Mafia di Indonesia telah menggurita. Tak hanya ada
di komoditas minyak saja, tapi juga ada di komoditas lain, seperti misalnya
mafia bibit, mafia sapi/daging sapi, mafia gula dan bahkan mafia haji. Nah,
meski telah menjadi rahasia umum, namun urusan mafia kembali muncul setelah
dalam debat calon waki presiden pekan lalu Jusuf Kalla berulang kali
menyebut-menyebut keberadaan mafia.
Keberadaan mafia memang tak bisa dihinidari selagi
Indonesia masih bergantung pada impor. Mereka adalah sosok-sosok orang bergerak
mencari keuntungan dalam wadah kegiatan usaha impor. Dalam menjalankan
usahanya, mereka menempuh segala cara untuk mendapatkan keuntungan materi
termasuk bekerjasama dengan birokrat yang membuat kebijakan.
Tentu kita masih ingat bagaimana masalah mafia kartel
daging terungkap beberapa saat lalu. Modus-modus dari mafia kartel daging sapi
impor yang membuat daging sapi ini lah yang menjadikan harga daging sapi mahal.
Lalu bagaimana dengan mafia minyak? Sudah menjadi rahasia
umum pula bahwa ada mafia minyak yang bergerak di Indonesia. Makanya tak heran
jika rencana pembangunan kilang minyak
di Indonesia senantiasa batal karena demi melanggengkan bisnis impor mereka. Mafia minyak ini bermaksud untuk melanggengkan importasi minyak.
Hal ini tak lepas dari semakin meningkatknya konsumsi BBM Indonesia setiap
tahun. Meski demikian sulit untuk membuktikan keberadaan mafia BBM di
Indonesia. Baru-baru ini ekonom Senior
Emil Salim dan juga pengamat ekonomi Faisal Basri membenarkan adanya mafia
minyak yang menguasai sektor migas Indonesia.
Urusan pembangunan kilang
memang sangat alot di Indonesia. Pembangunan kilang terakhir dilakukan pada
tahun1994 ketika Presiden Suharto meresmikan proyek kilang Balongan sebesar
125.000 barrel per hari. Sejak itu Indonesia tidak lagi memiliki kilang baru
lagi, sementara konsumsi BBM terus meningkat sebesar sembilan persen per tahun,
namun tidak dibarengi dengan tingkat supply yang memadai.
Memang tidak bsa dipungkiri,
secara kasat mata selama ini permasalahan kilang bermuara dari pemerintah
sendiri. Kementrian Keuangan dinilai sangat rigid, enggan memberikan insentif
bagi pembangunan kilang. Tapi sejumlah pihak menengarai adanya mafia inilah yang
menjegal pembangunan kilang minyak terealisasi.
Sudah menjadi rahasia umum pula
bahwa proyek pembangunan kilang itu memiliki margin yang sedikit, tanpa adanya
sweetener atau gula-gula ataupun insentif dari pemerintah, maka mustahil proyek
itu bisa berjalan. Hal ini bisa terlihat dari mundurnya Saudi Aramco dan Kuwait
Petroleum dalam proyek pembangunan kilang di Indonesia. Insentif yang diajukan
kedua perusahaan itu ditolak mentah-mentah oleh Kementrian Keuangan karena
dianggap berlebihan.
Padahal tanpa insentif
tersebut, maka mustahil investor dapat mengantongi profit. Dan lagi apalah
artinya incentif ketimbang Indonesia harus bergantung impor seumur hidup. Tapi
kenyataannya, pemerintah lebih sering melihat sesuatu dari perspektif jangka
pendek ketimbang jangka panjang. Inilah celakanya!
Pemerintah saat ini tengah
mengais-ais investor untuk membantu membangun kilang di dalam negeri untuk
memenuhi kebutuhan domestik. Bagaimanapun langkah ini masih lebih murah
ketimbang melakukan impor. Beberapa bulan lalu pemerintah melakukan road show
ke Singapura untuk mencari investor tersebut.
Dalam pertemuan di Singapura
itu pemerintah berjanji untuk menyediakan lahan kosong seluas 700 meter di
Bontang, Kalimantan Timur. Sengaja dipilih di lokasi tersebut karena wilayah
tersebut sudah memilik infrastruktur yang baik. Pemerintah juga berjanji
memberikan insentif pajak selama tidak bertentangan dengan undang-undang.
Setidaknya pertemuan awal
tersebut berhasil menjaring enam investor yang menyatakan tertarik. Investor
yang tertarik itu berasal dari Jepang dan Inggris.
Selain itu, perusahaan swasta
Kreasindo Resources Indonesia juga telah mendapatkan komitmen dari perusahaan
asal Iran Nakhle Barani Pardis. Keduanya akan membangun kilang sebesar 150.000
barrel per hari. NBP berkomitmen untuk memasok minyak jenis berat sebesar
20.000 hingga 300.000 barel minyak mentah per hari. Kilang tersebut diharapkan
mulai dibangun tahun 2015 dan diperkirakan 2018 sudah bisa beroperasi. Lokasi
kilangnya antara di Banten atau Jawa Barat. Nilai investasi mencapai US$3
miliar.
Kini keduanya masih abu-abu
kemajuannya. Tapi tentunya dengan adanya pemerintah baru, siapapun pasangan capres
dan cawapres yang terpilih nanti, hendaknya serius memberantas mafia dalam
segala bidang. Mekanisme keran impor juga
harus diperbaiki, agar celah-celah yang berpotensi menimbulkan kebocoran dan
mafia bisa dicegah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar