![]() |
| merdeka.com |
Jajaran
direksi baru Pertamina ala pemerintah Presiden Joko Widodo banyak mengejutkan
publik. Bagaimana tidak, posisi direktur utamanya dipilih dari orang yang sama
sekali bukan berasal dari kalangan migas. Direktur Utama Semen Indonesia Dwi
Sutjipto lah yang dinilai paling tepat menduduki posisi perusahaan plat merah
migas nasional ini.
Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini
Soemarno selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Pertamina memutuskan untuk
mengangkat direksi Pertamina periode 2014-2019. Dalam surat keputusan Menneg
BUMN, Dwi akan bekerjasama dengan tiga orang anggota direksi lainnya, yaitu
Arief Budiman, Yenny Andayani, dan Ahmad Bambang. Arief adalah direksi termuda
dengan usia 39 tahun dan berasal dari McKinsey. Sementara Yenny dan Ahmad
merupakan pimpinan di anak perusahaan Pertamina.
Dwi menyatakan direksi Pertamina siap
menjalankan amanat pemerintah untuk melakukan percepatan transformasi Pertamina
menjadi kelas dunia sekaligus memperkokoh ketahanan energi nasional. Pertamina,
tuturnya, akan terus melanjutkan semangat tata kelola perusahaan yang
transparan dan meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan sehingga
membanggakan Indonesia di kancah dunia.
"Kami bertekad untuk melanjutkan
transformasi Pertamina dan juga meningkatkan kinerja perusahaan secara lebih
efisien dan kompetitif untuk mencapai target-target yang sudah dicanangkan dan
menjadi aspirasi Pertamina 2025, yaitu menjadi Asian Energy Champion,"
tegas Dwi.
Sepak terjang Dwi di Semen Indonesia
memang sangat disorot publik. Ia tercatat menjadi eksekutif pertama
sepanjang sejarah yang membawa BUMN Indonesia menjadi perusahaan multinasional.
Pria berusia 52 tahun itu berhasil membuat Semen
Indonesia menjadi perusahaan induk usaha semen nasional dengan operasi pabrik
terbesar di Asia Tenggara. Sebagai sebuah holding, Semen Indonesia
membawahi tidak BUMN pupuk lainnya yaitu Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen
Tonasa.
Di bawah kepemimpinan Dwi, PT Semen Indonesia sudah
membuka pabrik di negara Vietnam. Pria yang menguasai seni beladiri
karate dan pencak silat ini, mampu mensejajarkan perusahaan yang dipimpinnya
dengan BUMN besar seperti Pertamina dan PLN. Ayah empat anak ini juga sukses
membawa kapasitas produksi Semen Indonesia menjadi 26 juta ton per tahun,
mengalahkan kapasitas produksi Siam Cement yang sebesar 23 juta ton, yang
selama ini adalah raja semen Asia Tenggara.
Meski telah berhasil memimpin Semen Indonesia, Dwi
dinilai tetap tidak pantas mengomandoi Pertamina. Berbagai tudingan menyerang
Dwi, salah satunya dari Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (SPKP). Ketua
Umum SPKP Binsar Effendi Hutabarat menyebut latar belakang pendidikan Dwi tidak
cocok menjadi pemimpin Pertamina.
Soetjipto meraih gelar Doktor Bidang Ekonomi dari
UI, Magister Manajemen dari Universitas Andalas, dan Sarjana Teknik Kimia dari
ITS. Selain itu, Dwi juga berlatar belakang Akuntan seperti Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, dan Kepala Satuan Kerja Khusus
Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi.
Memang sedikit banyak ada pertanyaan yang menggelitik mengapa Jokowi tidak
memilih satu orangpun yang memiliki latar belakang migas untuk menduduki posisi
salah satu kursi tersebut. Apakah ingin memotong jalur mafia yang selama ini
ditengarai telah menguasai sektor migas nasional?
Kembali ke soal posisi direktur utama. Dipilihnya
Dwi Soetjipto menjadi bos baru Pertamina dinilai hanya akan menjadi bom waktu
kehancuran. Disaat Pertamina mematok target tinggi dalam produksi, Dwi yang
tidak kompoten justru diangkat. Pasalnya dibutuhkan sosok yang mengerti betul
terobosan-terobosan apa yang diperlukan untuk meningkatkan produksi.
Memang
diakui memang mungkin Soetjipto tidak memiliki latar belakang teknis. Meski
demikian publik berharap terobosan-terobosan dan keahlian managerial Sotjipto
akan membuat Pertamina menjadi one of the world's energy champion. Tentunya
dengan dibantu orang-orang teknis yang sudah barang tentu banyak bertebaran di
Pertamina. Selamat bekerja pak. Banyak pekerjaan rumah menantimu, termasuk
proposal pengelolaan Blok Mahakam pasca 2017.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar