Harga minyak dunia yang terus terjun bebas di bawah
level US$70/barrel menyebabkan investasi minyak dan gas dunia, terutama
Indonesia, terancam. Banyak perusahaan migas yang memilih untuk menunda rencana
investasinya karena menilai harga minyak
saat ini kurang ekonomis. Pendeknya, prospek investasi proyek migas tahun depan
diperkirakan kurang bergairah. Lalu bagaimana kaitannya dengan Mahakam?
Indonesian Petroleum Association (IPA)
memperkirakan nilai investasi sektor hulu minyak dan gas bumi tahun depan akan
turun sebesar 20 persen menjadi US$ 25,6 miliar dibandingkan proyeksi investasi
tahun ini sebesar US$ 32 miliar. Sementara untuk level global, terdapat
sejumlah proyek-proyek hulu migas besar di negara lain senilai US$ 150 miliar
juga akan mengalami penundaan investasi.
Sementara tanpa adanya penurunan harga minyak
tersebut, realisasi investasi di industri migas per Agustus lalu baru mencapai
US$ 8 miliar dari target US$ 15 miliar. Sedangkan realisasi investasi di
eksplorasi sendiri baru mencapai 40 persen dari target US$ 2 miliar.
PT Medco
E&P Indonesia, anak usaha Medco Energi sendiri telah memutuskan untuk tidak
menambah jumlah produksi migas tahun depan akibat harga minyak
yang rendah. Sepanjang 2015 mendatang, Medco menargetkan akan memproduksi migas
sebesar 60,000 barel oil equivalent per day (BOEPD) seperti target produksinya
tahun ini.
Perusahaan migas menilai angka yang ekonomis untuk
mengembangkan suatu lapangan adalah jika harga minyak berada di kisaran minimal
US$80/barrel. Jika di bawah itu, maka investasi proyek migas juga akan ikut
keok. Sementara sejumlah pengamat memprediksi bahwa harga minyak akan terus
anjlok hingga mencapai angka US$50/barrel.
Adanya ancaman penundaan investasi migas di
Indonesia, sudah barang tentu akan juga mengancam pendapatan pemerintah.
Produksi dipastikan bakal jeblok, APBN tergoncang dan akibatnya bukan tak
mungkin subsidi akan semakin dikurangi. Beban akan semakin berat.
Lalu apa hubungannya semua ini dengan Mahakam? Ya
ini tak jauh dari komitmen operator saat ini, yaitu Total dan partnernya Inpex
untuk menginjeksikan dana sebesar US$ 7,3 milliar jika kontrak Mahakam
diperpanjang. Belum lagi, perusahaan ini biasa mengalokasikan US$ 2,5 milliar
per tahun untuk pengembangan Mahakam. Di tengah ketidakpastian komitmen
perusahaan migas asing akibat harga minyak turun, tentunya komitmen Total itu
ibarat angin surga. Dan tentu saja, ini akan membantu keuangan pemerintah
secara signifikan.
Pertamina mungkin saja memiliki kemampuan untuk
menginjeksikan dana di Mahakam. Tapi dana sebesar US$ 2,5 milliar per tahun
tentunya bukan main-main. Alangkah sangat baiknya jika Pertamina membagi resiko
dan investasi bersama Total dalam mengembangkan Mahakam pasca 2017.
Sharing the risk atau berbagi resiko dalam
mengelola suatu lapangan sudah jamak dilakukan oleh perusahaan migas, bahkan
berkelas dunia pun. Misalnya BP di Tangguh yang memiliki sejumlah partner,
seperti misalnya Mitsui dan Inpex. Ada juga Blok Muara Bakau dimana Eni berkongsi
dengan GDZ Suez, dan masih banyak sederet blok yang dikelola perusahaan migas
kelas nasional dengan partnernya.
Singkatnya, tidak memegang saham 100% bukan berarti
kekalahan bagi suatu perusahaan. Bahkan bisa jadi hal tersebut akan memberi
nilai tambah. Di sisi lain Pertamina juga dapat mengalokasikan sebagai dana
investasinya untuk blok-blok lain di luar negeri, misalnya dengan melakukan
merger dan akusisi.
Berkongsi dalam mengelola blok migas di tengah
ketidakpastian harga minyak ini merupakan pilihan yang terbaik. Pertamina tidak
harus menanggung resiko sendirian, melainkan dengan Total. Dan Total dengan
pengalamannya akan banyak mengajarkan masalah teknologi dan expertise kepada
Pertamina yang bisa dijadikan modal di masa mendatang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar