Selasa, 14 Oktober 2014

Skenario Bandung Kenalkan Skenario Ketahanan Energi Nasional 2030

Kondisi energi Indonesia yang dibayangi krisis, membuat 28 tokoh nasional menelurkan empat skenario yang diharapkan dapat menjawab masalah energi di tahun 2030. Pada masa itu tanpa ada terobosan Indonesia akan menjadi negara pengimpor energi secara permanen.

Keduapuluhdelapan orang tersebut berasal dari sejumlah latar belakang, diantaranya pemerintah, partai politik, BUMN, perusahaan swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat di sektor energi. Mereka berkumpul di Bandung pada Agustus silam sehingga tak heran jika skenarionya disebut sebagai Skenario Bandung.

Pada esensinya, pertemuan tersebut menghasilkan rumusan empat skenario tentang perbaikan di sektor energi di Indonesia tahun 2030. Adapun keempat skenario itu adalah skenario ombak, skenario badai, skenario Karang dan skenario Awak. Apa sih maksudnya?

Skenario Ombak adalah skenario untuk pemerintah pusat dalam bekerja dan memperbaiki tata kelola sektor energi, dengan penekanan utama pada BUMN sebagai lokomotif pengimplementasi kebijakan.

Skenario Badai adalah skenario energi untuk mengantisipasi perubahan iklim dan harmonisasi antara sumber energi dengan energi serta teknologi yang bersih terbarukan. Perubahan iklim global dan resiko-resiko kerusakan lingkungan mendominasi kebijakan nasional dan global terutama pada kebijakan prioritas pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pengembangan sumber energi bersih, di mana pengembangan energi bersih sendiri membutuhkan biaya yang mahal.

Ketiga adalah Skenario Karang. Skenario tersebut adalah skenario energi yang digunakan ditengah ketegangan konflik di luar negeri yang saling berkompetisi untuk mencari sumber energi, sehingga dapat memaksa Indonesia bergantung pada pasokan energi domestik untuk menopang pembangunan.

Skenario keempat adalah Skenario Awak, yaitu strategi pengendalian perdagangan dari pemerintah pusat atas pemerintah daerah yang dapat menciptakan kesenjangan masyarakat, ketimpangan ekonomi yang tajam, serta potensi konflik di daerah. Di mana pendorong terjadinya hal tersebut adalah kompetisi untuk mencari sumber energi.

Skenario tersebut dipaparkan sebagai sistem energi sebagai akibat faktor pendorong seperti dampak perubahan iklim, instabilitas regional, potensi gangguan geopolitik internasional terkait pasokan energi, dan kerangka aturan yang tidak efektif.


Skenario Bandung merupakan skenario yang dikembangkan oleh Shell pada 1972 dan sudah digunakan di Afrika Selatan. Di Indonesia, skenario ini mulai diterapkan.

Skenario tersebut memang menarik untuk disimak dan untuk diterapkan. Namun sering kali pemerintah menelurkan skenario-skenario yang pada akhirnya hanya menjadi target dan wacana semata, tapi pengaplikasiannya nol besar. Inilah yang harus dihindari.

Bangsa ini sudah mengalami krisis energi yang hebat. Hal tersebut bisa dilihat dari bagaimana produksi migas nasional jeblok sementara di satu sisi konsumsi tetap meningkat tajam. Bayangkan, produksi minyak kita hanya sekitar 800.000 barrel per hari. Bandingkan dengan konsumsi minyak yang sebesa 1,5 juta barrel per hari. Ada defisit yang jelas-jelas harus diminimalisir. Bagaimana caranya?

Mau tidak mau adalah dengan mengintensifkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Selain itu juga diperlukan pembangunan kilang minyak untuk mengurangi impor. Namun tentu saja, ada harga yang harus dibayar untuk pengintesifan kegiatan produksi dan eksplorasi tersebut, yaitu dengan menciptakan situasi investasi yang kondusif.

Bagaimana situasi yang kondusif? Yaitu dengan duduk bersama dengan investor untuk mencari jalan keluar mandeknya industri migas nasional. Saat ini ada sejumlah masalah yang sudah diidentifikasi para investor migas, yaitu kepastian perpanjangan kontrak, cost recovery dan insentif.

Kini pemerintah Indonesia akan berganti dalam hitungan hari. Semoga pemerintahan Jokowi memberi angin segar bagi industri migas nasional yang dapat mencegah bangsa ini menjadi negara pengimpor energi permanen.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar