Selasa, 19 Agustus 2014

PR Besar Pertamina Pasca Lengsernya Karen Agustiawan

Pekerjaan Rumah besar menanti Pertamina pasca 1 Oktober nanti ketika Direktur Utama Karen Agustiawan secara resmi mundur dari jabatannya. Yaa, PR Pertamina sangat amat banyak terkait keinginannya sebagai sebagai perusahaan minyak dan gas plat merah yang ingin go international. Untuk mencapai tujuan itu, mau tak mau pemerintahan baru harus memastikan bahwa direktur utama yang baru nanti harus dapat meneruskan tongkat estafet dari Karen. Jika tidak, jangan harap Pertamina bisa go international, bahkan menjadi tuan rumah di negara sendiri pun bisa-bisa kandas di tengah jalan.

Berita menghebohkan pada pekan ini adalah statement Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang mengungkapkan bahwa Karen akan mundur dari posisinya sebagai Dirut pada 1 Oktober 2014. Lho apakah sebabnya? Bukannya tahun lalu pemegang saham Pertamina baru saja memperpanjang masa jabatan Karen untuk lima tahun, yang artinya ia baru akan menyelesaikan tanggungjawabnya pada tahun 2018? Lalu mengapa tiba-tiba mundur?

Terlalu banyak spekulasi atas hal tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu karena banyak tekanan dari pemerintah terkait dengan status Pertamina yang sebagai BUMN, sementara di satu sisi ia adalah perseroan yang juga dituntut untuk untung dan bahkan memberikan dividen kepada pemerintah. Tekanan tersebut bisa berupa intevensi kebijakan. Ada juga spekulasi bahwa ricuhnya masalah solar antara Pertamina dan PLN membuat Karen mundur. Bahkan yang paling gress ada juga isu bahwa Karen mundur karena mantan Wakil Presiden yang sebentar lagi bakal kembali menjadi Wapres Jusuf Kalla minta sesuatu. Entah lah mana yang benar. Terlalu banyak kabar burung yang beredar. Tentunya yang paling tahu hanya lah Tuhan dan Karen itu sendiri.

Lepas dari santernya spekulasi-spekulasi menyakut kemunduran Karen, kita harus melihat bahwa peran Karen di Pertamina tidak bisa dinafikan. Pertamina ikut maju karena nama besar perempuan jebolan ITB tersebut. Ia adalah wanita pertama yang menduduki posisi nomer satu di perusahaan migas. Selain itu pada 2013, Karen Agustiawan juga merebut posisi keenam dalam jajaran 50 wanita paling kuat di dunia bisnis versi majalah Fortune Global.

Karen dinilai berhasil mengelola Pertamina dengan pendapatan 70 miliar dollar AS dan laba bersih 2,7 miliar AS, hingga menyabet peringkat 122 pada ”Fortune Global 500”. Pertumbuhan laba bersih sebesar 15 persen sejauh ini merupakan pencapaian tertinggi dalam sejarah Pertamina.

Di bawah pimpinan Karen pula lah Pertamina banyak melakukan sejumlah ekspansi, baik di dalam maupun luar negeri. Pertamina sendiri telah mulai melakukan ekspansi ke luar negeri sejak Januari 2002 melalui kontrak kerjasama pada Blok 10 dan 11.1 Vietnam dengan pola kerjasama yang diawali dengan government to government. Selanjutnya diikuti dengan Blok SK-305 di Malaysia pada Juni 2003 serta Blok 3 Western Desert Irak, Blok 13 Read Sea, Sudan, Blok 123-3 Sirte Onshore, Blok 17-3 Sabratah Offshore dan Blok 3 Offshore Qatar.

Sedangkan di dalam negeri, sejumlah blok-blok migas, seperti Offshore North West Java juga dilalapnya. Ekspansi agresif Pertamina ini banyak mendapatkan jempol. Apalagi hal tersebut sejalan dengan target perusahaan untuk dapat memproduksi 2,2 juta barrel per hari pada tahun 2025. Pertamina juga tengah mengincar untuk memiliki 10 persen participating interest di Blok Masela. Selain itu juga tengah mengincar untuk mendapatkan hak pengelolaan Blok Mahakam pasca 2017.

Libido Pertamina untuk dapat mengelola Blok Mahakam patut diapresikan karena bagaimanapun sebagai perusahaan BUMN, Pertamina harus mendapat panggung di negeri sendiri. Namun kita juga tidak bisa menafikan bahwa kepiawaian teknologi, didukung dengan teknologi dan Sumber Daya Manusia yang mumpuni juga sangat dbutuhkan dalam suatu pengelolaan blok. Sama seperti blok-blok Pertamina di luar negeri, dalam menjalankan blok-blok tersebut Pertamina juga bermitra dengan perusahaan lain. Hal ini pula lah yang diperlukan di Mahakam.

Pertamina tetap butuh mitra dalam mengelola Mahakam. Blok tersebut telah berumur sangat tua. Maklum saja, ia telah mulai berproduksi puluhan tahun lamanya. Dibutuhkan teknologi khusus untuk mengelolanya demi memastikan bahwa produksi tidak akan jeblok. Untuk itu kemitraan antara Pertamina, Total dan Inpex sangat masih diperlukan. Karena bagaimanapun, Mahakam masih merupakan salah satu blok gas yang sangat berpengaruh dalam menyumbang pencapaian produksi migas nasional.


Kini, masalah Mahakam ada di tangan Jokowi sebagai Presiden RI ketujuh terpilih. Hendaknya beliau bijak dalam menentukan keputusan mengenai nasib Blok Mahakam dan juga orang nomer satu di Pertamina nanti. Kedua hal tersebut bisa jadi merupakan salah satu prioritas pemerintahan mendatang untuk segera diselesaikan. Dua masalah itu pulalah yang akan menentukan nasib industri migas nasional di masa mendatang. Kalau sampai salah langkah, jangan harap produksi migas nasional akan kembali kinclong. Kini saatnya melakukan perubahan. Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar