![]() |
| sindonews |
Kemacetan tak normal di ibukota terjadi sekitar
seminggu menjelang Lebaran. Perjalanan menjadi 2 kali lebih lama daripada
biasanya. Bahkan kendaraan motor pun terpaksa harus berhenti. Meski demikian
diperkirakan kemacetan itu akan terurai ketika libur Lebaran tiba, dimana
sebagian besar warga ibukota akan mudik ke kampung halamannnya masing-masing.
Nyatanya tidak. Kemacetan yang tidak normal itu
masih terus membayangi. Bisa dibayangkan, jarak tempuh Jakarta ke Bekasi yang
biasanya hanya sekitar satu jam mendadak menjadi dua jam lebih ketika libur
lebaran. Seluruh sudut perkotaan menjadi macet.
Yang menjadi pertanyaan, bukankah sudah sebagian
besar warga Jakarta mudik? Apalagi di sejumlah pemberitaan dan juga di sosial
media menggambarkan keluh kesah hampir seluruh masyarakat atas kemacetan yang
menggila. Bayangkan saja perjalanan menuju kawasan wisata Puncak dari Jakarta
yang biasanya maksimal 3 jam kini bisa menjadi 12 jam. Demikian juga perjalanan
ke Bandung, yang biasanya 3-4 jam bisa menjadi 7-8 jam.
Beda lagi dengan perjalanan ke luar kota.
Jakarta-Jogja yang hanya 10 jam bisa menjadi 31 jam. Jakarta-Blora yang
biasanya 13 jam menjadi 41 jam. Lalu yang menjadi pertanyaan, berapakah
sesungguhnya warga Jakarta, sehingga seluruh akses dari dan ke akan Jakarta
menjadi macet total? Padahal banyak pula warga Jakarta yang mudik menggunakan
jasa kereta api.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) misalnya mencatat sejak
6 tahun lalu, jumlah penumpang yang menggunakan jasa angkutan kereta api naik
tajam. Terjadi lonjakan pengguna kereta api sekitar 59% bila dibandingkan tahun
ini dengan 2008. Jumlah angkutan Lebaran dengan kereta api tahun ini naik 17%
dibandingkan tahun lalu. Rinciannya untuk 2014 mencapai 2.568.574 orang,
sedangkan 2013 hanya 2.190.483 orang.
![]() |
| tempo |
Sebagai contoh, data yang dikeluarkan oleh
Posko Dishub menyebutkan, total jumlah kendaraan yang melintas di titik macet
jalur Nagrek pada H-3 lebaran 2014 mencapai 108.198 kendaraan. Jumlah tersebut
sudah melebihi jumlah total kendaraan pada puncak arus mudik pada H-2 tahun
2013 yaitu 105.112 kendaraan.
Jika kemacetan terus terjadi, sementara kebijakan
subsidi BBM masih terus digelontorkan, lalu berapakah uang subsidi yang hanya
habis akibat macet? Bukankah akan lebih baik jika uang itu dialokasikan untuk
pendidikan dan pembangunan infrastruktur yang sifatnya lebih long lasting
ketimbang dalam bentuk subsidi BBM yang habis terbakar sekejab tanpa sisa?
Lalu apakah yang harus dilakukan pemerintah baru
untuk mengatasi kemacetan. Ada sejumlah hal:
1. Memperbaiki seluruh moda transportasi agar
mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi publik.
2. Memperbaiki dan memperbesar jalan-jalan utama
agar tidak terjadi kemacetan
3. Melakukan moratorium impor kendaraan bermotor untuk
beberapa tahun ke depan dan meninjau ulang jika dibutuhkan
4. Melakukan pembatasan tahun kendaraan
5. Menaikkan pajak kendaraan
6. Menaikkan harga BBM bersubsidi
Tanpa adanya tindakan yang luar biasa, jangan harap
simpul-simpul kemacetan di seluruh Indonesia, khususnya di ibukota, bisa
terurai.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar