Kendati kontrak PT Total E&P Indonesie di
Blok Mahakam akan berakhir pada akhir 2017, namun perusahaan minyak asal
Perancis itu tetap akan menanamkan investasi di Blok Mahakam dalam beberapa
tahun ke depan. Langkah tersebut penting untuk tetap mempertahankan produksi di
blok tersebut.
Kesinambungan suatu produksi memang tak lepas
dari komitmen investasi suatu perusahaan. Apalagi untuk blok tua seperti
Mahakam yang membutuhkan kegiatan eksplorasi dan pengembangan lebih jauh untuk
menjaga produksi tidak turun. Nah ini lah yang akan dilakukan Total dalam
menjaga produksi Mahakam. Memang harus diakui, dibutuhkan jiwa besar untuk
tetap terus melakukan investasi di tengah ketidakpastian mengenai perpanjangan
kontrak di Mahakam.
Total tidak mengurangi besaran investasi di Blok
Mahakam. Pada tahun ini, nilai investasi Total mencapai US$ 2,4 miliar. Angka
ini sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan yang ditetapkan
pemerintah melalui SKK Migas. Menurut Hardy investasi tersebut tidak akan
dikurangi untuk menjaga tingkat produksi Blok Mahakam. Apalagi masih ada
kontrak penjualan gas ke Jepang sampai 2022.
“POD (plan of development) yang sudah disetujui
kita hormati, harus diikuti secara profesional. Karena kalau POD sudah
disetujui SKK Migas kita harus jalankan,” kata dia.
Keseriusan Total ini sebelumnya juga pernah
ditunjukan pada tahun lalu dengan tetap melakukan
pengembangan-pengembangan untuk menjaga level produksi. Proyek Sisi Nubi Fase
2B yang menelan investasi sebesar US$ 739 juta adalah salah satu contoh
pengembangannya. Proyek yang bagian dari proyek MP3EI yang telah dicanangkan
sejak beberapa waktu lalu secara resmi diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
pada 15 September 2014.
Dalam pengembangan proyek Sisi-Nubi Fase 2,
Total akan menambah 35 sumur dan menelan biaya US$1.033 miliar, dimana US$ 739
juta dialokasikan untuk Fase 2B. Suatu angka fantastis meski di tengah
ketidakjelasan nasibnya dalam pengelolaan blok tersebut.
Memang Mahakam adalah pemasok gas terbesar,
yaitu sebesar 80 persen bagi kilang LNG Bontang di Kalimantan Timur. Kilang itu
sendiri sebagian besar diperuntukan ekspor ke negara-negara Asia, seperti
Jepang, Taiwan dan Korea Selatan. Jika saja produksi Mahakam turun, maka sudah
pasti penerimaan negara juga akan anjlok. Dan bukan tak mungkin Indonesia harus
menelan pil pahit, dari mulai kemungkinan membayar penalti dan juga dibawa ke
arbitrase internasional.
Nah, keseriusan Total memang sudah tampak
jelas. Duet Pertamina dan Total dalam mengelola Mahakam pasca 2017 bisa jadi
merupakan solusi terbaik. Itu adalah win-win
solution yang membawa kebaikan bagi negara ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar