Dalam
tiga bulan dari sekarang Pertamina akan menyampaikan proposal pengelolaan Blok
Mahakam. Saat ini perusahaan plat merah tersebut tengah membuka data room dan
melakukan study apa yang terbaik dilakukan dalam mengelola blok tersebut.
Akankah Pertamina akan mengelolanya sendirian atau tetap akan menggandeng
Total?
Masyarakat Indonesia dan juga tentunya
Total dan Inpex telah menanti kepastian status pengelolaan Mahakam sejak tahun
2008. Namun nyatanya pemerintahan di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
-di dua kali masa kepemimpinannya- gagal mengambil keputusan krusial tersebut.
Padahal keputusan cepat tersebut sangat penting karena menyangkut masa depan
produksi terkait dengan rencana investasi dan pengelolaan blok dalam jangka
panjang.
Lepas dari itu semua, mari kita lihat
bagaimana peran Mahakam dalam postur APBN kita. Pertama, bisa dilihat dari
kontribusi produksinya yang membantu pendapatan negara. Menurut Satuan Kerja
Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), satu-satunya kabar menggembirakan di
sektor migas saat ini -di tengah terus turunnya produksi minyak nasional-
adalah angka lifting gas bumi yang diperkirakan mencapai target.
Hingga akhir Oktober 2014 lifting gas
bumi nasional yang telah menyentuh angka 7,085 miliar British thermal unit per
hari (BBTUD) atau 99,8 persen dari target 7,099 BBTUD yang ditetapkan
dalam APBN-P tahun 2014. Kontribusi
lifting gas terbesar berasal dari lima kontraktor kontrak kerja sama
(Kontraktor KKS), yaitu Total E&P Indonesie, ConocoPhillips (Grissik) LTD,
PT Pertamina EP, BP Berau LTD, dan PetroChina International Jabung LTD. Kelila Kontraktor
KKS ini berkontribusi melebihi 75 persen dari total lifting gas.
Di tahun 2013 saja, pemerintah
setidaknya mendapatkan bagian sebesar Rp 45 trilliun dari Mahakam. Angka
tersebut jauh lebih besar ketimbang Total ataupun Inpex yang masing-masing
hanya sebesar Rp 15 triliun. Bagian pemerintah tahun ini memang mengalami
penurunan dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 63 triliun, seiring dengan makin
menurunannya produksi dari Mahakam dan biaya (cost) per barrel yang semakin
meningkat.
Mahakam mengalokasikan sekitar 35 persen
produksinya untuk domestik, seperti kebutuhan industri lokal dan rumah tangga
sekitar. Bahkan jumlah kontribusi Mahakam pada pemenuhan gas domestik pada
tahun 2019 diperkirakan akan meningkat, mencapai lebih dari 50 persen.
Saat
ini Mahakam memasok 3.960 rumah tangga di wilayah Bontang dengan volume gas
sejumlah 1.500 MMBTU per hari, terhitung sejak 28 Januari 2013 hingga 2017.
Pasokan tersebut dialirkan melalui PT Bontang Migas dan Energi (BME) yang
merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Kota Bontang.
Tak
hanya itu, selama ini Mahakam juga memasok gas produsen listrik swasta di
Bontang melalui PT Bontang Migas Energi serta Perusahaan Listrik Negara Kanaan.
Mahakam juga memasok gas bumi ke berbagai industri kimia, pupuk di Kaltim dan
Jawa –melalui fasilitas LNG terapung (floating storage and receiving unit)
milik PT Nusantara Regas- serta LPG domestik. Mahakam juga memenuhi pasokan gas
bumi bagi perusahaan listrik swasta (Independent Power Producer) untuk Bontang
dengan kapasitas enam megawatts.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa Total dan Inpex saat ini telah menjadi bagian
penting sebagai pemasok gas bumi untuk proyek pemerintah. Dan proyek gas bumi
untuk rumah tangga saat ini telah dilaksanakan di tujuh kota, dan Bontang
merupakan kota ke tujuh,. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan
nota kesepakatan antara Total E & P Indonesia dan Inpex Corporation dengan
Direktorat Jenderal Migas pada 6 April 2011 sebagai upaya untuk mengurangi
ketergantungan terhadap minyak bumi.
Selain untuk memenuhi kebutuhan domestik,
Mahakam juga memasok gas untuk PT Badak NGL yang mengelola kilang Bontang.
Mahakam memasok sekitar dua per tiga dari total kebutuhan PT Badak. Selanjutnya
gas yang telah diolah menjadi LNG tersebut akan dikirimkan ke sejumlah negara
yang terikat kontrak dengan Indonesia, seperti Jepang, Taiwan dan Korea
Selatan.
Akankah perpindahan operatorship akan
mengganggu keberlangsungan kontribusi Mahakam selama ini? Tentu saja potensi ke
arah itu sangat terbuka lebar. Bagaimanapun juga perpindahan operatorship
membutuhkan masa transisi, yang durasinya bisa mencapai 5-10 tahun. Tampaknya
akan sulit rasanya perpindahan operatorship tanpa masa transisi akan dapat berjalan
smooth dan tidak berpengaruh terhadap produksi. Makanya joint
operation bisa jadi merupakan solusi ideal yang dapat diambil
untuk mengatasi dilema masalah Blok Mahakam.
Kini keputusan tersebut ada di tangan Pertamina dan
pemerintah. Harapan rakyat tentu saja, keputusan yang diambil tidak hanya
berlandaskan ego sektoral, melainkan keberlangsungkan kontribusi Mahakam
terhadap keuangan negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar