meski harus diakui tampaknya perusahaan plat merah itu kemungkinan bisa kesandung masalah dana karena keterbatasan kemampuan. Pertamina, menurut ESDM, bersedia menginvestasikan dana sebesar US$ 25,2 miliar selama 20 tahun di Mahakam. Jika dibagi 20 tahun, maka hanya ada dana sekitar US$ 1,26 miliar yang diinjeksikan untuk Mahakam.

Angka itu memang besar mengingat Pertamina masih harus mengejar target lainnya, yaitu menjadi the world's energy champion di tahun 2025. Dimana untuk mencapai target tersebut maka Pertamina harus melakukan ekspansi besar-besaran di luar negeri karena sulit jika hanya mengandalkan produksi dan cadangan migas dari dalam negeri yang telah menipis. Artinya untuk ekspansi ini dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Jadi tentunya tidak bijak jika Pertamina hanya mengalokasikan dana yang dimilikinya untuk Mahakam saja. Padahal masih banyak blok-blok migas lain yang juga lebih potensial dan layak dikembangkan selain Mahakam.

Nah, kembali ke soal investasi. Dengan kemampuan investasi sebesar US$ 1,26 miliar per tahun di Mahakam, tidak bisa tidak Pertamina harus menggandeng Total. Pasalnya saat ini Total dan Inpex telah menggelontorkan dana sebesar US$ 2,4-2,5 miliar per tahun untuk mengelola Mahakam. Tentunya dengan prosentase laju penurunan produksi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, maka idealnya Pertamina harus bekerjasama dengan Total mengingat diperlukannya bantuan teknologi, finansial dan tentu saja sumber daya manusia untuk memastikan bahwa produksi Mahakam tidak akan mengalami perubahan.

Lalu bagaimana dengan porsinya? Memang keinginan pemerintah Pertamina menjadi pemegang saham mayoritas, namun rasanya bukan dosa jika Pertamina menyerahkan sebagian besar saham Mahakam ke Total karena alasan keuangan di atas. Atau bisa saja, saham mayoritas diberikan ke Total selama masa transisi lima tahun pertama kemudian jika segala sesuatunya telah berjalan lancar maka kendali operasi diberikan ke Pertamina.


Apapun hasilnya nanti, kita hanya bisa menunggu. Pemerintah berharap hasil kajian ini paling lambat bisa diberikan pada bulan mendatang agar kejelasan masalah Mahakam bisa semakin cepat selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar