Kamis, 31 Oktober 2013

Dahlan Iskan, Sosok Kontroversial di Indonesia

www.republika.co.id
Dahlan Iskan atau cukup dikenal dengan inisial DI merupakan sosok yang sangat kontroversial di Indonesia. Bermula dari sepak terjangnya di dunia media, Jawa Pos Group, karirnya melaju cepat menjadi Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam kurun waktu Desember 2009 hingga Oktober 2011. Sepak terjangnya ternyata menarik perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga sejak 2011, Dahlan Iskan didapuk menjadi Menteri Negara BUMN.

Sosok Dahlan yang easy going, tidak terpaku pada urusan birokrasi, terkesan merakyat sehingga tampak ada batasan antara pejabat dan rakyat, segera berhasil merebut hati masyarakat Indonesia. Masih ingat dalam ingatan kita, Dahlan lebih memilih untuk naik Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi AC Commuter Line jurusan Jakarta-Bogor dari Stasiun Manggarai pada Desember 2011 untuk menghadiri Sidang Kabinet di Istana Bogor. Malahan sesampainya di Stasiun Bogor, Dahlan masih sempat menyantap soto di salah satu warung dekat area tersebut. Setelah itu ia memilih naik ojek untuk mencapai istana, meski pada akhirnya harus berurusan dengan Paspamres. Sepak terjangnya yang tanpa batasan itulah akhirnya berhasil meraih hati rakyat. Bahkan bermunculan spekulasi bahwa Dahlan akan menjadi kandidat kuat dalam bursa pemilihan presiden tahun 2014.

Tak hanya itu, pernyataan-pernyataan dan buah pikiran Dahlan sering kali nyeleneh atau kontroversial. Misalnya saja idenya untuk membubarkan anak perusahaan Pertamina yang berbasis di Singapura, Petral. Ide ini jelas membuat Pertamina kebakaran jenggot. Dalam beberapa bulan, pro dan kontra, tarik otot dan silang pendapat mengenai ide tersebut mewarnai sejumlah media di ibukota. Dan akhirnya..ide hanya tinggal ide. Pembubaran batal dilakukan dan Petral tetap menjalankan bisnisnya seperti sedia kala.

Ide kontroversial lainnya bisa ditilik dari kasus mobil listrik yang digadang-gadang Dahlan menjadi mobil nasional. Untuk merealisasikan idenya, bahkan Dahlan sampai mengunjungi pabrik mobil listrik Tesla di Seattle, Amerika Serikat. Dahlan yakin, bahwa proyek mobil nasional bisa moncer, meski sejumlah pengamat mengatakan mobil jenis tersebut sulit dipasarkan di Indonesia karena dua kendala. Kendala pertama masalah baterai, teknologi baterai saat ini maksimal hanya dapat menempuh jarak 100 km. Kendala utama yang kedua yakni infrastruktur pengisian mobil listrik masih sangat minim. Dan seperti halnya Petral, ide hanya tinggal ide. Ide tersebut hilang bak ditiup angin.

Baru-baru ini Dahlan lagi-lagi mengeluarkan statement yang kontroversial mengenai Blok Mahakam. Menurutnya ia siap pasang badan untuk memperjuangkan Pertamina mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam pasca kontrak saat ini berakhir tahun 2017. Pertamina diyakini siap dari sisi keuangan dan teknis untuk mengakuisisi blok yang
 berlokasi di Kalimantan Timur tersebut.

Dahlan bersandar pada pengalaman Pertamina mengelola West Madura Offshore (WMO). Terbukti setelah WMO diambil alih dari Kodeco kinerja operasional blok itu
 meningkat dari 10.000 barel per hari menjadi 30.000 barel per hari.

Benarkah Dahlan? Dahlan mungkin lupa, dunia minyak dan gas adalah sesuatu yang lain dari yang lain. Perkiraan dan realisasi bisa jadi berbanding terbaik. Segala sesuatunya serba tidak bisa diperkirakan alias unpredictable. Demikian juga kasus Mahakam. Blok yang letaknya di lepas pantai ini, memiliki karakteristik sendiri. Tidak semua perusahaan bisa menyedot gas dari dalam perut Mahakam. Sebelumnya Mahakam ini dimiliki 100 persen oleh Inpex, namun akhirnya Total masuk ke blok tersebut dengan mengantongi 50 persen saham. Alhasil, baru di tangan Total lah, Mahakam berhasil berproduksi.

Lalu bagaimana hasilnya jika Pertamina mengambilalih 100 saham di Mahakam? Ceritanya pasti lain. Mahakam tidak bisa disamakan dengan Blok WMO. Karakteristik keduanya sangat berbeda. Keberhasilan Pertamina di WMO bukan jaminan perusahaan tersebut dapat menorehkan keberhasilan pula di Mahakam.

Laju penurunan Blok Mahakam sangatlah tinggi, sekitar 50 persen per tahun.  Pada tahun ini Mahakam diperkirakan memproduksi 1,7 miliar kaki kubik gas per hari. Angka ini jauh menurun dibandingkan produksi-produksi tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 2,6 miliar kaki kubik per hari.

Dibutuhkan teknologi dan Sumber Daya Manusia yang berpengalaman untuk dapat menahan laju penurunan tersebut. Selain itu dibutuhkan dana yang juga tidak sedikit. Mungkin saja Pertamina sanggup berinvestasi di Mahakam, namun tentunya sumber dana perusahaan itu hanya akan tersedot ke blok itu saja. Ruang gerak Pertamina untuk melakukan ekspansi-ekspansi bisnis di luar negeri akan terkendala. Pengembangan Blok East Natuna juga bisa jadi tidak lancar. Dengan demikian rencana Pertamina untuk menjadi World Class Energy Company di tahun 2025 akan terganggu.

Total dan Inpex telah mengajukan proposal ke pemerintah mengenai scenario perpanjangan blok. Disebutkan, keduanya berkomitmen untuk menanamkan  investasi sebesar $7,3 miliar hingga 2017. Investasi tersebut sangat vital demi mempertahankan level produksi agar tidak melorot tajam. Diperkirakan laju produksi Mahakam mencapai 1,1 miliar kaki kubik per hari pada tahun 2017 dengan berbagai kegiatan pengembangan yang membutuhkan dana besar. Namun tanpa aktivitas pengembangan lapangan apa pun, maka produksi gas Mahakam akan jeblok ke level 800.000 kaki kubik per hari.

Total dan Inpex juga menyodorkan scenario masa transisi pada lima tahun pertama pasca 2017, dimana Pertamina dapat masuk ke dalam konsorsium ini. Total pun berjanji untuk mengajarkan alih teknologi kepada Pertamina. Agaknya proposal ini adalah bentuk yang ideal dalam menjawab kisruh kasus Mahakam.

 Kita harus melihat secara jernih dan proporsional. Jangan sampai Mahakam menjadi bulan-bulanan Dahlan untuk mendapatkan suara menjelang Pilpres 2014.




1 komentar:

  1. Saya pada suatu saat begitu polos dan bodoh percaya bahwa Menteri BUMN Dahlan Iskan akan menjadi Presiden Indonesia berikutnya. Persepsi itu tertanam dalam benak saya hingga ketika dia mengendarai prototipe mobil listri yang belum terdaftar senilai US$300,000 di kawasan pegunungan Jawa Timur. Dia kemudian mendukung ide dikembangkannya perkebunan ganja oleh perusahaan BUMN, setelah seorang doktor memberitahu dia manfaat bagi kesehatan daun ganja, yang tergolong ilegal itu. Dan sekarang dia mengusulkan agar Pertamina mengoperasikan Blok Mahakam. Dia telah merokok apa ya??? Pertamina telah menjadi perusahaan yang profesional dibawah Karen Agustiawan, tapi masih kurang dalam kemampuan teknologi, keahlian dan kapital yang dibutuhkan untuk berinvestasi dan mengembangkan sebuah blok yang sudah tua. Jangan dibodohoi oleh para elit yang bersembunyi dibalik nasionalisme buta—keputusan untuk menyerahkan blok yang sangat strategis ke Pertamina akan berdampak pada kegagalan, yang akan berujung pada menurunnya produksi minyak dan gas bumi nasional, yang tentu berujung berdampak negatif bagi negara dan rakyat. Total telah meminta perpanjangan kontrak lima tahun, dimana pada periode itu perusahaan itu akan bekerjasama dengan Pertamina dan melakukan transfer teknologi. Ini merupakan solusi terbaik dan solusi win-win bagi Pertamina dan Indonesia.

    BalasHapus