Kamis, 11 Desember 2014

Harga Minyak, Investasi Migas dan Mahakam

Harga minyak dunia yang terus terjun bebas di bawah level US$70/barrel menyebabkan investasi minyak dan gas dunia, terutama Indonesia, terancam. Banyak perusahaan migas yang memilih untuk menunda rencana investasinya  karena menilai harga minyak saat ini kurang ekonomis. Pendeknya, prospek investasi proyek migas tahun depan diperkirakan kurang bergairah. Lalu bagaimana kaitannya dengan Mahakam?

Indonesian Petroleum Association (IPA) memperkirakan nilai investasi sektor hulu minyak dan gas bumi tahun depan akan turun sebesar 20 persen menjadi US$ 25,6 miliar dibandingkan proyeksi investasi tahun ini sebesar US$ 32 miliar. Sementara untuk level global, terdapat sejumlah proyek-proyek hulu migas besar di negara lain senilai US$ 150 miliar juga akan mengalami penundaan investasi.

Sementara tanpa adanya penurunan harga minyak tersebut, realisasi investasi di industri migas per Agustus lalu baru mencapai US$ 8 miliar dari target US$ 15 miliar. Sedangkan realisasi investasi di eksplorasi sendiri baru mencapai 40 persen dari target US$ 2 miliar.

PT Medco E&P Indonesia, anak usaha Medco Energi sendiri telah memutuskan untuk tidak menambah jumlah produksi migas tahun depan akibat harga minyak yang rendah. Sepanjang 2015 mendatang, Medco menargetkan akan memproduksi migas sebesar 60,000 barel oil equivalent per day (BOEPD) seperti target produksinya tahun ini.

Perusahaan migas menilai angka yang ekonomis untuk mengembangkan suatu lapangan adalah jika harga minyak berada di kisaran minimal US$80/barrel. Jika di bawah itu, maka investasi proyek migas juga akan ikut keok. Sementara sejumlah pengamat memprediksi bahwa harga minyak akan terus anjlok hingga mencapai angka US$50/barrel.

Adanya ancaman penundaan investasi migas di Indonesia, sudah barang tentu akan juga mengancam pendapatan pemerintah. Produksi dipastikan bakal jeblok, APBN tergoncang dan akibatnya bukan tak mungkin subsidi akan semakin dikurangi. Beban akan semakin berat.

Lalu apa hubungannya semua ini dengan Mahakam? Ya ini tak jauh dari komitmen operator saat ini, yaitu Total dan partnernya Inpex untuk menginjeksikan dana sebesar US$ 7,3 milliar jika kontrak Mahakam diperpanjang. Belum lagi, perusahaan ini biasa mengalokasikan US$ 2,5 milliar per tahun untuk pengembangan Mahakam. Di tengah ketidakpastian komitmen perusahaan migas asing akibat harga minyak turun, tentunya komitmen Total itu ibarat angin surga. Dan tentu saja, ini akan membantu keuangan pemerintah secara signifikan.

Pertamina mungkin saja memiliki kemampuan untuk menginjeksikan dana di Mahakam. Tapi dana sebesar US$ 2,5 milliar per tahun tentunya bukan main-main. Alangkah sangat baiknya jika Pertamina membagi resiko dan investasi bersama Total dalam mengembangkan Mahakam pasca 2017.

Sharing the risk atau berbagi resiko dalam mengelola suatu lapangan sudah jamak dilakukan oleh perusahaan migas, bahkan berkelas dunia pun. Misalnya BP di Tangguh yang memiliki sejumlah partner, seperti misalnya Mitsui dan Inpex. Ada juga Blok Muara Bakau dimana Eni berkongsi dengan GDZ Suez, dan masih banyak sederet blok yang dikelola perusahaan migas kelas nasional dengan partnernya.

Singkatnya, tidak memegang saham 100% bukan berarti kekalahan bagi suatu perusahaan. Bahkan bisa jadi hal tersebut akan memberi nilai tambah. Di sisi lain Pertamina juga dapat mengalokasikan sebagai dana investasinya untuk blok-blok lain di luar negeri, misalnya dengan melakukan merger dan akusisi.


Berkongsi dalam mengelola blok migas di tengah ketidakpastian harga minyak ini merupakan pilihan yang terbaik. Pertamina tidak harus menanggung resiko sendirian, melainkan dengan Total. Dan Total dengan pengalamannya akan banyak mengajarkan masalah teknologi dan expertise kepada Pertamina yang bisa dijadikan modal di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar