![]() |
| merdeka.com |
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik
mengaku mendapatkan tekanan dari perusahaan asing dalam mengambil keputusan
strategis terkait Blok Mahakam. Pemerintah sendiri menegaskan bahwa pihaknya masih
terus menggodok nasib blok tersebut. Bukan tak mungkin jika masalah ini juga
akan dibahas bersama calon pemerintah yang baru agar dapat segera diputuskan.
Namun demikian, benarkah ada desakan asing terkait kasus Mahakam?
Masalah perpanjangan kasus Mahakam ini dimulai
sejak tahun 2008. Saat itu kontraktor Mahakam, perusahaan asal Perancis dan
partnernya perusahaan asal Jepang, Inpex mengajukan perpanjangan Blok Mahakam
yang akan habis tahun 2017. Ketika itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
masih dipegang oleh Purnomo Yusgiantoro. Tahun berganti tahun, keputusan
masalah Blok Mahakam belum juga putus, bahkan ketika MESDM sudah berada di
tangan Darwin Zahedi Saleh dan juga Jero Wacik yang dilantik pada Oktober 2011.
Namun nyatanya hingga kini keputusan itu tak kunjung datang.
Total telah menyampaikan proposal terbarunya pada
tahun lalu. Demikian pula Pertamina. Perusahaan merah itu juga telah menyatakan
minatnya kepada pemerintah untuk ikut mengelola Blok Mahakam pasca 2017. Namun
pemerintah bergeming.
Bahkan beberapa saat yang lalu, Jero Wacik sempat
mencetuskan ungkapan keraguan pemerintah untuk memutuskan
kasus Mahakam. Pemerintah, kata Wacik kala itu, masih berpikir apakah akan
memberikan keputusan mengenai perpanjangan kontrak Blok Mahakam saat ini atau
menunggu pemerintahan baru. Apalagi blok tersebut masa kontraknya baru akan
habis tahun 2017.
Selain itu juga ada etika tertentu dalam pengambilan keputusan ketika masa jabatan hampir habis karena dapat diartikan negatif. Pertimbangan lainnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meminta jajarannya tidak mengambil keputusan strategis di akhir masa jabatan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini.
Blok Mahakam ini sangat signifkan dalam menyokong
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui pajak dan revenue dari
hasil jual beli gas dan LNG. Wajar saja jika banyak pihak yang mendesak
pemerintah untuk segera memberi keputusan. Pasalnya makin lama nasib Mahakam
ditentukan pemerintah, maka dapat berpengaruh pada produksinya. Mengapa?
Jika saja pemerintah memutuskan sekarang, maka
siapapun kontraktor yang dipilih akan dapat melakukan perencanaan investasi
jangka panjang. Mahakam adalah blok tua yang membutuhkan investasi besar. Total
dan Inpex harus menggelontorkan dana sebesar $2,5 miliar per tahun demi menjaga
produksi Mahakam tidak melorot. Tanpa kegiatan apapun, laju penurunan blok
tersebut bisa mencapai 50 persen per tahun.
Total dan Inpex tersebut juga sudah komit
untuk menginvestasikan US$ 7,3 miliar hingga 2017 jika pemerintah memutuskan
untuk memperpanjangan Blok Mahakam. Makanya dibutuhkan
kepastian mengenai perpanjangan kontrak pasca 2017 demi menjaga agar laju
penurunan produksi tidak semakin parah. Dan yang pasti, harap diingat: gas
tidak lah sama dengan minyak. Sumur minyak relatif lebih mudah untuk
dibuka-tutup, beda halnya dengan sumur gas.
Melihat kondisi ini, banyak pihak yang mendesak
pemerintah untuk segera memberi keputusan. Bukan apa-apa, desakan itu toh demi
kemaslahatan negara merah putih juga. Tak hanya sejumlah lembaga swadaya
masyarakat, lembaga kajian, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, bahkan Indonesia
Petroleum Association (IPA) juga mendorong pemerintah untuk cepat menentukan
keputusan perpanjangan blok Mahakam. Melihat realitas ini, jika dkatakan asing
menekan pihak pemerintah untuk putuskan Mahakam, kok rasanya ungkapan ini agak
berlebihan alias lebay.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo
Siswoutomo menegaskan bahwa perpanjangan Blok Mahakam baru bisa diputuskan jika
Peraturan Menteri ESDM keluar pada tahun ini. Pemerintah berusaha keras agar
permen tersebut bisa dikeluarkan sebelum masa pemerintahan SBY berakhir pada
Oktober nanti. Nah, permen itu lah yang akan dijadikan landasan bagi siapapun
presidennya kelak, untuk memutuskan pihak yang berhak mengelola suatu blok jika
kontraknya habis.
Apapun keputusan pemerintah nanti, setidaknya
dibutuhkan tiga modal utama dalam pengelolaan industri migas, yakni padat
modal, padat sumber karya (sumber daya manusia) dan pada teknologi. Kesemuanya
dimiliki Total yang sudah pasti berpengalaman dalam mengelola Mahakam. Namun
jika memperpanjang Mahakam tanpa memberikan ruang kepada Pertamina juga
mustahil. Bagaimanapun Pertamina sebagai BUMN harus menjadi tuan rumah di
negeri sendiri.
Untuk itu perpaduan Pertamina dan Total dalam
perpanjangan Blok Mahakam adalah win-sin solution yang sangat manis. Pertamina
misalnya, dapat belajar mengelola blok tersebut bersama dengan Total di masa
transisi lima tahun pertama. Total telah berjanji untuk mentransfer teknologi
pada Pertamina di masa perpanjangan nanti. Setelah lima tahun nanti diharapkan
Pertamina dapat memiliki pengalaman untuk dapat mengelola blok itu, baik
sendiri maupun berpartner dengan Total. Dengan demikian tidak akan ada pihak
yang merasa dirugikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar