Kondisi
energi Indonesia yang dibayangi krisis, membuat 28 tokoh nasional menelurkan
empat skenario yang diharapkan dapat menjawab masalah energi di tahun 2030.
Pada masa itu tanpa ada terobosan Indonesia akan menjadi negara pengimpor
energi secara permanen.
Keduapuluhdelapan
orang tersebut berasal dari sejumlah latar belakang, diantaranya pemerintah,
partai politik, BUMN, perusahaan swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat
di sektor energi. Mereka berkumpul di Bandung pada Agustus silam sehingga tak
heran jika skenarionya disebut sebagai Skenario Bandung.
Pada
esensinya, pertemuan tersebut menghasilkan rumusan empat skenario tentang perbaikan
di sektor energi di Indonesia tahun 2030. Adapun keempat skenario itu adalah skenario
ombak, skenario badai, skenario Karang dan skenario Awak. Apa sih maksudnya?
Skenario
Ombak adalah skenario untuk pemerintah pusat dalam bekerja dan memperbaiki tata
kelola sektor energi, dengan penekanan utama pada BUMN sebagai lokomotif
pengimplementasi kebijakan.
Skenario
Badai adalah skenario energi untuk mengantisipasi perubahan iklim dan
harmonisasi antara sumber energi dengan energi serta teknologi yang bersih
terbarukan. Perubahan iklim global dan resiko-resiko kerusakan lingkungan
mendominasi kebijakan nasional dan global terutama pada kebijakan prioritas
pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pengembangan sumber energi bersih, di
mana pengembangan energi bersih sendiri membutuhkan biaya yang mahal.
Ketiga
adalah Skenario Karang. Skenario tersebut adalah skenario energi yang digunakan
ditengah ketegangan konflik di luar negeri yang saling berkompetisi untuk
mencari sumber energi, sehingga dapat memaksa Indonesia bergantung pada pasokan
energi domestik untuk menopang pembangunan.
Skenario
keempat adalah Skenario Awak, yaitu strategi pengendalian perdagangan dari
pemerintah pusat atas pemerintah daerah yang dapat menciptakan kesenjangan
masyarakat, ketimpangan ekonomi yang tajam, serta potensi konflik di daerah. Di
mana pendorong terjadinya hal tersebut adalah kompetisi untuk mencari sumber
energi.
Skenario
tersebut dipaparkan sebagai sistem energi sebagai akibat faktor pendorong
seperti dampak perubahan iklim, instabilitas regional, potensi gangguan geopolitik
internasional terkait pasokan energi, dan kerangka aturan yang tidak efektif.
Skenario Bandung merupakan skenario yang dikembangkan
oleh Shell pada 1972 dan sudah digunakan di Afrika Selatan. Di Indonesia,
skenario ini mulai diterapkan.
Skenario tersebut memang menarik untuk disimak
dan untuk diterapkan. Namun sering kali pemerintah menelurkan skenario-skenario
yang pada akhirnya hanya menjadi target dan wacana semata, tapi
pengaplikasiannya nol besar. Inilah yang harus dihindari.
Bangsa ini sudah mengalami krisis energi yang
hebat. Hal tersebut bisa dilihat dari bagaimana produksi migas nasional jeblok
sementara di satu sisi konsumsi tetap meningkat tajam. Bayangkan, produksi
minyak kita hanya sekitar 800.000 barrel per hari. Bandingkan dengan konsumsi minyak
yang sebesa 1,5 juta barrel per hari. Ada defisit yang jelas-jelas harus
diminimalisir. Bagaimana caranya?
Mau tidak mau adalah dengan mengintensifkan
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Selain itu juga diperlukan pembangunan
kilang minyak untuk mengurangi impor. Namun tentu saja, ada harga yang harus
dibayar untuk pengintesifan kegiatan produksi dan eksplorasi tersebut, yaitu
dengan menciptakan situasi investasi yang kondusif.
Bagaimana situasi yang kondusif? Yaitu dengan
duduk bersama dengan investor untuk mencari jalan keluar mandeknya industri
migas nasional. Saat ini ada sejumlah masalah yang sudah diidentifikasi para
investor migas, yaitu kepastian perpanjangan kontrak, cost recovery dan
insentif.
Kini pemerintah Indonesia akan berganti dalam
hitungan hari. Semoga pemerintahan Jokowi memberi angin segar bagi industri
migas nasional yang dapat mencegah bangsa ini menjadi negara pengimpor energi
permanen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar