Pencalonan Jokowi Widodo calon presiden Republik
Indonesia dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) memang masih
menjadi buah bibir. Pasalnya setelah digadang-gadang selama ini akhirnya pendeklarasian
itu pun diumumkan. Ibarat pucuk dicita ulam pun tiba.
Yang menarik, meski pencalonan tersebut sudah bisa
diramalkan, namun ternyata beberapa lembaga survey, seperti misalnya Indikator
telah melakukan polling mengenai pro dan kontra Jokowi sebagai calon presiden.
Survey itu dilakukan jauh sebelum pendeklarasian Jokowi sebagai capres!
Apakah isi surveynya? Intinya mayoritas responden,
sekitar 80% warga Jakarta, memiliki
penilaian yang positif terhadap Jokowi meski baru memimpin DKI Jakarta selama
1,5 tahun ini. Dalam laporannya, Indikator memaparkan bahwa poling tersebut kerja
Jokowi dinilai positif dalam penanggulangan banjir. Meski dalam mengurangi
kemacetan lalu lintas, kerja Jokowi dinilai negative.
Masih dalam laporan tersebut, ternyata Jokowi
unggul dengan mengantongi 41.5% dukungan dibandingkan dengan calon-calon
presiden lainnya, seperti Prabowo (16.3%), Wiranto (9.8%), Aburizal Bakrie
(8.8%), Megawati (6.6%) dan Dahlan Iskan (2.5%). Dari seluruh responden yang
ada, masih terdapat sekitar 14.6% yang masuk dalam massa mengambang (floating mass) karena belum menentukan
pilihan.
Hasil polling yang menarik lainnya adalah
harapan-harapan para responden terhadap calon-calon presiden periode 2014-2019.
Isu memberantas korupsi unggul karena bertengger di top list. Selain itu harapan-harapan lainnya adalah menciptakan
lapangan kerja, mengendalikan harga pokok, penghapusan utang luar negeri, pemerataan
pendapatan, mencegah masuknya barang dan pekerja dari luar negeri, melindungi
alam Indonesia dari kehancuran akibat usaha. Jokowi dianggap dapat menjawab
harapan-harapan itu, meski sesungguhnya dua isu terakhir adalah misi utama yang
sering didengungkan dalam kampanye Prabowo.
Yang patut digarisbawahi dalam hasil polling ini
adalah isu nasionalisme melalui ‘mencegah masuknya barang dan pekerja dari luar
negeri’. Ternyata apa-apa yang berbau luar negeri masih dianggap musuh bagi
segelintir orang. Ironis, karena di era globalisasi ini aspek
persaingan bebas antar bangsa, antar negara dan antar individu dalam segala
aspek kehidupan, terutama disektor ekonomi sangat terbuka. Dan lagi tidak selamanya
barang impor dan juga ekspatriat itu jelek. Memang saat ini ketergantungan
Indonesia terhadap impor sangat tinggi, bahkan untuk urusan beras dan bawang
saja negara ini masih harus mengimpor dari negara lain. Miris dan ironis
memang, mengingat Indonesia adalah negara agrikultur, dimana pertanian masih
menjadi pendapatan utama di sejumlah daerah.
Namun di sisi lain, kita masih sangat membutuhkan
beberapa barang-barang yang hanya bisa didapat melalui keran impor, misalnya
mobil atau barang elektronik lainnya yang belum dapat diproduksi industri dalam
negeri. Jadi jika bicara ingin membatasi barang impor tentunya harus
dipilah-pilah mana yang masih dibutuhkan dan mana yang tidak.
Lain lagi dengan ekspatriat. Lagi-lagi keberadaan
mereka masih dibutuhkan di negeri ini. Ada beberapa bidang usaha yang masih
memerlukan sentuhan tangan asing, misalnya saja industri minyak dan gas. Tak
dapat dipungkiri, sejumlah teknologi hanya dapat dikuasai oleh tenaga asing.
Jadi mau tidak mau, Indonesia masih membutuhkannya. Dan lagi adanya ekspatriat
ini merupakan hal jamak di berbagai negara lainnya.
Kembali ke hasil polling di atas. Kesimpulan
menarik lainnya dari hasil polling tersebut adalah tiadanya harapan untuk
memperbaiki iklim investasi usaha untuk menarik investasi asing. Kondisi ini sanga berbanding terbalik dengan kondisi
adanya keingininan untuk menambah lapangan kerja. Tampaknya investasi asing
masih belum mendapatkan perhatian penuh dari masyarakat. Lagi-lagi karena asing
dianggap sebagai ‘penjajah’ yang tak diinginkan, dianggap serakah menguasai
negeri ini, dan lain sebagainya.
Bagaimanapun investasi asing sangat dibutuhkan.
Misalnya lagi-lagi di industri migas. Untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan
eksploitasi saja, perusahaan migas asing harus membelanjakan modal sekitar
milliaran dollar AS per tahunnya. Itu baru untuk satu lapangan. Indonesia Petroleum Association mencatat
selama tahun 2013, investasi dari bidang usaha migas mencapai $23 miliar dan
berhasil menyumbangkan pendapatan ke kas negara sebesar US$32 miliar.
Apalagi kini, wilayah kerja migas nasional sudah
mengarah ke remote area dan laut dalam yang notabene membutuhkan biaya yang
berkali-kali lipat lebih besar. Kementrian Energi dan
Sumber Daya Mineral melansir biaya yang harus dirogoh dari kocek investor dalam
kegiatan eksplorasi tersebut. Misalnya untuk menemukan satu sumber gas baru di
darat atau onshore, diperlukan investasi minimal US$ 30 juta atau sekitar Rp
300 miliar. Sementara untuk mengebor sumur gas baru di tengah laut atau offshore, diperlukan dana minimal US$
100 juta atau setara Rp 1 triliun. Suatu angka yang fantastis, mengingat
investor belum tentu menemukan cadangan hidrokarbon yang ekonomis.
Apakah perusahaan nasional bisa melakukannya? Melakukan eksplorasi dengan resiko uang hilang jika tidak ditemukan cadangan apapun? Dan lagi, ada banyak pekerja lokal yang diikutsertakan dalam setiap pengelolaan wilayah kerja migas. Total E&P Indonesie sendiri tercatat memiliki puluhan ribu karyawan berwarganegara Indonesia dalam mengelola Blok Mahakam di Kalimantan Timur.
Apakah perusahaan nasional bisa melakukannya? Melakukan eksplorasi dengan resiko uang hilang jika tidak ditemukan cadangan apapun? Dan lagi, ada banyak pekerja lokal yang diikutsertakan dalam setiap pengelolaan wilayah kerja migas. Total E&P Indonesie sendiri tercatat memiliki puluhan ribu karyawan berwarganegara Indonesia dalam mengelola Blok Mahakam di Kalimantan Timur.
Kembali ke soal Jokowi, asa dan harapan pada
calon pemimpin masa depan ini sangat besar. Dan harapan itu tak sebatas hanya
disampaikan oleh responden yang berpartisipasi pada polling itu saja. Masih ada
bagian masyarakat lain yang berharap pemerintah baru nanti dapat menciptakan
iklim investasi yang kondusif sehingga dapat menarik investasi asing. Kini
belum saatnya Indonesia lepas 100 persen dari sentuhan tangan asing. Suka tidak
suka, kita harus realistis dan berdamai dengan keadaan itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar