Pelemahan nilai tukar rupiah beberapa
minggu belakangan ini sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Setelah melewati
batas psikologis di level Rp 12.000 terhadap dollar AS, nilai tukar Rupiah
melemah ke level 12.700an dan bahkan hampir mencapai angka Rp 13.000 pada
Selasa (16/12/3014). Jelas, ini adalah angka terburuk sejak krisis moneter
menghantam Indonesia pada tanun 1998. Apakah penyebabnya? Akankah krisis
berulang? Lalu bagaimana pengaruhnya terhadap investasi di Indonesia?
Penguatan dolar itu membuat rupiah jatuh
hingga ke titik terendahnya sejak Agustus 1998. Banyak spekulasi yang
memperkirakan penyebab dari melorotnya mata uang Rupiah. Semuanya adalah
kombinasi antara faktor intenal dan eksternal, domestik dan internasional. Ada
pengamat yang mengatakan bahwa pelemahan rupiah terhadap dollar AS akibat
perekonomian negeri Paman Sam mengalami perbaikan. Pemerintah di sana, mampu
meningkatkan jumlah pekerja hingga lima persen. Atas dasar tersebut, maka
dollar AS menguat dan berimbas pelemahan mata uang negara lain. Selain itu, hal
tersbut juga sebagai imbas dari arah perekonomian global yang berbalik ke
Amerika setelah penghentian kucuran stimulus The Fed.
Sementara pengamat lain menilai bahwa
anjloknya nilai tukar rupiah disebabkan rendahnya confidence terhadap macro economic management pemerintahan
Jokowi. Selain itu inflasi setelah kenaikan Harry bahan bakar minyak ternyata
melampaui ekspektasi sehingga Rupiah terjun bebas.
Meski demikian Wakil Presiden Jusuf
Kalla menilai tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih wajar.
Pemerintah belum berencana mengintervensi tren pergerakan tersebut. Bahkan
menurut Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Sofyan Djalil, cadangan devisa
Indonesia yang saat ini US$ 111 miliar diperkirakan bisa habis jika Bank
Indonesia (BI) melakukan intervensi terhadap pelemahan rupiah atas dolar AS.
Tentunya ini kontradiktif dengan keinginan pemerintah yang ingin melakukan
penghematan, salah satunya dengan menaikkan harga BBM.
Meski demikian Bank
Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar yang cukup besar untuk menjaga nilai
tukar rupiah yang tertekan dalam 2 hari terakhir. Perry Warjiyo, Deputi
Gubernur BI, mengatakan bank sentral sudah melakukan intervensi senilai Rp 1,7
triliun. Akibatnya, Rupiah ditutup di level sekitar Rp
12.600an pada 16 Desember 2013.
Akankah keadaan ini dapat menyebabkan
krisis ekonomi kembali menghantam Indonesia? Banyak yang memperkirakan keadaan
saat ini berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1998. Pasalnya dollar AS yang
kuat akan berpengaruh positif pada neraca perdagangan Indonesia. Tren tersebut
akan mengerem volume impor, sekaligus mendorong penerimanaan dari ekspor.
Apalagi, pelemahan mata uang bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga
di negara lainnya.
Rusia dan Brazil, dua negara yang masuk kategori
negara emerging market mengalami depresiasi kurs hingga 48% dan 12%
sepanjang Januari hingga Desember ini. Di Asia, yen Jepang anjlok hingga
10%. Adapun kondisi rupiah masih lebih baik karena sepanjang tahun ini hanya
mengalami pelemahan pada kisaran 5%.
Ekonom Bank Central Asia David Sumual mengatakan,
posisi rupiah akan kembali stabil setelah ada kepastian waktu dan besaran
kenaikan suku bung the Fed. Hal ini berbeda dengan kejadian tahun 1998,
dimana masalah perekonomian dan politik nasional turut mendorong terjadinya
krisis tersebut.
Lalu bagaimana kaitannya pelemahan
rupiah terhadap investasi? Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani meyakini pelemahan Rupiah tidak
menggoyahkan minat investasi di Indonesia.
BKPM menilai rencana investasi yang akan
datang masih akan sangat tinggi, mengingat minat para investor untuk menanamkan
modal di Indonesia. Terlebih setelah pidato Presiden Joko Widodo dalam
pertemuan APEC di Beijing, Tiongkok, beberapa waktu lalu. Para investor melihat
pemerintah yang baru terpilih telah memberikan harapan baru terkait investasi.
Hal itu ditunjukkan dengan komitmen pemerintah memperbaiki iklim investasi
melalui penyederhanaan sistem perizinan satu atap serta pengkajian masalah
lahan. Beberapa sektor yang begitu diminati para investor di antaranya yakni
infrastruktur dan industri padat karya.
Sementara di sektor minyak dan gas,
kalaupun ada penundaan investasi, itu semata-mata karena harga minyak yang
terus tergerus. Meski demikian pemerintah diminta tetap melakukan perbaikan
iklim investasi migas agar investor tidak hengkang dari Indonesia. Apa saja
perbaikan yang perlu dilakukan pemerintah?
Direktur Indonesian Petroleum Association
Lukman Mahfoedz mengungkapkan bahwa kondisi saat ini sebaiknya digunakan
pemerintah untuk memperbaiki prosedur investasi migas. Penyederhanaan proses
harus dilakukan sambil menunggu perbaikan dan kenaikan harga minyak mentah ke
posisi di US100/barrel. Pada saat itu investor diyakini akan kembali berbondong-bondong
untuk berinvestasi.
Selain masalah perijininan, banyak pihak
yang mengharapkan pemerintah dapat memberikan kepastian kepada investor terkait
perpanjangan blok migas yang akan habis. Masalah Blok Mahakam misalnya, masalah
ini sudah terlalu lama didiamkan dan untuk itu diharapkan pemerintah segera
mengambil keputusan begitu Pertamina selesai mengajukan proposal pengembangannya.
Yang harus diingat, Total dan Inpex telah berkomitmen untuk berinvestasi di
blok tersebut sebesar US$ 7.3 miliar jika kontraknya diperpanjang. Angka ini
sangat besar, apalagi ketika bisnis migas tidak semenarik dulu ketika harga
minyak masih tinggi.
Mari kita nanti proposal Pertamina dan
keputusan pemerintah. Semoga hasilnya dapat memberikan kemaslahatan bagi
masyarakat melalui kepastian produksi yang tidak jeblok di blok tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar