Situasi perpolitikan Indonesia tengah memanas
menjelang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
(Pilpres) yang jadwalnya terlaksana pada 9 Juli mendatang. Ini
tak lepas dari hasil hitung cepat (quick
count) Pemilihan Legislatif kemarin yang memprediksikan bahwa tidak ada
partai politik yang dominan untuk dapat melenggang sendirian dalam mencalonkan
presiden. PDIP yang sebelumnya menargetkan meraih 27 persen suara tampaknya
harus puas dengan prediksi angka 19 persen. Mau tak mau koalisi harus dilakukan
untuk memuluskan Joko Widodo menjadi RI-1.
Sejumlah pengamat politik menilai bahwa akan ada tiga
pasangan capres yang akan bertarung di pilpres nanti adalah PDIP, Golkar, dan
Gerindra. PDIP sejauh ini akan berkoalisi dengan Nasdem dan Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB). Sementara Partai Golkar diprediksi akan menjalin koalisi bersama
dengan Hanura dan PKS. Sedangkan PPP kemungkinan
akan berkoalisi dengan Gerindra, bersama dengan PAN dan
PBB. Sementara Partai Demokrat masih belum menunjukkan keinginannya untuk
berkoalisi dengan satu partai pun karena masih menunggu hasil konvensi Mei
mendatang. Meski demikian banyak pengamat yang memprediksikan Demokrat akan
bersanding dengan Gerindra pada Pilpres mendatang.
Meski peta perkoalisian belum resmi
diumumkan, namun sejumlah spekulasi mengenai nama calon presiden dan calon
wakil presiden telah beredar di pasaran. Maklum saja, dengan tidak adanya
partai yang dominan dalam Pemilihan Legislatif kemarin, faktor calon wakil
presiden akan menjadi faktor yang sangat menentukan kemenangan sang calon
presiden. Kini masyarakat sudah semakin melek informasi, sehingga diperkirakan
yang dipilih pada Pemilihan Presiden dan Calon Wakil Presiden nanti, figure
calon pemimpin lah yang akan dipilih, bukan karena partai pengusungnya.
Dari ketiga calon presiden yang
diperkirakan akan melaju pada Juli mendatang, baru PDIP lah yang tampaknya
memberikan titik terang dalam mencalonkan cawapres. Sedangkan partai-partai
lain masih abu-abu. Partai Golkar diperkirakan akan memasangkan Ketua
Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto dalam
Pemilu Presiden 2014 menemui kendala. Meski saat ini Golar masih menemui
kendala karena Wiranto diperkirakan tidak mau "turun kelas" menjadi
calon wakil presiden. Sedangkan Prabowo diperkirakan akan berpasangan
dengan Pramono Edhie Wibowo. Namun yang harus diingat Wiranto dan Pramono Edhie
Wibowo berasal dari kalangan miiliter. Sedangkan saat ini fenomena anti militer
masih tampak pada sebagian orang.
Sejauh ini baru PDIP yang tampaknya
sudah agak mengerucut dalam memilih cawapres. Partai berlambang Banteng itu disebut-sebut
tengah melirik tiga nama untuk dipasangkan dengan Jokowi. Diduga,
tiga calon itu adalah Jusuf Kalla, Mahfud MD, dan mantan KSAD Ryamizard
Ryacudu. Dari ketiga nama tersebut, nama Mahfud dan Jusuf Kalla dinilai sangat
menjual karena kedua sosok tersebut berasal dari sipil dan terkenal sangat
kontroversial ketika menduduki posisinya sebagai Cawapres Kabinet Indonesia
Bersatu Jilid 1 dan Ketua Mahkamah Konstitusi.
Tentunya kita masih ingat bagaimana Jusuf Kalla
ketika menjabat sebagai Wakil Presiden memiliki track record yang bagus dalam
mengambil keputusan. Ia dikenal sangat cepat tanggap dan berani mengambil
keputusan dengan cepat. Misalnya saja ketika bencana Tsunami melanda Aceh pada
2004, Jusuf Kalla segera memerintahkan tanggap darurat dan menyatakan Aceh
harus bersih dalam tempo tiga bulan.
Sementara Mahfud MD pun terkenal sebagai sosok
kontroversial melalui keputusannya untuk membekukan Badan
Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) pada 13 November
2012 karena lembaga tersebut dinilai tidak sesuai dengan konstitusi. Kontan
saja, keputusan tersebut disambut positif karena banyak orang yang melihat
lembaga ini sebagai lembaga yang obesitas.
Meski demikian, meski kedua tokoh tersebut memiliki
track record baik, sejumlah pengusaha menilai bahwa Jusuf Kalla lebih mumpuni
dibandingkan dengan Mahfud karena memiliki pengalaman di bidang pemerintahan
yang diharapkan dapat membantu Jokowi dalam menjalankan tugasnya. Terlebih
lagi, Jusuf Kalla dipandang sebagai sosok representasi tokoh
dari luar Jawa –dimana sebagian orang sudah bosan jika hanya orang Jawa yang
memimpin negara ini-. Dengan kehadiran Jusuf Kalla sebagai pendamping Jokowi,
diharapkan pembangunan tidak hanya dilakukan di Jawa, tetapi juga menyeluruh di
luar Jawa, terutama di Indonesia bagian timur. Selain itu, Jusuf Kalla dinilai
cukup mumpuni dalam bidang pemerintahan, seperti pengalamannya di bidang
ekonomi.
Siapapun cawapres yang akan dipilih nanti, semoga
duet presiden dan cawapres terpilih akan memberikan warna positif bagi negara
ini. Pasalnya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemimpin baru negara
demi menciptakan iklim investasi yang kondusif, diantaranya memberikan
kepastian hukum terkait perpanjangan blok-blok migas yang akan habis masa
kontraknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar