Selasa, 16 Desember 2014

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah, Bayang-bayang Krisis Dan Pengaruhnya Terhadap Investasi

Pelemahan nilai tukar rupiah beberapa minggu belakangan ini sudah dalam tahap mengkhawatirkan.  Setelah melewati batas psikologis di level Rp 12.000 terhadap dollar AS, nilai tukar Rupiah melemah ke level 12.700an dan bahkan hampir mencapai angka Rp 13.000 pada Selasa (16/12/3014). Jelas, ini adalah angka terburuk sejak krisis moneter menghantam Indonesia pada tanun 1998. Apakah penyebabnya? Akankah krisis berulang? Lalu bagaimana pengaruhnya terhadap investasi di Indonesia?

Penguatan dolar itu membuat rupiah jatuh hingga ke titik terendahnya sejak Agustus 1998. Banyak spekulasi yang memperkirakan penyebab dari melorotnya mata uang Rupiah. Semuanya adalah kombinasi antara faktor intenal dan eksternal, domestik dan internasional. Ada pengamat yang mengatakan bahwa pelemahan rupiah terhadap dollar AS akibat perekonomian negeri Paman Sam mengalami perbaikan. Pemerintah di sana, mampu meningkatkan jumlah pekerja hingga lima persen. Atas dasar tersebut, maka dollar AS menguat dan berimbas pelemahan mata uang negara lain. Selain itu, hal tersbut juga sebagai imbas dari arah perekonomian global yang berbalik ke Amerika setelah penghentian kucuran stimulus The Fed.

Sementara pengamat lain menilai bahwa anjloknya nilai tukar rupiah disebabkan rendahnya confidence terhadap macro economic management pemerintahan Jokowi. Selain itu inflasi setelah kenaikan Harry bahan bakar minyak ternyata melampaui ekspektasi sehingga Rupiah terjun bebas.

Meski demikian Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih wajar. Pemerintah belum berencana mengintervensi tren pergerakan tersebut. Bahkan menurut Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Sofyan Djalil, cadangan devisa Indonesia yang saat ini US$ 111 miliar diperkirakan bisa habis jika Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi terhadap pelemahan rupiah atas dolar AS. Tentunya ini kontradiktif dengan keinginan pemerintah yang ingin melakukan penghematan, salah satunya dengan menaikkan harga BBM. 

Meski demikian Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar yang cukup besar untuk menjaga nilai tukar rupiah yang tertekan dalam 2 hari terakhir. Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI, mengatakan bank sentral sudah melakukan intervensi senilai Rp 1,7 triliun. Akibatnya, Rupiah ditutup di level sekitar Rp 12.600an pada 16 Desember 2013.

Akankah keadaan ini dapat menyebabkan krisis ekonomi kembali menghantam Indonesia? Banyak yang memperkirakan keadaan saat ini berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1998. Pasalnya dollar AS yang kuat akan berpengaruh positif pada neraca perdagangan Indonesia. Tren tersebut akan mengerem volume impor, sekaligus mendorong penerimanaan dari ekspor. Apalagi, pelemahan mata uang bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di negara lainnya.

Rusia dan Brazil, dua negara yang masuk kategori negara emerging market mengalami depresiasi kurs hingga 48% dan 12% sepanjang Januari hingga Desember ini. Di Asia, yen Jepang anjlok hingga 10%. Adapun kondisi rupiah masih lebih baik karena sepanjang tahun ini hanya mengalami pelemahan pada kisaran 5%.

Ekonom Bank Central Asia David Sumual mengatakan, posisi rupiah akan kembali stabil setelah ada kepastian waktu dan besaran kenaikan suku bung the Fed. Hal ini berbeda dengan kejadian tahun 1998, dimana masalah perekonomian dan politik nasional turut mendorong terjadinya krisis tersebut.

Lalu bagaimana kaitannya pelemahan rupiah terhadap investasi?  Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani meyakini pelemahan Rupiah tidak menggoyahkan minat investasi di Indonesia.

BKPM menilai rencana investasi yang akan datang masih akan sangat tinggi, mengingat minat para investor untuk menanamkan modal di Indonesia. Terlebih setelah pidato Presiden Joko Widodo dalam pertemuan APEC di Beijing, Tiongkok, beberapa waktu lalu. Para investor melihat pemerintah yang baru terpilih telah memberikan harapan baru terkait investasi. Hal itu ditunjukkan dengan komitmen pemerintah memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan sistem perizinan satu atap serta pengkajian masalah lahan. Beberapa sektor yang begitu diminati para investor di antaranya yakni infrastruktur dan industri padat karya.

Sementara di sektor minyak dan gas, kalaupun ada penundaan investasi, itu semata-mata karena harga minyak yang terus tergerus. Meski demikian pemerintah diminta tetap melakukan perbaikan iklim investasi migas agar investor tidak hengkang dari Indonesia. Apa saja perbaikan yang perlu dilakukan pemerintah?

Direktur Indonesian Petroleum Association Lukman Mahfoedz mengungkapkan bahwa kondisi saat ini sebaiknya digunakan pemerintah untuk memperbaiki prosedur investasi migas. Penyederhanaan proses harus dilakukan sambil menunggu perbaikan dan kenaikan harga minyak mentah ke posisi di US100/barrel. Pada saat itu investor diyakini akan kembali berbondong-bondong untuk berinvestasi.

Selain masalah perijininan, banyak pihak yang mengharapkan pemerintah dapat memberikan kepastian kepada investor terkait perpanjangan blok migas yang akan habis. Masalah Blok Mahakam misalnya, masalah ini sudah terlalu lama didiamkan dan untuk itu diharapkan pemerintah segera mengambil keputusan begitu Pertamina selesai mengajukan proposal pengembangannya. Yang harus diingat, Total dan Inpex telah berkomitmen untuk berinvestasi di blok tersebut sebesar US$ 7.3 miliar jika kontraknya diperpanjang. Angka ini sangat besar, apalagi ketika bisnis migas tidak semenarik dulu ketika harga minyak masih tinggi.

Mari kita nanti proposal Pertamina dan keputusan pemerintah. Semoga hasilnya dapat memberikan kemaslahatan bagi masyarakat melalui kepastian produksi yang tidak jeblok di blok tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar