Kondisi
peta perpolitikan nasional yang terus panas dalam beberapa bulan ini
dikhawatirkan akan mempengaruhi investasi. Kondisi ini membuat para investor
melakukan aksi wait and see. Namun bukan mustahil jika kondisi ini terus
berlarut-larut para investor asing bisa berpaling ke negara lain.
Kondisi
perpolitikan Indonesia sebelum pemilihan presiden terasa sangat panas. Hal itu
berawal dari para pendukung Prabowo dan Jokowi yang terus mengolok-olok satu
sama lain. Awalnya banyak pengamat memperkirakan kondisi tersebut akan membaik
pasca Pilpres usai. Namun nyatanya prediksi tersebut salah.
Berawal
dari penolakan Prabowo atas hasil pilpres yang memenangkan Jokowi, bersambung
hingga tindakan ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan berlanjut ke masalah Pilkada.
Bagaimana tidak, partai politik yang bergabung dalam Koalisi Merah Putih
sepakat untuk memilih Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tidak lagi dilakukan
secara langsung, melainkan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Artinya di atas kertas, para kepala daerah mendatang akan dimenangkan oleh
Koalisi Prabowo.
Sampai
disitu? Belum. Para wakil rakyat yang terhormat itu juga kisruh dalam pemilihan
Ketua DPR. Dan lagi-lagi koalisi Jokowi yang dikenal dengan Koalisi Indonesia
Hebat (KIH) harus bertekuk lutut pada Koalisi Merah Putih. Prabowo cs kembali
menguasai panggung. Bahkan pada pemilihan Ketua MPR tadi malam, lagi-lagi calon
yang diusung Koalisi Merah Putih, yakni Zulkifli Hasan dari Partai Amanat
Nasional (PAN) lah yang menang.
Banyak
pihak yang mengkhawatikan bahwa ini adalah tanda-tanda kembalinya orde baru
atau yang dikenal dengan nama neo orba. Apalagi menjelang pelantikan
Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla beredar isu
upaya pemboikotan atau penjegalan pelantikan Jokowi-JK menjadi Preiden dan
Wakil Presiden periode 2014-2019 oleh partai Koalisi Merah Putih.
Ada pula rumor santer yang akan mengusulkan
pemilihan presiden akan dilakukan oleh MPR, sama ketika Orba masih berkuasa.
Artinya rakyat akan kehilangan hak suaranya. Jika itu terjadi demokrasi akan
mati.
Kondisi
perpolitikan ini ternyata tak luput dari perhatian para investor. Kepala
ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop menegaskan kisruh politik di
dalam negeri bisa menimbulkan preseden buruk terhadap pertumbuhan ekonomi
Indonesia ke depan.
Menurutnya, kondisi politik Indonesia seharusnya bisa memberikan
kepastian bagi semua pelaku usaha, tetapi yang terjadi sebaliknya.
Reaksi negatif pasar memang sangat kentara. Ketika
para politisi di gedung parlemen saling bertikai memperebutkan kursi pimpinan
DPR, nilai tukar Rupiah sempat menyentuh Rp 12.281 per Dollar Amerika Serikat,
meskipun belakangan pelan-pelan mengalami penurunan.
Tentunya masih segar dalam ingatan kita pada
tahun 1998 ketika masa reformasi. Saat itu Rupiah terkoreksi secara signifikan,
meski sedikit banyak hal tersebut masih terkait dengan kondisi krisis ekonomi
global. Namun arus demonstrasi besar-besaran nyatanya menghentikan langkah
investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Arus investasi, khususnya di
sektor minyak dan gas (migas) mandek. Akibatnya kegiatan eksplorasi terhenti.
Kini impactnya masih sangat terasa, dimana
produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan. Pasalnya blok migas yang
ada saat itu tidak sanggup memenuhi kebutuhan nasional dalam jangka panjang.
Dan kini, produksi migas nasional dalam kondisi
SOS. Untuk mengatrolnya mau tidak mau pemerintah harus menciptakan kondisi
investasi yang kondusif. Dan artinya dibutuhkan investasi besar-besaran untuk
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi agar Indonesia terhindar dari ancaman
menjadi negara importer migas permanen.
Terus terang, tanpa kondisi panas ini, sektor
migas nasional masih memiliki sejumlah masalah. Misalnya mengenai tidak
jelasnya masalah perpanjangan kontrak blok migas, cost recovery yang dipatok
dalam APBN, tumpang tindih lahan dan juga masalah perijinan yang
berbelit-belit.
Jadi para wakil rakyat, tolong tunjukkan
kedewasaan anda. Rakyat butuh bukti, bukan janji! Jangan korbankan negara ini
untuk kepentingan partai anda!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar