Masalah perpanjangan kontrak Blok Mahakam harus
bisa diselesaikan pemerintah Indonesia pada tahun ini. Jika tidak maka sudah
dipastikan produksi blok tersebut bisa turun karena tidak adanya kepastian
untuk investasi. Desakan sejumlah pihak, seiring dengan berakhirnya kontrak,
juga semakin meningkat. Namun langgamnya tetap sama: Total atau Pertamina kah
yang akan mengelolanya?
Lamanya keputusan pemerintah dalam memberikan
keputusan terkait perpanjangan blok sudah menjadi focus pada industri migas.
Ketua Indonesian Petroleum Association Lukman Mahfudz pada pertengahan pekan
ini mengingatkan bahwa 30 persen produksi Migas nasional, yaitu sebesar 635.000 setara minyak per hari (boepd) dari 20 KKKS
yang akan habis masa kontraknya
dalam 5 tahun ke depan. Sementara 61 persen produksi
sebesar 1,2 juta boepd berasal KKKS
yang akan habis masa kontraknya
dalam 10 tahun ke depan.
Dan hanya 30 persen produksi migas nasional tahun 2020 berasal dari proyek-proyek migas yang saat ini dalam tahap perencanaan.
Menurut IPA pengembangan potensi remaining
resource memerlukan teknologi tinggi, padat modal dan tenaga kerja yang
kompeten serta mempunyai keahlian
khusus.
Sementara Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengatakan bahwa pemerintah tengah
mempersiapkan aturan mengenai perpanjangan blok migas. Aturan tersebut akan
dijadikan acuan bagi pemerintah untuk mengambil keputusan terkait perpanjangan
blok. Meski demikian, aturan tersebut sebenarnya sudah lama didengungkan.
Rencananya akan diterbitkan akhir tahun lalu, namun hingga kini belum terealisasi,
sementara pemerintah saat ini hanya tinggal lima bulan.
Kepastian perpanjangan Mahakam memang sudah
sangat mendesak. Total mengisyaratkan, bahwa pengembangan lapangan baru hanya
akan dilakukan hingga tahun 2015 jika belum ada kepastian soal kontrak.
Pasalnya dibutuhkan proses yang memakan dua hingga tahun untuk mengelola suatu
lapangan. Dan hal tersebut sulit dilakukan perusahaan tanpa adanya hitam di
atas putih mengenai nasib perpanjangan kontraknya. Meski demikian Total tetap
komit untuk mengalokasikan belanja modal sebesar $2,5 miliar per tahun.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo mengatakan pemerintah belum tentu memberikan blok yang akan habis pada 2017 tersebut ke tangan PT Pertamina.
"Bukan tidak berpihak kepada negara, Pertamina itu bukan negara walaupun dia 100% milik negara. Blok Mahakam habis kontraknya itu jadi milik negara, tapi belum tentu dikasih ke Pertamina. Pertamina boleh saja mengajukan ingin mengelola, tapi tidak otomatis, bisa saja kita (pemerintah) tenderkan kembali," ujarnya, seperti yang dikutip dari detikcom.
Pertamina yang sudah melirik blok
tersebut memang telah menyurati Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral tiga kali guna menyatakan kesiapan mengelola Blok Mahakam.
Pertamina menilai bahwa sebagai badan usaha milik negara (BUMN), sudah
selayaknya ia mendapatkan hak istimewa untuk dapat mengelola blok tersebut
seratus persen. Pertamina merasa siap untuk mengambilalih berdasarkan
keberhasilannya dalam meningkatkan produksi di Blok West Madura Offshore dan
Offshore North West Java.
Apa yang dilakukan Pertamina itu kemudian
didorong oleh Indonesian Resources
Studies (IRESS) yang melayangkan surat terbuka untuk SBY terkait masalah
Mahakam. Menurut Direktur IRESS
Marwan Batubara, keputusan perlu segera diambil guna memberikan
kepastian pengelolaan dan pengembangan Blok Mahakam di masa mendatang, baik
bagi Total dan Inpex, maupun bagi Pertamina. Menurut Marwan, Satuan Kerja
Khusus Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pernah menyatakan (8/7/2013)
seharusnya Pemerintah sudah memutuskan status kontrak Mahakam sejak 2012 lalu.
Sementara
itu, Total pun telah mengajukan proposal perpanjangan sejak tahun
2009. Belum adanya kepastian menyebabkan proposal baru mengenai pengelolaan
Mahakam pada Agustus tahun silam. Intinya Total dan Inpex bersedia menurunkan
porsi sahamnya dari 50 persen menjadi 35 persen, serta memberi peluang bagi
Pertamina untuk bersama-sama menggarap Blok Mahakam pada masa transisi lima
tahun pertama pasca 2017.
Total
juga memiliki itikad baik dengan bersedia memberikan transfer teknologi kepada
Pertamina. Dan yang tak kalah penting, perusahaan asal Perancis tersebut
bersedia menggelontorkan investasi sebesar $7,3 miliar hingga 2017 untuk
menahan laju penurunan produksi. Total akan berupaya untuk mempertahankan
produksi gas mencapai 1.760 MMSCFD (juta kaki kubik) dan kondensat di sekitar
66.000-67.000 barrel per hari.
Sejumlah kalangan menilai bahwa langkah terbaik
dalam penyelesaian kasus perpanjangan blok ini adalah dengan memberikan kesempatan
baik kepada Total dan Pertamina untuk bekerjasama pada masa transisi. Dengan
demikian Pertamina pada akhirnya nanti dapat mengambilalih blok dengan lancar.
Selain itu jika Pertamina mengambilalih Blok Mahakam langsung 100 persen
ditakutkan akan mempengaruhi produksi blok ini. Maklum saja, biasanya
pengalihan operator akan membuat produksi turun. Itulah sebabnya diperlukan
masa transisi.
Hal lain yang menyebabkan dibutuhkan campur
tangan Total adalah tingginya investasi dalam mengelola Mahakam. Dengan dana
sebesar $2,5 miliar per tahun, sebenarnya Pertamina bisa memfokuskan pada
akusisi lapangan-lapangan migas yang lebih potensial di luar negeri ketimbang
hanya mengalokasikannya untuk lapangan tua Mahakam yang telah berproduksi
puluhan tahun. Apapun hasilnya, mari kita tunggu keputusan pemerintah. Semoga
pemerintah SBY masih berani mengambil keputusan penting di masa-masa akhir
jabatannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar