Pertamina dan Petronas adalah dua
perusahaan minyak dan gas bumi plat merah yang sama-sama kuat di kancah dunia
perminyakan Asia Tenggara. Pertamian ibarat guru bagi Petronas dan perusahaan
asal Malaysia itu ibarat murid. Banyak hal dari system perminyakan Indonesia
yang diadopsi di Malaysia. Namun setelah puluha tahun, pada akhirnya sang guru
harus mengakui bahwa dirinya ternyata kalah dari sang murid.
Setidaknya hal tersebut diungkapkan
Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan (Kompas, 20 Oktober 2013). Menurutnya
memang kondisi Pertamina saat ini masih jauh
dibandingkan Petronas. Namun hal itu tak lepas dari perbedaan bentuk kedua
perusahaan tersebut ketika pertama kali berdiri. Pertamina baru mulai berpikir
secara korporasi setelah menjadi persero 10 tahun lalu. Sementara Petronas
sudah dalam bentuk korporasi sejak dibentuk.
Nama Karen Agustiawan saat
ini sudah mendunia. Ia menyabet peringkat ke-6 dalam jajaran 50 wanita paling
kuat di dunia bisnis versi majalah ”Fortune Global”. Karena dianggap berhasil
mengelola Pertamina dengan pendapatan 70 miliar dollar AS dan laba bersih 2,7
miliar AS menyabet peringkat 122 pada ”Fortune Global 500” (Kompas, 20 Oktober
2013).
Pertamina dibawah nahkoda Karen
memang menunjukan kemajuan yang luar biasa. Setidaknya Pertamina mulai
melancarkan kegiatan akuisisi, baik di dalam maupun luar negeri, seperti
misalnya mengambil alih ONWJ (Blok
Offshore North West Java) dari BP dan Blok WMO (Blok West Madura Offshore) pada
tahun 2011. Hal ini sejalan dengan targetnya untuk memproduksi 2,2 juta barrel
setara minyak tahun 2025 yang 30 persen diantaranya diharapkan berasal dari
operasi di luar negeri.
Ia pun berencana untuk melakukan
pengembangan mengingat banyak cadangan migas potensial yang belum menjadi
cadangan terbukti. Untuk itu diperlukan bagian pengembangan yang akan memilah mana aset yang bisa cepat diproduksi dengan
infrastruktur termurah dan yield (imbal hasil investasi) tercepat. Meskipun demikian Karen juga mengakui bahwa saat ini Pertamina
belum optimal. Sedangkan arus modal korporat juga
terbatas. Jadi, cadangan potensial yang punya risiko akan dikerjasamakan dengan
pihak lain.
Lalu bagaimana dengan
pengembangan Blok Mahakam? Karen amat yakin dapat melakukannya mengingat
Mahakam memiliki cadangan terbukti dan produksi yang sudah jelas. Sehingga
kalaupun dibutuhkan dana besar, Pertamina akan dengan mudahnya mendapatkan
sokongan biaya, baik melalui penawaran saham perdana (initial public offering) ataupun dana pihak ketiga lainnya.
Sebagaimana diketahui,
Pertamina sangat berambisi menjadi operator pasca kontrak saat ini habis tahun
2017.Tapi Mahakam memiliki karakteristik yang berbeda dengan blok lain. Selain
membutuhkan dana, blok tersebut juga membutuhkan teknologi dan keahlian
operatornya. Apakah Pertamina sanggup melakukannya, terlebih lagi posisinya
saat ini masih di bawah Petronas?
Resiko pemerintah untuk
melepaskan Blok Mahakam 100 persen ke Pertamina sangat tinggi. Jika sekali saja
salah mengoperasikannya, maka produksi Blok Mahakam akan turun drastis dan
bukan mustahil akan sulit untuk mencapai angka normal. Dan tentu saja ini akan
mengganggu neraca keuangan negara. Misalnya saja
pada tahun ini. Total memperkirakan pemerintah setidaknya akan mendapatkan
bagian sebesar Rp 45 trilliun dari Mahakam, sedangkan operator saat ini yaitu Total
E&P Indonesie dan partnernya Inpex, masing-masing hanya sebesar Rp 15
triliun.
Pada tahun ini Mahakam diperkirakan
memproduksi 1,7 miliar kaki kubik gas per hari. Angka ini jauh menurun
dibandingkan produksi-produksi tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 2,6
miliar kaki kubik per hari. Namun Total dan partnernya juga terus melakukan
pengembangan-pengembangan lapangan agar dapat menahan
laju penurunan di level 1,1 miliar kaki kubik per hari pada 2017 melalui
injekasi investasi sebesar $7,3 miliar. Namun tanpa pengembangan lapangan apa
pun, maka produksi gas Mahakam akan jeblok ke level 800.000 kaki kubik per
hari.
Tentunya angka $7,3 miliar sangat
besar. Jika Pertamina mengoperasikan Mahakam sendiri, tentunya ini akan
menyedot keuangan korporat. Ruang gerak Pertamina untuk melakukan akuisisi
blok-blok migas di luar negeri akan terbatas. Sedangkan pengembangan di dalam
negeri, seperti misalnya Blok Natuna, juga akan menguras kocek Pertamina.
Pengembangan Blok East Natuna diperkirakan akan menelan dana $40 juta.
Melihat kondisi tersebut, solusi
terbaik dalam penyelesaian kasus perpanjangan Blok Mahakam adalah dengan
mengambil jalan tengah. Dimana Pertamina tetap dapat berpartisipasi di blok
tersebut sebagai representasi perusahaan nasional, namun Total-Inpex tetap
dapat terus mengelolanya, sebagaimana yang ditulis dalam proposal Total
beberapa bulan yang lalu. Total bersedia melakukan transfer teknologi selama masa
transisi di lima tahun pertama kepada Pertamina. Total dan Inpex juga bersedia
menurunkan participating interestnya dari 50% saat ini menjadi 35%
masing-masing.
Pada lima tahun pertama itulah
Pertamina dapat belajar banyak dari Total dalam pengoperasian Mahakam. Dan dari
pembelajaran itu pula lah Pertamina dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat
dari Total untuk pengeloaan blok-blok lain.
Tak dipungkiri, bagaimanapun juga
Total adalah salah satu perusahaan migas terbesar di dunia. Ia sudah makan asam
garam yang jauh lebih banyak daripada perusahaan migas di Asia Tenggara ini. Jadi
bukan tak mungkin, jika Pertamina berhasil menyerap ilmu dari Total selama masa
transisi tersebut, maka dalam waktu dekat Pertamina dapat bersaing melawan
Petronas. Semoga!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar