Jika tidak ada aral melintang, pada medio April ini
masalah Mahakam akan selesai. Pada bulan ini diharapkan Pertamina dan Total
mencapai kesepakatan mengenai masa transisi dan juga rencana pengembangan
Mahakam pasca 2017.
Masalah transisi ini memang akan dituangkan dalam Heads of Agreements antara kedua belah
pihak. Hingga saat ini pembahasannya tengah berlangsung. Masalah berapa besar
saham Total di Mahakam nanti bisa menjadi salah satu bargaining power bagi
Total untuk menentukan masa transisi. Maklum saja, klausul
mengenai masa transisi ini tidak ada dalam kontrak Total E&P Indonesia dan
Inpex Corporation dengan pemerintah.
Pertamina sendiri telah menyiapkan opsi untuk menggandeng
Total E&P Indonesie dalam mengelola blok di delta Sungai Mahakam tersebut.
Syaratnya, Total memberikan masa transisi sebelum kontrak pengelolaan berakhir
pada 2017. Kemudian setelah 2017, Total akan turut menjadi operator. Namun
sampai saat ini, belum ada pembicaraan mengenai berapa persen saham yang akan
didapatkan Total setelah kontrak berakhir.
Memang tidak bisa tidak, Total harus diikutsertakan
dalam pengelolaan Mahakam pasca 2017. Hal itu telah diutarakan pemerintah
berulangkali. Mengelola Mahakam memang tidak mudah karena
usianya yang sudah tidak lagi muda sehingga investasipun secara otomatis akan
meningkat. Jadi mau tidak mau, Total tetap harus dilibatkan pasca 2017.
Perusahaan plat merah Indonesia akan mendapatkan teknologi terbaru dan etos
kerja dari Total yang berguna ketika melakukan ekspansi ke luar negeri. Dan
lagi, yang tak dapat dihindari adalah pentingnya Total untuk menunjang
operasional Mahakam. Dengan modal sebesar US$ 2,5 miliar per tahun tentunya
akan sulit bagi Pertamina untuk mengelola Mahakam sendirian.
Pemerintah memang menginginkan agar
setidaknya Pertamina menjadi pemilik saham mayoritas di tahun 2018, meski
bagaimanapun Total harus diikutsertakan. Memang di atas kertas Pertamina merasa
mampu untuk mengelola Mahakam, meski harus diakui tampaknya perusahaan plat merah
itu kemungkinan bisa kesandung masalah dana karena keterbatasan kemampuan.
Pertamina, menurut ESDM, bersedia menginvestasikan dana sebesar US$ 25,2 miliar
selama 20 tahun di Mahakam. Jika dibagi 20 tahun, maka hanya ada dana sekitar
US$ 1,26 miliar yang diinjeksikan untuk Mahakam.
Percayalah, kolaborasi Pertamina dan Total masih
merupakan opsi yang terbaik dalam pengelolaan Mahakam. Toh jalan ini diambil
demi keuntungan negara ini pula. Dan kini, April hampir habis. Kita berharap
masalah ini segera diputuskan demi terjaganya level produksi Mahakam di masa
mendatang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar