Selamat Datang Presiden Baru
Joko Widodo. Rakyat telah menantimu untuk memberikan warna baru terhadap
pemerintahan. Pemerintah yang hangat dan tidak birokratis seperti halnya
pemimpin-pemimpin sebelumnya. Selain itu, tentu saja harapan agar perkenomian
negara ini bisa melesat tajam, dan tak terkecuali produksi migas nasional bisa
dikerek. Namun untuk mewujudkannya, tentunya terdapat sejumlah pekerjaan rumah
yang harus digarap pemerintah baru untuk menciptakan Indonesia baru.
Hadirnya
presiden ketujuh ini memberi harapan baru bagi seluruh rakyat Indonesia akan
perubahan. Perubahan yang lebih baik dalam masa, setidaknya, lima tahun
mendatang. Perubahan yang signifikan terhadap pembangunan negeri ini, terhadap
rakyat kecil dan tentunya tak terkecuali terhadap industri migas yang
memberikan kontribusi signifikan terhadap APBN negara ini.
Terlalu
banyak pekerjaan rumah yang ditinggalkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono,
terutama di bidang perekonomian dan khususnya industri migas. Ini berbanding
terbalik dengan target pemerintah untuk meningkatkan produksi sebesar 1 juta
barrel per hari. Target yang seharusnya dicanangkan untuk dicapai pada tahun
2013, lalu mundur ke tahun 2014, kini menjadi tanda tanya besar: mungkin kah
akan tercapai?
Sejumlah
praktisi industri migas sendiri meragukan pencapaian angka tersebut. Alasannya
sejak penemuan di Blok Cepu puluhan tahun yang lalu, praktis tidak ada lagi
penemuan minyak yang signifikan. Padahal pengurasan cadangan kita sudah cukup
banyak, seiring dengan konsumi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri yang
mencapai 1,5 juta barrel per hari. Apakah semuanya bisa dipenuhi dari produksi
minyak domestik? Jawabannya tidak, karena produksi minyak kita terus mengalami
penurunan dan bahkan saat ini hanya berada di kisaran 800.000an barrel per
hari.
Ini
tak lepas dari sepinya kegiatan eksplorasi migas nasional. Dengan tingkat
pengurasan yang semakin tajam, sudah barang tentu cadangan migas kita menjadi
berkurang. Kini the untouchable areas
hanya tinggal berada di kawasan timur Indonesia dan laut dalam. Daerah-daerah
onshore sudah dieksploitasi. Namun tentu saja untuk melakukan kegiatan
eksplorasi di laut dalam, diperlukan insentif yang tidak sedikit karena
resikonya juga tidak mudah. Investor harus siap kehilangan uang triliunan
rupiah kalau gagal menemukan cadangan hidrokarbon. Nah, bagaimana untuk
meningkatkan minat investor ini? Tentu saja dengan memberikan paket insentif
yang menarik.
Sebelumnya
Indonesian Petroleum Association telah memberikan guideline kepada pemerintah
mengenai masalah di industri migas yang harus segera diselesaikan untuk
menggairahkan kegiatan eksplorasi dan produksi. Usulan itu diantaranya adalah
dengan mencabut adanya batasan cost
recovery yang saat ini dipatok di APBN, memberikan kepastian kontrak,
mempermudah proses perijinan dan juga menuntaskan masalah tumpang tindih lahan
migas.
Masalah
kepastian kontrak memang menjadi salah satu perhatian serius industri migas ini
karena banyaknya nasib Kontrak Kerja Sama (KKS) yang masih mengambang karena
ketidakberanian pemerintah untuk memutuskan. Kontrak-kontrak tersebut antara
lain adanya perpanjangan Blok Mahakam, perpanjangan Blok Makassar Strait dan
perpanjangan Blok Masela. Ketiganya harus diputuskan segera karena menyangkut
komitmen investasi yang mencapai miliaran dollar AS. Jika pemerintah tidak
segera memutuskan, bukan mustahil para investor tersebut angkat kaki dari
Indonesia.
Total dan Inpex saat ini membelanjakan
sekitar US$ 2,5 miliar per tahun untuk mengelola blok tersebut. Keduanya juga
berjanji untuk menginjeksikan investasi sebesat US$ 7,3 miliar hingga 2017 jika
pemerintah memperpanjang kontrak Blok Mahakam. Memang untuk menjaga kestabilan
produksi migas di sebuah blok tua semacam Blok Mahakam bukanlah perkara mudah.
Dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
Selain
itu, jika tidak segera diputuskan, dikhawatirkan nilai proyek akan melambung
tinggi sehingga menggerus keekonomian proyek tersebut. Apalagi di masa
mendatang, harga gas bukan mustahil menjadi sangat murah karena keberhasilan
pengelolaan shale gas di Amerika sehingga pasar kebanjiran gas. Jika nilai proyek
naik, sementara harga gas turun, sudah barang tentu proyek gas Indonesia akan
ditinggal lari para investor.
Nah
Pak Jokowi, kira-kira itulah sejumlah masalah di industri migas yang harus
segera diselesaikan. Nasib industri ini ada di tangan Jokowi. Tentunya alangkah
bijaksananya jika masalah-masalah krusial tersebut menjadi prioritas utama di
100 hari pemerintahan Jokowi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar