Kamis, 24 Oktober 2013

Ketika Pertamina Berambisi Ingin Saingi Petronas

Pertamina dan Petronas adalah dua perusahaan minyak dan gas bumi plat merah yang sama-sama kuat di kancah dunia perminyakan Asia Tenggara. Pertamian ibarat guru bagi Petronas dan perusahaan asal Malaysia itu ibarat murid. Banyak hal dari system perminyakan Indonesia yang diadopsi di Malaysia. Namun setelah puluha tahun, pada akhirnya sang guru harus mengakui bahwa dirinya ternyata kalah dari sang murid.

Setidaknya hal tersebut diungkapkan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan (Kompas, 20 Oktober 2013). Menurutnya memang kondisi Pertamina saat ini masih jauh dibandingkan Petronas. Namun hal itu tak lepas dari perbedaan bentuk kedua perusahaan tersebut ketika pertama kali berdiri. Pertamina baru mulai berpikir secara korporasi setelah menjadi persero 10 tahun lalu. Sementara Petronas sudah dalam bentuk korporasi sejak dibentuk.

Nama Karen Agustiawan saat ini sudah mendunia. Ia menyabet peringkat ke-6 dalam jajaran 50 wanita paling kuat di dunia bisnis versi majalah ”Fortune Global”. Karena dianggap berhasil mengelola Pertamina dengan pendapatan 70 miliar dollar AS dan laba bersih 2,7 miliar AS menyabet peringkat 122 pada ”Fortune Global 500” (Kompas, 20 Oktober 2013).

Pertamina dibawah nahkoda Karen memang menunjukan kemajuan yang luar biasa. Setidaknya Pertamina mulai melancarkan kegiatan akuisisi, baik di dalam maupun luar negeri, seperti misalnya mengambil alih ONWJ (Blok Offshore North West Java) dari BP dan Blok WMO (Blok West Madura Offshore) pada tahun 2011. Hal ini sejalan dengan targetnya untuk memproduksi 2,2 juta barrel setara minyak tahun 2025 yang 30 persen diantaranya diharapkan berasal dari operasi di luar negeri.

Ia pun berencana untuk melakukan pengembangan mengingat banyak cadangan migas potensial yang belum menjadi cadangan terbukti. Untuk itu diperlukan bagian pengembangan yang akan memilah mana aset yang bisa cepat diproduksi dengan infrastruktur termurah dan yield (imbal hasil investasi) tercepat. Meskipun demikian Karen juga mengakui bahwa saat ini Pertamina belum optimal. Sedangkan arus modal korporat juga terbatas. Jadi, cadangan potensial yang punya risiko akan dikerjasamakan dengan pihak lain.

Lalu bagaimana dengan pengembangan Blok Mahakam? Karen amat yakin dapat melakukannya mengingat Mahakam memiliki cadangan terbukti dan produksi yang sudah jelas. Sehingga kalaupun dibutuhkan dana besar, Pertamina akan dengan mudahnya mendapatkan sokongan biaya, baik melalui penawaran saham perdana (initial public offering) ataupun dana pihak ketiga lainnya.

Sebagaimana diketahui, Pertamina sangat berambisi menjadi operator pasca kontrak saat ini habis tahun 2017.Tapi Mahakam memiliki karakteristik yang berbeda dengan blok lain. Selain membutuhkan dana, blok tersebut juga membutuhkan teknologi dan keahlian operatornya. Apakah Pertamina sanggup melakukannya, terlebih lagi posisinya saat ini masih di bawah Petronas?

Resiko pemerintah untuk melepaskan Blok Mahakam 100 persen ke Pertamina sangat tinggi. Jika sekali saja salah mengoperasikannya, maka produksi Blok Mahakam akan turun drastis dan bukan mustahil akan sulit untuk mencapai angka normal. Dan tentu saja ini akan mengganggu neraca keuangan negara. Misalnya saja pada tahun ini. Total memperkirakan pemerintah setidaknya akan mendapatkan bagian sebesar Rp 45 trilliun dari Mahakam, sedangkan operator saat ini yaitu Total E&P Indonesie dan partnernya Inpex, masing-masing hanya sebesar Rp 15 triliun.

Pada tahun ini Mahakam diperkirakan memproduksi 1,7 miliar kaki kubik gas per hari. Angka ini jauh menurun dibandingkan produksi-produksi tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 2,6 miliar kaki kubik per hari. Namun Total dan partnernya juga terus melakukan pengembangan-pengembangan lapangan agar dapat menahan laju penurunan di level 1,1 miliar kaki kubik per hari pada 2017 melalui injekasi investasi sebesar $7,3 miliar. Namun tanpa pengembangan lapangan apa pun, maka produksi gas Mahakam akan jeblok ke level 800.000 kaki kubik per hari.

Tentunya angka $7,3 miliar sangat besar. Jika Pertamina mengoperasikan Mahakam sendiri, tentunya ini akan menyedot keuangan korporat. Ruang gerak Pertamina untuk melakukan akuisisi blok-blok migas di luar negeri akan terbatas. Sedangkan pengembangan di dalam negeri, seperti misalnya Blok Natuna, juga akan menguras kocek Pertamina. Pengembangan Blok East Natuna diperkirakan akan menelan dana $40 juta.

Melihat kondisi tersebut, solusi terbaik dalam penyelesaian kasus perpanjangan Blok Mahakam adalah dengan mengambil jalan tengah. Dimana Pertamina tetap dapat berpartisipasi di blok tersebut sebagai representasi perusahaan nasional, namun Total-Inpex tetap dapat terus mengelolanya, sebagaimana yang ditulis dalam proposal Total beberapa bulan yang lalu. Total bersedia melakukan transfer teknologi selama masa transisi di lima tahun pertama kepada Pertamina. Total dan Inpex juga bersedia menurunkan participating interestnya dari 50% saat ini menjadi 35% masing-masing.

Pada lima tahun pertama itulah Pertamina dapat belajar banyak dari Total dalam pengoperasian Mahakam. Dan dari pembelajaran itu pula lah Pertamina dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dari Total untuk pengeloaan blok-blok lain.


Tak dipungkiri, bagaimanapun juga Total adalah salah satu perusahaan migas terbesar di dunia. Ia sudah makan asam garam yang jauh lebih banyak daripada perusahaan migas di Asia Tenggara ini. Jadi bukan tak mungkin, jika Pertamina berhasil menyerap ilmu dari Total selama masa transisi tersebut, maka dalam waktu dekat Pertamina dapat bersaing melawan Petronas. Semoga!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar